Sukses

Pemindaian Wajah Jadi Syarat Penggunaan Layanan Seluler di Tiongkok

Liputan6.com, Jakarta - Tiongkok menetapkan pemindaian wajah sebagai syarat penggunaan layanan seluler.

Kebijakan ini berlaku per 1 Desember 2019. Oleh sebab itu, siapa pun yang mendaftarkan diri untuk kontrak perangkat atau layanan seluler baru, tidak hanya wajib melampirkan kartu identitas, tetapi juga melakukan pemindaian wajah untuk verifikasi identitas.

Tujuan di balik kebijakan ini antara lain untuk mengurangi penipuan. "Kami ingin melindungi hak dan kepentingan warga negara yang sah di dunia maya," kata perwakilan pemerintah dikutip dari BBC, Senin (2/12/2019).

Untuk diketahui, kebijakan ini diinisiasi oleh Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi. Sebelumnya Tiongkok juga telah menggunakan teknologi pengenalan wajah untuk menyurvei penduduknya dan menjadi pionir dalam hal pemanfaatan teknologi ini.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir penggunaan teknologi ini juga memicu perdebatan. 

2 dari 3 halaman

Sony Besut Teknologi Pemindaian Wajah Lebih Canggih dari Face ID

Diwartakan sebelumnya, teknologi pemindaian wajah untuk membuka smartphone memang sangat populer saat ini. Dimulai dari iPhone X, teknologi ini kini sudah merambah ke sejumlah perangkat Android.

Melihat tren tersebut, Sony dilaporkan sudah menyiapkan teknologi baru untuk pemindaian wajah di smartphone. Hal itu diungkapkan oleh kepala divisi sensor Sony Satoshi Yoshihara.

Dikutip dari Phone Arena, Kamis (3/1/2019), perusahaan asal Jepang itu sedang menyiapkan sensor 3D baru untuk kamera depan dan belakang. Kabarnya, sejumlah perusahaan smartphone bakal menggunakan teknologi baru ini di perangkatnya.

"Kamera telah mengubah smartphone. Saya memiliki ekspektasi yang sama dengan 3D. Kecepatannya memang berbeda tiap bidangnya, tapi pasti. Saya yakin akan itu," tuturnya.

 

3 dari 3 halaman

Lebih Detail

Sony menuturkan, teknologi ini akan menciptakan model wajah pengguna yang lebih detail. Nantinya, teknologi pemindaian wajah anyar tersebut dapat membaca wajah pengguna dengan jarak hingga lima meter.

Hal itu dimungkinkan sebab teknologi ini memanfaatkan kamera 3D dengan sinyal laser yang berdenyut untuk mengukur sebuah objek. Metode ini mirip dengan cara kelelawar menggunakan echolocation di alam.

Sementara perusahaan lain, seperti Apple memproyeksikan titik-titik cahaya tidak terlihat ke wajah pengguna untuk mengukur objek. Karenanya, Sony menyebut teknologi ini menawarkan akurasi yang lebih baik.

Dengan kemampuan tersebut, Sony serius untuk menghadirkan teknologi ini ke pasar. Bahkan tidak hanya smartphone, teknologi ini dapat disematkan di mobil otonomos, drone, hingga robot.

Produksi massal teknologi ini dijadwalkan dilakukan pada pertengahan 2019. Oleh sebab itu, kemungkinan besar teknologi pemindaian wajah ini akan diterapkan di smartphone pada akhir 2019.

(Why/Isk)

Loading
Artikel Selanjutnya
Peru Akan Tarik Pajak dari Netflix, Spotify dkk
Artikel Selanjutnya
Donald Trump Sebut Huawei Sebagai Ancaman Keamanan