Sukses

Tiongkok Uji Coba Pesawat Ruang Angkasa untuk Pemakaian Berulang Kali

Liputan6.com, Jakarta - Kompetisi di industri pesawat ruang angkasa kian memanas. Jika sebelumnya SpaceX meluncurkan 60 Satelit internet Starlink dengan tujuan menghadirkan internet berkecepatan 100Mbps, kini giliran Tiongkok unjuk gigi.

Pada Jumat (4/9/2020), Tiongkok melakukan peluncuran pesawat ruang angkasa eksperimental untuk pemakaian berulang kali (reusable).

Laporan dari media pemerintah Tiongkok, Xinhua, mengatakan peluncuran itu berlangsung sukses dan roket Long March 2F mengirim pesawat ruang angkasa ke orbit dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan di Gurun Gobi.

"Setelah periode operasi orbit, pesawat ruang angkasa itu akan kembali ke lokasi pendaratan yang dijadwalkan di Tiongkok. Itu akan menguji teknologi yang dapat digunakan kembali selama penerbangannya," kata Xinhua dalam laporan itu sebagaimana dikutip dari Space.com, Minggu (6/9/2020),

Dalam laporan sebelumnya, Tiongkok mengatakan berencana untuk merancang kendaraan luar angkasa yang dapat digunakan kembali, yang akan lepas landas dan mendarat seperti pesawat terbang, secara horizontal.

Pejabat dari China Aerospace Science and Industry Corporation menambahkan pada 2017 silam bahwa mereka telah menyelesaikan beberapa uji lapangan untuk mesin dan komponen lainnya.

 

2 dari 2 halaman

SpaceX Luncurkan 60 Satelit Internet Starlink untuk Hadirkan Internet Berkecepatan 100Mbps

Proyek pesawat luar angkasa China yang mungkin datang ketika Angkatan Udara Amerika Serikat sedang mengerjakan pesawat luar angkasa yang dapat digunakan kembali, yang disebut X-37B. Proyek Angkatan Udara telah terbang empat kali di luar angkasa sejauh ini, membawa muatan rahasia ke luar angkasa selama berbulan-bulan.

Kendaraan bersayap lainnya telah berhasil mengorbit sebelum proyek ini. Program pesawat ulang-alik NASA yang sekarang dihentikan menerbangkan 135 misi dengan astronot di dalamnya antara tahun 1981 dan 2011. Kendaraan serupa milik Uni Soviet yang disebut Buran menerbangkan satu misi tanpa awak pada tahun 1988 sebelum program itu dibatalkan pada tahun 1993, tak lama setelah Uni Soviet runtuh.

SpaceX meluncurkan satelit internet Starlink tahap baru ke orbit dan melakukan pendaratan roket dengan sukses setelah sempat mengalami penundaan.

Satelit internet diluncurkan dengan roket pendorong Falcon 9, yang membawa muatan penuh tidak kurang dari 60 satelit Starlink. Peluncuran roket Falcon 9 dilakukan di Pad 39A di Pusat Antariksa Kennedy NASA di Florida, kemarin.

Pada tahap pertama booster kembali ke Bumi sekitar 9 menit setelah peluncuran dan mendarat di salah satu kapal drone SpaceX di Samudera Atlantik. Demikian dikutip dari Space.com, Jumat (4/9/2020).

Peluncuran ini menandakan misi Starlink pertama bulan ini, juga jadi misi SpaceX ke-19 sejauh ini. Sementara itu, Business Insider melaporkan, menurut SpaceX dalam pengujian awalnya, satelit Starlink mampu membuahkan hasil yang menjanjikan.

Menurut SpaceX Senior Certification Engineer Kate Tice, berdasarkan tes internal dari versi beta layanan internet Starlink memperlihatkan latensi amat rendah.

"Proyek Starlink memperlihatkan latensi sangat rendah dan kecepatan unduh lebih dari 100 megabit per second (Mbps)," kata Tice.

"itu artinya latensi kami cukup rendah untuk memainkan video gim online tercepat dan kecepatan unduh kami cukup cepat untuk streaming sejumlah film berkualitas HD sekali waktu, bahkan masih ada bandwidth yang tersisa," kata dia.