Maliq D’Essentials Hadir di JGTC 2025: Tampilkan Lagu Emosional hingga Ungkap Rencana Bangun Sekolah Musik

Penampilan Maliq & D’Essentials di JGTC 2025 hadirkan energi baru, refleksi emosional, dan gagasan pendidikan musik.

Diterbitkan 11 November 2025, 16:23 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Selain melatih vokal, mereka juga melakukan peregangan untuk memastikan tubuh siap menerima ritme musik yang energik dan interaksi dengan penonton.

“Fisik jadi faktor terpenting saat ini saat kita banyak jadwal itu yang harus dijaga,” tambahnya

Bagi Maliq, menjaga stamina bukan hanya soal profesionalitas, tetapi juga bentuk penghargaan terhadap penonton. Mereka percaya, penampilan terbaik lahir dari keseimbangan antara kesehatan fisik, mental, dan kesenangan di atas panggung. Itulah sebabnya setiap persiapan kecil seperti stretching dianggap sama pentingnya dengan latihan musik itu sendiri.

Tentang Pahlawan dan Inspirasi di Dunia Musik

Di Hari Pahlawan, Maliq & D’Essentials turut berbagi tentang sosok-sosok yang menginspirasi perjalanan mereka, baik di dunia musik maupun dalam kehidupan. Mereka menyebut beberapa nama yang telah memberi warna dan nilai dalam perjalanan karier bermusik mereka.

“Pahlawan musik kalau aku suka Dian Pramana Putra, kalau yang berjasa itu Eki Humania itu inspirasi di keluarga kami, itu menginspirasi kita untuk jadi musisi. Terus Pak Hj Rhoma Irama layak jadi pahlawan kita kemarin banyak dari dia ya sebelum kita manggung bareng, sebelum latihan tuh dakwah dulu ya lalu dilanjutkan ibadah bersama," tutur mereka.

Nilai-nilai yang ditanamkan oleh para musisi legendaris itu menjadi pengingat bagi Maliq & D’Essentials tentang pentingnya ketulusan, pesan, dan tanggung jawab sosial dalam bermusik. Musik bagi mereka bukan sekadar hiburan, tapi juga ruang untuk berbagi kebaikan dan menginspirasi banyak orang.

“Ya ini value value-nya yang bisa kita bawakan nanti untuk temen-temen juga. Untuk pahlawan nasional Ki Hajar Dewantara karena tanpa pendidikan, pendidikan kan enggak semua sekolah formal ya, pendidikan itu bisa dapet dari mana aja. Jadi spirit menimba ilmu itu ada di sosok yang dulu pas jabat sekolah kan dulu Ki Hajar Dewantara, tut turi handayani nah itu yang menginspirasi.”

Bagi Maliq, Ki Hajar Dewantara bukan hanya sosok sejarah, melainkan simbol semangat untuk terus belajar dan membagikan ilmu. Hal itu pula yang menjadi dasar bagi mereka untuk terus berkembang, bereksperimen, dan membagikan pengalaman bermusik kepada generasi berikutnya.

Rencana Membangun Sekolah Musik

Dari semangat Ki Hajar Dewantara itulah muncul ide besar berikutnya dari Maliq & D’Essentials, membangun sekolah musik. Mereka merasa sudah saatnya pengalaman 24 tahun berkarya dibagikan dalam bentuk pendidikan yang bisa menjangkau lebih banyak orang.

“Rencana lagi bikin sekolah juga soalnya, sekolah musik. Bentukannya sekarang online akan launching di awal tahun. Kita udah siapkan, udah syuting, sudah lain-lain. Tahap pertamanya online master class. Kita produksi musik, song writing, performing, bisnis semuanya ada," kata mereka. 

Grup ini tidak ingin berhenti hanya pada satu warna musik saja. Eksperimen yang dilakukan justru membuat mereka semakin bersemangat untuk memperluas eksplorasi ke berbagai genre yang lebih beragam.

“Mungkin ke depannya berjalan lancar akan ke semua lini musik, akhirnya eksperimennya juga dangdut juga salah satu yang pengin kita explore,” ungkap mereka dengan penuh antusias.

Tak berhenti di situ, mereka bahkan berencana untuk memperluas kurikulum hingga ke genre lain seperti jazz-rock dan dangdut, dua genre yang mereka nilai punya potensi besar di industri musik Indonesia.

“Jaz juga, jaz-rock, jaz-dut, semuanya,” tambah mereka.

Diteruskan, “Mungkin karena kelasnya lebih berhubungan sama banyak faktor di lapangan, based on pengalaman kita yang menurut kita itu layak untuk dikemas menjadi satu teori yang harus diperhatikan dengan sangat serius.”

Bagi Maliq D’Essentials, sekolah ini bukan sekadar proyek, tetapi bentuk dedikasi mereka untuk memajukan ekosistem musik Indonesia. Mereka ingin berbagi tentang “faktor X” yang selama ini jarang dibahas dalam pendidikan musik formal hal-hal nonteknis yang justru menentukan profesionalitas seorang musisi.

Menjaga Ciri Khas di Tengah Perubahan Tren

Selama hampir 24 tahun berkarya, Maliq & D’Essentials tetap dikenal sebagai band yang konsisten mempertahankan warna musiknya sendiri.

Di tengah derasnya arus tren musik, mereka memilih untuk tidak terjebak mengikuti arah pasar, melainkan tetap fokus pada karakter yang telah menjadi identitas mereka.

“Satu, Maliq itu enggak pernah mengikuti tren. Kalau bisa konteks tren dalam konteks spesifik genre ya. Tapi tren itu bisa bermacam-macam, bisa tren musik, tren marketing, tren visual, tren pakaian dan lain lain.”

Namun, bukan berarti mereka menutup diri dari perkembangan zaman. Justru sebaliknya, pelantun "Kita Bikin Romantis" tersebut selalu mempelajari perubahan yang terjadi di sekitar mereka secara kultural.

“Intinya Maliq yang sudah lakukan selama ini kita terus mempelajari apa yang tren secara kultur terjadi. Jadi enggak spesifik hanya musiknya aja karena musik kan bagian dari suatu kultur ya, lifestyle. Kita enggak bisa, terutama saat ini saat kita punya kelebihan di musik, kita enggak bisa tidak mempelajari hal lainnya. Mau itu fashion nya, mau itu cara berpromosi, marketing, berbisnisnya.”

Dengan sikap adaptif dan semangat belajar yang tak pernah padam, Maliq & D’Essentials berhasil membuktikan bahwa menjadi autentik bukan berarti menolak perubahan. Justru dari konsistensi itulah mereka terus relevan dan dicintai lintas generasi  membawa semangat musik yang jujur, hangat, dan selalu berjiwa muda.

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Zikrah Nur Amalah, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan