Sukses

Trauma Korban Tragedi Kanjuruhan, Mudah Kaget dan Masih Terbayang Peristiwa

Liputan6.com, Malang - Pasien korban tragedi Kanjuruhan tak hanya mengalami trauma fisik saja, tapi juga secara psikologis. Butuh pendampingan intensif terhadap korban guna memulihkan mental mereka dampak dari peristiwa pilu itu.

Dokter Spesialis Jiwa RS Saiful Anwar Malang, Ratri Istiqomah, mengatakan tragedi Kanjuruhan sangat berdampak terhadap mental bukan hanya korban langsung, tapi juga mereka yang selamat dari peristiwa. Termasuk keluarga, kerabat dan rekan korban.

“Memang secara mental peristiwa itu sangat berdampak, kondisinya pun beragam,” kata Ratri di Malang.

Menurutnya, untuk korban yang dirawat di rumah sakit peristiwa itu menimbulkan berbagai pertanda stres. Misalnya, pasien kerap terbayang – bayang dengan tragedi itu, ada pula yang mudah kaget bila dipicu kisah itu lagi.

RSSA Malang sejak awal telah melibatkan tim psikiatri, psikolog klinis sampai dokter spesialis jiwa agar selalu mendampingi pasien. Pendekatan pendampingan pun harus menyesuaikan dengan kondisi dari pasien itu sendiri.

“Ketika pasien kondisinya belum begitu baik diajak komunikasi, maka belum bisa dilakukan pendampingan. Jadi menyesuikan dari dokter utama yang merawat,” ucapnya.

Ratri menyebut karena kondisi bermacam-macam itu maka penanganannya pun turut menyesuaikan. Ada yang cukup diberi pendampingan, ada pula yang harus dipertimbangan diberi obat guna memulihkan trauma tragedi Kanjuruhan.

“Dilihat dulu kondisinya. Secara medis umumnya butuh perbaikan (mental) dan bila dirasa perlu ya diberikan obat, menyusul dari psikiatri,” ujarnya.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Jangkau Semua Korban

Ratri menambahkan, pendampingan dilakukan terhadap pasien dalam perawatan di rumah sakit maupun rawat jalan. Bagi pasien rawat jalan, bila memerlukan bantuan maka mereka akan tetap dilayani di Poli Psikiatri.

Sedangkan untuk membantu trauma keluarga dan kerabat korban, Tim psikolog dan psikiatri RSSA Malang berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan maupun sejumlah asosiasi psikolog untuk penanganan pasien.

“Kerjasama itu memudahkan menjangkau mereka yang berada di luar rumah sakit dan butuh pertolongan,” kata Ratri.

Peristiwa di Stadion Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022 merenggut banyak korban. Berdasarkan data sementara sampai dengan Selasa, 11 Oktober kemarin diumumkan ada 132 orang meninggal dunia dan ratusan orang terluka.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS