6 Fakta Ibnu Jamil Main Film Saat Aku Bersuara, Reuni dengan Marshanda Setelah 16 Tahun Pisah

Setelah Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan, Ibnu Jamil bersiap kembali ke layar lebar lewat Saat Aku Bersuara. Sang aktor adu akting dengan Marshanda.

Diterbitkan 08 Juni 2026, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

“Dia punya misi, masalah yang dulu ingin diselesaikan namun tidak terselesaikan. Dia punya adik yang jadi korban ketidakadilan. Dia jadi jaksa untuk membantu mereka yang punya masalah hukum, untuk dijembatani,” ujar Ibnu Jamil.

 

3. Rambut Rapi, Pakai Kacamata

Dipercaya memerankan Adrian, Ibnu Jamil beroleh sejumlah catatan terkait pendalaman peran dan look yang mesti ditampilkan di depan kamera. Karena bekerja di bidang hukum, Adrian harus rapi, rambut cepak, dan sering berpenampilan formal.

“Agak sedikit kaku, gaya rambutnya rapi, look-nya mencerminkan tingkat pendidikan dan pekerjaan. Saya pakai kacamata di sini. Tiga kata yang menggambarkan Adrian: dendam, keadilan, dan berani,” suami Ririn Ekawati menyambung.

 

 

4. Kesan Pertama Begitu Menggoda

Kesan pertama yang muncul di benak Ibnu Jamil setelah baca naskah, cerita dan karakter film Saat Aku Bersuara begitu menggoda. Ini salah satu warna baru untuk para pencinta sinema di samping drama, horor, dan komedi yang telah lama eksis.

“Ini akan jadi tes pasar. Sebenarnya, beberapa bulan lalu ada film bertema pengadilan, Reza Rahadian dan Rio Dewanto yang main. Judulnya Keadilan. Pas baca skenario sih senang dan tertarik banget berada di film dengan kisah seperti ini,” ucap Ibnu Jamil.

 

5. Menguras Tenaga di Ruang Sidang

Adegan Saat Aku Bersuara yang paling menguras energi yakni di ruang sidang, khususnya saat debat dengan pengacara pelaku, diperankan Lukman Sardi. Itu lumayan tricky. Ada banyak shot di pengadilan yang harus direkam.

“Karena cast banyak, dialog panjang, dan intens. Ada hakim, jaksa, pengacara, korban, pelaku, belum lagi yang hadir di sidang, bayangkan saja shot-nya akan sebanyak apa karena ekspresi para pelaku sidang yang harus ditangkap,” ulasnya.

 

6. Input dari Para Pelaku Sidang

Syuting di pengadilan menyisakan kesan mendalam bagi Ibnu Jamil. Dimensi adegan ini luas banget. Sutradara harus bisa menggambarkan panasnya ruang sidang. Ini sangat krusial dalam sebuah cerita karena penonton harus bisa merasakan terjalnya jalan menuju keadilan.

“Itu syutingnya benaran di salah satu pengadilan di kawasan Ampera, Kemang, Jakarta Selatan. Ada orang-orang pengadilan. Saya menyerap ilmu dari situ, apakah benar penggunaan kata-kata ini. Melakukan verifikasi ke pelaku peradilan. Saya dibimbing mereka,” tutup Ibnu Jamil.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan