Sukses

Google Siapkan 5.000 Sertifikat untuk Digital Talent Scholarship Kemkominfo

Liputan6.com, Jakarta - Kemkominfo menyediakan beasiswa pelatihan literasi melalui program Digital Talent Scholarship (DTS). Program ini dijalankan bermitra dengan Google sejak 2019 hingga saat ini.

Pada tahun ini, Badan Penelitian dan Pengembangan SDM Kemkominfo bersama Google menyiapkan sertifikat untuk 5.000 peserta DTS 2022.

"Kami mengawali kerja sama dengan Google di program DTS Pro-A (Professional Academy), di mana hingga saat ini kami telah melatih sekitar 4.800 pengembang Android dan 1.200 developer cloud," kata Kabalitbang SDM Kemkominfo, Hary Budiarto, dalam keterangan Kemkominfo, Rabu (25/5/2022).

Hary mengatakan, kedua pihak akan terus melatih talenta digital untuk bidang Android dan Cloud tahun ini.

Tahun 2022, program DTS 2020 terbagi atas 7 Akademi, antara lain: Fresh Graduate Academy, Professional Academy, Vocational School Graduate Academy, Thematic Academy, Government Transformation Academy, Talent Scouting Academy dan Digital Entrepreneurship Academy.

"Program pelatihan ini terbuka untuk masyarakat umum, baik mahasiswa, para lulusan, profesional, tenaga pendidik, ibu rumah tangga dan siswa Sekolah Menengah Kejuruan hingga aparatur sipil negara," kata Hary.

Kemkominfo juga bekerja sama dengan Google di program DEA (Digital Entrepreneurship Academy) yang berfokus untuk mempercepat transformasi digital bidang kewirausahaan.

"Sasaran audiens dari DEA adalah UMKM, ibu rumah tangga, maupun mereka yang masih belum mempunyai usaha namun bercita-cita untuk menjadi pengusaha. Hingga saat ini, Kemkominfo bersama Google telah melatih sekitar 18.000 orang melalui program DEA ini," kata Hary.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

5.000 Beasiswa Sertifikasi Karier

Hary menyatakan Kemkominfo menyambut kembali tawaran kerja sama dari Google untuk melanjutkan program di Professional Academy (Android, Cloud dan Google Career Certificates), dan mengawali kerja sama di program FGA (Fresh Graduate Academy).

"Program FGA ini bertujuan untuk mempersiapkan para lulusan yang belum atau tidak sedang bekerja agar memiliki kompetensi profesional dan juga para profesional yang ingin menambah skill mereka dan berkesempatan memiliki sertifikasi global serta dapat bersaing baik di industri dalam maupun luar negeri," ujar Hary, menjelaskan.

Menurut Hary, Google akan memberikan 5,000 beasiswa Google Career Certificate untuk IT support dan Data Analytics. "Sertifikat tersebut terdiri dari 3.000 beasiswa untuk program FGA, dan sisanya 2.000 beasiswa untuk program PROA," katanya.

Ia berharap, peserta pelatihan akan memiliki kompetensi profesional dan mendapatkan sertifikasi global.

"Kami berharap masyarakat yang ingin memiliki kompetensi profesional di bidang teknologi untuk mengikuti pelatihan ini dan menyelesaikannya agar mendapatkan skills dan sertifikasi nasional maupun global yang pastinya akan berguna di dunia kerja," katanya.

Hary mengatakan, dukungan dari Google dan mitra-mitra lainnya. Ia juga berharap program DTS akan menghasilkan 600.000 talenta digital di Indonesia.

"Tentunya dengan adanya dukungan dari Google dan mitra-mitra kami lainnya, kami berharap DTS dapat menghasilkan 600 ribu talenta digital di Indonesia sampai tahun 2024," kata dia.

Dengan begitu, lewat program ini Kemkominfo bisa memenuhi kebutuhan talenta digital indonesia yang diprediksikan akan mencapai 9 juta talenta digital dalam 15 tahun.

 

3 dari 4 halaman

6.000 Talenta Digital

Menurut Hary Budiarto, akselerasi transformasi digital membutuhkan sumber daya manusia yang unggul dengan keahlian terkini seperti Big Data Analytics, Cybersecurity, Cloud Computing, Web Developer, Cyber Operations, Data Analyst, Digital Marketing, Graphic Designer, IT Perbankan, IT Project Management,  dan Smart City.

"Dunia industri khususnya industri digital ini tidak hanya membutuhkan kemampuan hard skills saja tetapi juga butuh dilengkapi dengan soft-skill, atau sering disebut sebagai 21st Century Skills. Saya pun menyebutnya sebagai 4C, yaitu Critical Thinking, Creativity, Collaboration, serta Communication," ujarnya.

Menurutnya, kombinasi dari kecakapan-kecakapan inilah yang paling dibutuhkan untuk akselerasi transformasi digital menuju digital society diIndonesia.

"Dengan meningkatnya kompetensi dari talenta digital Indonesia, hal ini tentunya akan berdampak kepada semakin percayanya industri teknologi untuk merekrut tenaga kerja dalam negeri serta kemampuan dari para talenta digital untuk menciptakan lapangan kerja baru," ungkap Kabalitbang SDM Kementerian Kominfo.

Saat ini, kebutuhan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni di bidang teknologi digital terus meningkat. Pemerintah terus berupaya menyiapkan talenta digital yang menguasai teknologi informasi dan komunikasi agar mampu menghadapi Revolusi Industri 4.0.

Mengutip Riset McKinsey dan Bank Dunia, Kabalitbang SDM Kementerian Kominfo menunjukkan Indonesia membutuhkan sebanyak 9 juta atau 600 ribu talenta digital setiap tahun selama 2015 hingga 2030.

4 dari 4 halaman

Dibutuhkan di Pasar Global

"Riset Microsoft dan LinkedIn pada 2020 menunjukkan, beberapa profesi terkait TIK akan sangat dibutuhkan di dalam pasar kerja global pada 2025 mendatang," ujarnya.

Menurut Hary Budiarto, profesi itu sebanyak 98 juta SDM di bidang software development, 23 juta orang di bidang cloud dan data, serta 20 juta SDM di bidang analisis data dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

"Pada saat yang sama, dibutuhkan 6 juta pekerja di bidang keamanan siber, serta 1 juta pekerja di bidang perlindungan privasi," ungkapnya.

Oleh karena itu, Kementerian Kominfo terus mengembangkan roadmap transformasi digital dengan tiga tatanan lapisan pengembangan SDM.

"Dimulai dari level paling bawah atau paling dasar seperti melalui literasi digital dalam program Gerakan Nasional Literasi Digital yang biasa dikenal sebagai Siberkreasi," jelas Kabalitbang SDM Kementerian Kominfo.

Sementara, pada level intermediate atau level menengah, Kementerian Kominfo menghadirkan Program Digital Talent Scholarship untuk upskilling atau peningkatan kecakapan yang telah dimiliki maupun reskilling atau pelatihan kecakapan baru untuk sumberdaya manusia bidang digital.

"Terakhir yaitu  dalam tatanan lapisan paling atas ada Digital Leadership Academy yang membutuhkan para stakeholders dengan keahlian yang lebih tinggi seperti pada level Chief-Level Practitioner, Degree Holder, dan Expert Level. Ini adalah untuk advance digital skill yang juga bekerja sama dengan berbagai perusahaan global," jelas Hary Budiarto.

(Tin/Ysl)