Sukses

Berantas Hoaks Covid-19 Tak Cukup Hanya Klarifikasi Digital, Perlu Upaya di Dunia Nyata

Liputan6.com, Jakarta - Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) mengatakan bahwa saat ini, masih ada kesenjangan antara jumlah hoaks Covid-19 yang beredar, dengan klarifikasi yang sampai di masyarakat.

Dalam siaran persnya, Mafindo menyebut bahwa meski media massa, lembaga periksa fakta, dan pemerintah, sudah berupaya melakukan periksa fakta, namun masih lebih banyak orang yang terpapar hoaks dan tidak semua mengetahui klarifikasinya.

"Dari analisis kami terhadap sejumlah artikel periksa fakta yang dipublikasikan, sebuah hoaks bisa sepuluh kali lipat lebih banyak disebarkan ketimbang klarifikasinya," kata Eko Juniarto, Presidium Mafindo Bidang Periksa Fakta, ditulis Kamis (22/7/2021).

Eko mengatakan, ini menjadi persoalan serius karena banyak masyarakat yang lebih mudah mengakses konten hoaks, tetapi tidak banyak yang membaca klarifikasinya.

"Ketimpangan informasi ini yang menyebabkan masih banyak masyarakat yang lebih percaya kepada hoaks daripada informasi faktual yang dikeluarkan oleh otoritas maupun pakar kesehatan," katanya.

2 dari 5 halaman

Pendekatan ke Tokoh Masyarakat dan Agama

Mafindo pun menyebut bahwa upaya mendekatkan masyarakat dengan klarifikasi atas hoaks yang beredar perlu dilakukan secara rutin, dengan memperbarui para tokoh masyarakat dan agama soal isu terkini.

Hal ini agar mereka bisa ikut membantu meluruskan informasi di komunitasnya.

Selain itu, kantor desa, kelurahan, kecamatan, puskesmas, dan rumah sakit, perlu secara berkala memajang poster yang berisi klarifikasi atas isu hoaks terkini yang dinilai palin meresahkan masyarakat.

Pemerintah pun juga bisa menggerakkan institusi yang memiliki jejaring struktural ke daerah untuk menjernihkan informasi, merangkap perpanjangan telinga untuk mendengarkan keresahan masyarakat.

3 dari 5 halaman

Perlu Upaya Lebih

Septiaji Eko Nugroho, Ketua Presidium Mafindo, juga mengatakan, platform media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, atau TikTok, harus lebih responsif menyisir konten hoaks yang dilaporkan masyarakat, khususnya yang sudah diklarifikasi oleh ekosistem periksa fakta.

"Platform perlu memanfaatkan database hoaks yang terbangun untuk secara otomatis memperingatkan pengguna jika mengunggah konten hoaks yang serupa," kata Septiaji.

Selain itu, akun-akun yang berulang kali sengaja menyebarkan hoaks COVID-19 yang meresahkan, juga dinilai perlu dikeluarkan dari platform.

"Tidak cukup dengan menyebarkan narasi secara digital, kita butuh upaya lebih untuk meyakinkan orang supaya tidak termakan hoaks secara spesifik, tidak bisa lagi dengan ajakan yang sifatnya umum," kata Eko Juniarto.

"Orang umumnya sudah paham kalau hoaks itu sesuatu yang buruk, tetapi yang paling penting adalah orang harus tahu bahwa isu rumah sakit meng-COVID-kan pasien, vaksin membahayakan, ambulans kosong menakuti warga, itu adalah hoaks yang harus dilawan bersama."

Mafindo mengatakan, saat ini inisiatif bersama agar masyarakat tidak mudah menjadi korban hoaks pandemi, sangatlah mendesak. Menurut mereka, klarifikasi secara digital saja tidaklah cukup.

"Edukasi dan sosialisasi di dunia nyata sangat penting untuk dilakukan. Pemerintah, platform, dan masyarakat harus bergandengan tangan untuk menekan peredaran hoaks," tulis Mafindo.

(Dio/Isk)

4 dari 5 halaman

Infografis Cek Fakta: Waspada Terpapar Hoaks Vaksin Covid-19

5 dari 5 halaman

Saksikan Juga Video Menarik Berikut Ini