Kabata Tanrasula Merajut Sejarah dan Identitas Melalui Seni di Cape Town Afrika Selatan

Pertunjukan seni Kabata Tanrasula di Castle of Good Hope, Cape Town, menghidupkan kembali perjuangan melawan kolonialisme melalui kolaborasi lintas budaya yang menghubungkan Indonesia dan Afrika Selatan. Karya ini menggambarkan perjalanan dua tokoh besar, Syekh Yusuf Al-Makassari dan Syekh Imam Abdullah Kadi Abdussalam, dalam melawan penjajahan, serta menjadi refleksi penting tentang dekolonisasi dan identitas.

Diperbarui 17 Desember 2024, 17:21 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Sambutannya bertransformasi menjadi bagian awal pertunjukan saat para musisi memasuki ruang pertunjukan dengan membawa batu yang diikat tali putih, simbol beban sejarah. Suara dentuman batu yang dibenturkan ke lantai kayu menggema memenuhi ruangan.

 

Menghidupkan Panggung dengan Perpaduan Instrumen Tradisional Nusantara

Selama 45 menit, Kabata Tanrasula menghidupkan panggung dengan perpaduan instrumen tradisional Nusantara, narasi, gerak, animasi visual, dan tata cahaya. Pertunjukan ini mengisahkan perjalanan dan perjuangan Syekh Yusuf Al-Makassari dan Syekh Imam Abdullah Kadi Abdussalam dari Tidore yang diasingkan ke Cape Town.

Karya ini dimulai dengan kelahiran Syekh Yusuf di Gowa pada 3 Juli 1626, disusul kisah kelahiran Syekh Imam Abdullah di Tidore, yang kelak menjadi Tuan Guru besar di Cape Town. Kedua peristiwa ini disajikan melalui seni tutur dengan alat musik tradisional Sinrilik dan Arababu, serta pencahayaan mistis yang dikerjakan oleh Mamedz.

 

Menggambarkan Perjalanan Dua Tokoh dalam Melawan Kolonialisme

Pertunjukan menggambarkan perjalanan kedua tokoh dalam melawan kolonialisme. Syekh Yusuf, dikenal sebagai ulama dan pejuang, memimpin perlawanan di Nusantara melawan Belanda. Syekh Imam Abdullah, atau Tuan Guru, memimpin perlawanan spiritual melawan upaya penjajah menghapus identitas budaya dan keislaman masyarakat keturunan Nusantara di Cape Town.

Setelah ditangkap oleh Belanda, Syekh Yusuf diasingkan ke Sri Lanka dan kemudian Cape Town, menjadi simbol perlawanan spiritual dan budaya. Syekh Imam Abdullah, setelah ditangkap di Tidore dan dibuang ke Cape Town, melanjutkan perjuangannya melalui pendidikan, membangun komunitas muslim pertama di Afrika Selatan.

 

 

Puncak dari Rangkaian Seeking Tuan Guru

Produksi Kabata Tanrasula di Cape Town menjadi puncak dari rangkaian Seeking Tuan Guru. Helza Amelia menjelaskan bahwa perjalanan panjang ini tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga menjadi medium refleksi sejarah dan budaya yang menghubungkan Nusantara dan Afrika Selatan.

Produksi ini adalah gerbang pembuka dari segala persiapan dan proses kolaborasi lintas budaya yang kami bangun sejak awal, ujar Helza. Ia menambahkan bahwa Kabata Tanrasula tidak hanya berkisah tentang perjuangan dua tokoh besar, tetapi juga menghadirkan dialog penting tentang dekolonisasi dan identitas yang relevan hingga saat ini.

Kabata Tanrasula menjadi momen penting untuk menghubungkan kembali sejarah Nusantara dengan diaspora dan keturunan Indonesia di Cape Town. 

Diharapkan, karya ini dapat menjadi jembatan untuk memahami bahwa perjuangan melawan kolonialisme adalah bagian dari sejarah kolektif yang harus terus dirawat, sehingga ini bukanlah akhir, tetapi sesuatu yang terbuka untuk tumbuh dan berkembang di masa depan, tutup Helza.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Tim Showbiz, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan