Sukses

Kisah Fauzie Helmy, Berjuang Selamatkan Lingkungan Lewat Foto Mainan

Liputan6.com, Jakarta - Bila biasanya fotografer mengambil foto model atau pemandangan, fotografer profesional Fauzie Helmy melakukan aksi yang berbeda.

Aksi yang dilakukan Helmy bukan asal beda, melainkan sebuah inovasi yang cukup sederhana tetapi elegan dengan tujuan meningkatkan kesadaran publik terhadap isu lingkungan.

Seorang pelopor dari inovasi foto "Toys Photography" di Indonesia ini memperkenalkan konsep tersebut sejak 2005. Mainan yang ia pilih adalah mainan hewan, terutama yang terancam punah.

 

 

Kelihaian Helmy dalam mengambil foto berkualitas tinggi tidak perlu diperdebatkan lagi. Toh, dia memang seorang fotografer kawakan. Tetapi, di balik karya seni miliknya terdapat pesan yang akan membuat banyak orang merenungi keadaan alam.

"Saya saat ini sedang konsen dengan proyek pribadi untuk mengajak semua lapisan masyarakat untuk peduli lingkungan, terutama hewan, agar di kemudian hari anak cucu kita tidak hanya bisa melihat berbagai spesies melalui mainan plastik," ujar Helmy saat dihubungi Tekno Liputan6.com, Rabu (28/3/2018).

Bila mengintip foto-foto Helmy di akun Instagram miliknya @fauzie_helmy, dapat terlihat bahwa ia tidak sekadar memamerkan karyanya, tapi sekaligus memberikan info menarik berupa lokasi tempat pengambilan foto serta penyebab hewan terancam punah.

 

 

"Sunset with the rhinoceros" Bersama sang Badak saya melakukan pengujian kamera seri terbaru dari FUJIFLM X-H1 dengan fitur terbaru IBIS (In Body Image Stabilization) yang tertanam di body kamera, membuat kamera ini mumpuni di pencahaan rendah tanpa menggunakan tripod. Pengujian saya lakukan di pantai Nirwana yang terletak di kota Padang Sumatera Barat, pantai yang bentuknya memanjang ini tidak jauh dari pantai Teluk Bayur yang lebih dahulu dikenal keindahannya sejak jaman Belanda. Senja di pantai ini terkenal sangat indah dan benar saja sang Badak berpose dengan latar belakang eksotisme sunset di pantai Nirwana. Pulau Sumatera memiliki berbagai jenis hewan langka, salah satunya Badak Sumatera yang dikenal memiliki rambut terbanyak dibandingkan seluruh sub-spesies badak di dunia, sehingga sering disebut hairy rhino atau badak berambut. Ciri-ciri lainnya adalah telinga yang besar, kulit berwarna coklat keabu-abuan atau kemerahan - sebagian besar ditutupi oleh rambut dan kerut di sekitar matanya. Saat ini, hilangnya habitat hutan menjadi ancaman utama bagi kelangsungan hidup badak Sumatera yang tersisa. mari kita jaga kelangsungan hidup badak sumatera dari kepunahan. _ #ProudOf #XH1_id #XA5_id #XpeditionPadang #Gofujifilm @fujifilm_id #WDIndonesia #mypassportwirelesspro #SanDiskIndonesia #ProudOf #XH1 #XA5 #Gofujifilm #XpeditionPadang #wdindonesia #mypassportwirelesspro #SanDiskIndonesia @fujifilm_id

A post shared by Fauzie Helmy (@fauzie_helmy) on

 

Tidak hanya hewan darat yang Helmy perjuangkan keselamatannya, hewan air pun turut diperjuangkan. Contohnya, dalam fotonya berjudul "Green Turtle", sang fotografer melakukan foto dalam air, lengkap dengan caption yang menarik untuk dibaca.

"Mari kita jaga kelangsungan hidup penyu, agar anak cucu kita dikemudian hari tidak hanya bisa melihat dalam bentuk mainan plastik, namun tetap bisa melihat dalam wujud aslinya," tulis Helmy.

2 dari 4 halaman

Perjuangan yang Sulit tapi Seru

Memotret mainan-mainan berukuran kecil agar tampil natural menjadi tantangan tersendiri bagi Helmy. Meski menyenangkan, tapi ia tidak main-main dalam tahap proses.

Mainan-mainan harus dibuat menyatu dan proporsional dengan latar belakang yang ada agar mendapat kesan meyakinkan seolah mainan itu hidup di alam sebenarnya.

"Sebelum memotret, kenali dulu ekspresi dan gesture dari mainan, atau latar belakang mainan," kata Helmy.

Tidak hanya itu, proses research juga ia lakukan dengan sangat komprehensif.

"Misalnya, harimau Sumatera, kita cari cerita latar belakang sang harimau, populasinya, kebiasannya. Itu kita pelajari sehingga bisa mengimplementasikan konsep dalam sebuah karya," tuturnya.

Helmy memilih memakai kamera Fujifilm X-T2 karena tahan air dan cipratan air, sehingga ia bisa leluasa melakukan pemotretan di laut atau danau.

Untuk kontras langit, Helmy menambah filter CPL dari Athabasca pada lensa Fujinon 10-24 mm.

Para fotografer muda patut mengecek karya-karya Helmy, karena pria yang juga aktif sebagai dosen itu tidak segan-segan membagikan ilmu terkait kamera yang ia miliki lewat akun Instagramnya.

 

"GREEN TURTLE" Sandiwara kecil dalam Toys Photography sangat seru dilakukan di bawah air, agar 2 ekor Penyu Hijau ini seolah-olah hidup di alam aslinya. saya menggunakan kamera FUJIFILM XP 120 dan pencahayaan menggunakan lampu underwater HEYE. Penyu, spesies yang telah ada selama lebih dari 100 juta tahun, kini berada di bawah ancaman kepunahan. Enam dari tujuh spesies penyu di seluruh dunia sekarang diklasifikasikan sebagai satwa terancam punah. Aktivitas manusia kian mendorong penyu semakin dekat dengan kepunahan. Pada tanggal 23 Mei mendatang diperingati sebagai hari Penyu sedunia, aktivis lingkungan dari seluruh dunia menyerukan kampanye untuk perlindungan dan konservasi hewan laut yang lebih baik. Perdagangan semua spesies penyu dan seluruh bagian tubuhnya dilarang. Meskipun demikian, perburuan penyu terus terjadi. Selain diambil karapasnya, daging dan telur penyu juga diambil untuk konsumsi manusia, serta masih menjadi sumber pendapatan di banyak negara, termasuk Indonesia. Penyu juga kerap diburu untuk pengobatan tradisional. Mari kita jaga kelangsungan hidup Penyu, agar anak cucu kita dikemudian hari tidak hanya bisa melihat dalam bentuk mainan plastik, namun tetap bisa melihat dalam wujud aslinya. #Fujifilm_id #GoFUJIFILM #XP120  #turtle #greenturtle #wwf #wwf_id #netphotography #nationalgeographic #natgeoindonesia @wwf @ehindonesia

A post shared by Fauzie Helmy (@fauzie_helmy) on

3 dari 4 halaman

Konsisten Aktif di Bidang Sosial

Sebelumnya aktif di proyek tentang hewan, Helmy sempat mendalami isu sosial lain, yakni mainan-mainan lokal. Pada akun Instagramnya juga terlihat beragam mainan unik yang difoto oleh pria asal Temanggung, Jawa Tengah, ini.

"Saya konsisten menyuarakan isu sosial untuk mengenalkan kultur, bahkan aneka permainan anak Indonesia yang sudah tidak dikenal lagi oleh anak-anak Indonesia," ucap Helmy.

 

 

"TARI MERAK" Lokasi: Keraton Kaibon - Banten Lama Sejarah Tari Merak sebenarnya berasal dari bumi Pasundan ketika pada tahun 1950an seorang kareografer bernama Raden Tjetjep Somantri menciptakan gerakan Tari Merak. Sesuai dengan namanya, Tari Merak merupakan implentasi dari kehidupan burung Merak. Utamanya tingkah merak jantan ketika ingin memikat merak betina. Gerakan merak jantan yang memamerkan keindahan bulu ekornya ketika ingin menarik perhatian merak betina tergambar jelas dalam Tari Merak. Warna kostum yang dipakai oleh para penari biasanya sesuai dengan corak bulu burung merak. Selain itu, kostum penari juga dilengkapi dengan sepasang sayap yang mengimpletasikan bentuk dari bulu merak jantan yang sedang dikembangkan. Kali ini para penari merak sedang menari disekitar puing-puing Keraton Kaibon, di Kawasan Banten Lama di Kabupaten Serang banyak meninggalkan bangunan yang memiliki nilai sejarah tinggi. #Fujifilm_id #GoFUJIFIM #XT2 #1024mm #Velvia

A post shared by Fauzie Helmy (@fauzie_helmy) on

 

Helmy memang memiliki concern tersendiri pada industri kreatif di Indonesia, sebab ia melihat bagaimana produsen dan perancang mainan lokal sudah diajak bekerja sama oleh pihak asing tapi tidak dikenal di dalam negeri.

Akhirnya, pada salah satu buku yang ia tulis berjudul "Dunia Tanpa Nyawa", Helmy turut melibatkan produsen mainan lokal untuk berkolaborasi demi memperkuat industri kreatif.

"Saya menulis buku tersebut karena kegundahan saya terhadap desainer mainan Indonesia yang ngetop di luar negeri bahkan beberapa produsen dan desainer mainan kelas dunia pernah bekerja sama, namun di negeri sendiri tidak dikenal," ujarnya.

"Sebagai dosen di beberapa universitas, saya sangat konsen terhadap industri kreatif yang seharusnya kita dukung," tambah Helmy.

4 dari 4 halaman

Mendunia

Hasil perjuangan Helmy sudah mendunia dan dapat segera dinikmati kalangan internasional.

"Rencana pameran saya akan dilangsungkan di empat negara Asia. Kemungkinan di bulan Juni akan dimulai dari Singapura," ucap Helmy.

Setelah Singapura, selanjutnya sang fotografer akan singgah di Shanghai untuk melakukan pameran, sementara untuk dua negara Asia lain lokasinya masih diproses pihak panitia.

Para pengagum karya Helmy di Indonesia juga tidak perlu takut ketinggalan, karena ia pun juga berniat untuk menggelar pameran di Indonesia.

(Tom/Isk)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

4G Plus Kuat IM3 Ooredoo #MakinKuatInternetan
Loading
Artikel Selanjutnya
Ingin Jadi Fotografer Andal? Jangan Buang Buku Manual Kamera
Artikel Selanjutnya
Jurnalis Ini Ungkap Teka-teki Kepunahan Manusia Setelah Kiamat (1)