Bali Film Forum (BFF) 2024: Bukti Indonesia Mampu Menjadi Pusat Industri Film yang Berdaya Saing Tinggi di Pasar Internasional

Bali Film Forum (BFF) digelar pada Minggu, 2 Juni 2024, di Hotel Intercontinental Sanur.

Diperbarui 04 Juni 2024, 21:24 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Pasar Lokal dan Global

Industri kreatif Indonesia harus mampu memperbesar skala dengan mengoptimalkan pasar lokal dan global. Pada 2022, pendapatan industri perfilman Indonesia mencapai Rp 90 triliun, menurut Price Water House dan LPEM Fakultas Ekonomi & Bisnis UI. Angka ini mencakup sektor film, musik, animasi, dan fotografi. Reza Servia, produser dari Starvision, melihat peluang besar untuk memperluas pasar film-film produksinya. Ia menyatakan bahwa koneksi sosial dan lintas budaya dalam produksi film menjadi kunci agar film diterima pasar yang lebih luas. 

Platform streaming OTT (Over the Top) menjadi ujian penerimaan produk film di pasar global. Melalui film seperti "The Architecture of Love" (2024) dan "Critical Eleven" (2017), Starvision berupaya memperluas pasar filmnya.

 

Mengembangkan Bisnis

Strategi memperluas pasar, memaksimalkan sumber daya, mencari bentuk kerja sama produksi, dan relasi sosial dalam cerita adalah upaya menyeluruh untuk mengembangkan bisnis industri perfilman. Stanley Kwan, sutradara dan produser kawakan dari Hong Kong, juga berbagi pandangan yang sama. Dalam film terbarunya "Fly Me to The Moon," yang menjadi pembuka Balinale, ia bekerja sama dengan sutradara muda Sasha Chuk. 

Pendekatan menyandingkan produser berpengalaman dengan sutradara muda merupakan strategi pemerintah SAR Hong Kong untuk mempertahankan kemajuan industri perfilman mereka. Pemerintah Hong Kong bahkan mengalokasikan dana besar untuk memproduksi film-film kolaborasi dengan tema mutakhir, drama humanis, isu sosial yang kuat, hingga merekrut aktor muda bertalenta.

 

Kolaborasi

Melalui Asian Film Academy Awards (AFAA), Hong Kong berkolaborasi dengan banyak festival film dunia untuk mempromosikan film-film mereka. Tahun ini, AFAA menampilkan enam film di Balinale 2024 dalam program Hong Kong Film Gala Presentation.

Selain M Amin Abdullah, Reza Servia, Stanley Kwan, Sasha Chuk, dan Agus Maha Usadha, diskusi BFF juga menghadirkan pembicara lain seperti Robert Ronny dari Paragon Pictures Indonesia, Sakti Parantean dari Fremantle Indonesia, Felix Tsang dari Hong Kong, dan Samuel Hordem, produser, distributor, dan filantropis dari Australia. Mereka sepakat bahwa memperbesar dan memperluas pasar industri film adalah strategi kunci untuk memberikan nilai tambah dan dampak pengganda yang luar biasa. 

Balinale 2024 melalui Bali Film Forum (BFF) telah memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan industri perfilman Indonesia, menjadikannya bagian dari industri perfilman global. Dengan demikian, acara ini membuktikan bahwa Indonesia mampu menjadi pusat industri film yang berdaya saing tinggi di pasar internasional.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Tim Showbiz, Aditia SaputraTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan