Sukses

Gmail Kini Terintegrasi dengan Layanan Chat, Spaces, dan Meet

Liputan6.com, Jakarta - Google telah mengubah tampilan Gmail untuk seluruh pengguna. Lewat perubahan tampilan ini layanan Google lain, seperti Chat, Spaces, dan Meet kini langsung terintegrasi dengan Gmail.

Mengutip informasi dari Android Authority, Jumat (29/7/2022), desain Gmail yang baru ini sebelumnya sudah diperkenalkan beberapa bulan lalu. Jadi, Chat, Spaces, dan Meet kini bisa langsung diakses melalui menu di sebelah kiri.

"Untuk membantu orang tetap terhubung, kami membawa Gmail, Chat, Space, dan Meet dalam satu tampilan terpadu," tulis Google dalam blog-nya.

Oleh sebab itu, adanya perubahan ini membuat pengguna tidak perlu berganti aplikasi lain untuk mengakses tiga layanan lainnya.

Meski ada perubahan, pengguna tetap bisa melakukan kustomisasi bagian tersebut dan menyingkirkan aplikasi yang tidak ingin digunakan, melalui menu Quick Settings. Google juga menyebut pengguna yang masih menyukai tampilan lama bisa mengubahnya ke tampilan standar Gmail.

Selain perubahan tampilan, Google juga meningkatkan kemampuan pencarian berdasarkan kueri yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Fitur ini juga sudah digulirkan untuk para pengguna.

Lalu untuk akhir tahun ini, perusahaan juga akan meningkatkan pengalaman Gmail untuk para pengguna tablet, ditambah dengan emoji yang lebih beragam, fitur aksesibilitas baru, serta fitur lainnya.

Di sisi lain, awal tahun ini diketahui aplikasi Gmail diketahui telah diunduh 10 miliar kali dari Google Play Store. Google pertama kali meluncurkan aplikasi Gmail pada 1 April 2004.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Aplikasi Gmail Diunduh 10 Miliar Kali di Play Store

Pada 2022, layanan email Google ini menyentuh capaian rekor baru dengan 10 miliar unduhan. Rupanya angka itu mewakili 53 persen dari pasar email AS.

Mengutip Digital Trends, Jumat (14/1/2022), capaian di atas menjadikan Gmail sebagai aplikasi keempat di Play Store yang mencapai tonggak ini.

Tiga layanan lain Google yang juga sudah menyentuh rekor unduhan adalah Google Play (karena semua ponsel Android yang memakai layanan Google membutuhkannya), YouTube, dan Google Maps.

Pada 11 Januari 2022, Google Play Store memperlihatkan bahwa Google Chrome dan Google Search juga sudah melampaui 10 miliar unduhan.

Sementara aplikasi Google Photos tertinggal sedikit di belakang dengan lebih dari 5 miliar unduhan.

Sekadar informasi, Gmail kini tersedia di 72 bahasa di dunia. Aplikasi Gmail saat ini juga menempati urutan kedua di AS setelah aplikasi email Apple milik iPhone jadi klien email terpopuler.

Pada Oktober 2018, jumlah pengguna Gmail adalah 1,5 miliar. Gmail cenderung sudah terinstal di sebagian besar perangkat Android.

Nah, karena sebagian besar pengguna memakai banyak smartphone, tidak mengherankan jumlah unduhan Gmail bakal terus menanjak. 

3 dari 4 halaman

Rusia Denda Google Rp 522 Miliar karena Monopoli YouTube

Di sisi lain, Rusia mendenda Google sebesar 2 miliar Rubel atau setara Rp 522 miliar karena YouTube. Dalam hal ini, YouTube dianggap sebagai platform video yang mendominasi pasar Rusia.

Langkah Rusia memberlakukan sanksi denda ke Google bukan kebetulan. Sudah jadi rahasia umum, Rusia tengah mencoba membalas langkah Google yang mengikuti perusahaan-perusahaan teknologi barat membatasi layanannya di negara itu, akibat serangan Rusia ke Ukraina.

Mengutip Gizchina, Kamis (28/7/2022), regulator antimonopoli Rusia (Federal Antimonopoly Service/FAS) ingin Google membayar sanksi denda sekitar USD 35 juta atau setara Rp 522 miliar.

"Google menyalahgunakan dominasi YouTube sebagai layanan hosting video utama," kata regulator Rusia, FAS.

FAS menyatakan, Google harus membayar denda dalam waktu dua bulan sejak denda berlaku.

Terlepas dari itu, FAS tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai penyalahgunaan yang dimaksud. Namun, pengawas layanan komunikasi Rusia mengatakan, bulan lalu YouTube juga sengaja menyebarkan disinformasi.

Penyebaran disinformasi ini memungkinkan terjadinya penyebaran pandangan ekstremis dan mengajak anak-anak untuk berpartisipasi dalam protes.

Google memberikan pernyataan terkait kasus ini. "Kami akan mempelajari keputusan ini dengan cermat sebelum menentukan langkah kami selanjutnya," kata Google.

(Dam/Isk)

4 dari 4 halaman

Infografis Google dan Facebook (Liputan6.com/Abdillah)

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS