Review Fantastic Four: First Steps, Film Marvel Paling Hangat dan Penuh Nostalgia

Marvel kembali dengan kejutan menyenangkan lewat Fantastic Four: First Steps. Bukan sekadar film superhero biasa, film ini menyuguhkan nuansa retro tahun 60-an dan chemistry keluarga yang hangat.

Diterbitkan 23 Juli 2025, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Marvel Studios kembali merilis film terbaru mereka, namun kali ini terasa berbeda. Fantastic Four: First Steps bukan sekadar reboot dari tim superhero legendaris, tapi juga pendekatan baru yang lebih ringan, segar, dan menyentuh. Alih-alih menawarkan ledakan demi ledakan atau cerita multiverse yang rumit, film ini justru membawa penonton masuk ke kisah keluarga yang penuh dinamika dan kehangatan.

Disutradarai oleh Matt Shakman, film ini mengusung latar bergaya retro-futuristik tahun 60-an yang langsung terasa sejak menit pertama. Visualnya penuh warna, tata artistik bergaya klasik, dan musik orkestra yang menyentuh nostalgia. Namun daya tarik utama Fantastic Four: First Steps bukan cuma di tampilannya, melainkan di cerita dan karakter yang terasa dekat dengan penonton.

Film ini memperkenalkan kembali empat karakter utama Marvel: Reed Richards alias Mister Fantastic (Pedro Pascal), Sue Storm si Invisible Woman (Vanessa Kirby), Johnny Storm si Human Torch (Joseph Quinn), dan Ben Grimm alias The Thing (Ebon Moss-Bachrach). Meski punya kekuatan super, mereka justru tampil sebagai sosok manusia biasa yang berjuang menjalani hidup sebagai sebuah keluarga.

Kehangatan hubungan antar anggota tim jadi pusat cerita film ini. Chemistry di antara mereka terasa natural kadang kocak, kadang menyentuh. Ini bukan film superhero yang mengejar skala besar, tapi lebih pada bagaimana sebuah keluarga menghadapi tantangan besar bersama-sama.

Bertabur Bintang dengan Chemistry yang Kuat

Salah satu kekuatan utama film ini terletak pada pemilihan pemainnya. Pedro Pascal tampil tenang dan bijak sebagai Reed Richards, menyeimbangkan sisi ilmuwan jenius dengan sosok kepala keluarga. Vanessa Kirby juga tampil kuat sebagai Sue Storm cerminan ibu modern yang tegas namun penuh empati.

Joseph Quinn sebagai Johnny memberi warna remaja yang ceria dan impulsif, sedangkan Ebon Moss-Bachrach menghadirkan sisi emosional yang dalam dari Ben Grimm. Keempatnya saling melengkapi, menjadikan dinamika tim terasa sangat hangat dan hidup layaknya keluarga sungguhan.

Tampilan Retro yang Bikin Betah

Seting film yang terinspirasi era 1960-an menjadi nilai jual tersendiri. Dari kostum biru ikonik mereka, hingga detail kota New York yang klasik tapi canggih, semuanya dirancang dengan sangat menarik. Desain produksinya membawa penonton seolah masuk ke dunia alternatif yang familiar tapi unik.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Musik dari Michael Giacchino memperkuat nuansa retro dengan sentuhan orkestra penuh semangat. Tidak berlebihan untuk bilang bahwa film ini adalah perpaduan superhero dan nostalgia pop culture yang menyenangkan.

Halaman
Show All
Siti Naila Adzkhia, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan