Resensi Film Nona Manis Sayange: Kisah Sikka dan Akram dalam Balutan Budaya Manggarai

Tayangan film Nona Manis Sayange akan segera hadir di layar lebar Indonesia pada tanggal 2 November 2023 mendatang.

Diterbitkan 30 Oktober 2023, 18:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Film Nona Manis Sayange siap sapa para penonton di layar lebar Indonesia pada tanggal 2 November 2023 mendatang.

Dr. Ngadiman selaku eksekutif produser dari rumah produksi Putaar Films mengatakan bahwa film Nona Manis Sayange adalah film terindah baginya di tahun ini. Dia berharap film ini dapat memberikan para penonton sebuah pencerahan baik dari segi adat, budaya, dan lain-lain.

Memiliki latar cerita di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, para produser mengatakan film ini tidak hanya akan berfokus pada hubungan kedua karakter utama yang diperankan, Haico Van Der Veken dengan Pangeran Lantang, namun juga berfokus pada konflik keluarga, budaya, dan keindahan alam yang disajikan selama film berlangsung.

Rengga Indrayana sebagai sutradara film Nona Manis Sayange juga menambahkan, film ini tidak akan rampung tanpa adanya peran penting dari jajaran produser dan pemain yang telah berkolaborasi dengan baik dan berharap film ini akan menjadi tontonan penutup akhir tahun yang manis.

Berikut adalah resensi film Nona Manis Sayange.

Alur Cerita yang Ringan, Namun Sarat Akan Nilai Moral

Film Nona Manis Sayange merupakan film keluarga dengan genre romantis dan komedi yang memiliki alur ringan. Film yang menceritakan tentang hubungan asmara antara Sikka (Haico Van Der Veken) dan Akram (Pangeran Lantang) yang tidak direstui oleh ayah dari Sikka (Mathius Muchus).

Tidak hanya berfokus pada kisah cinta mereka, film ini juga akan berfokus dengan bagaimana hubungan keluarga yang retak antara Sikka dan ayahnya dapat kembali diperbaiki secara perlahan dan mengenal budaya Indonesia bagian Timur lebih dalam melalui Suku Manggarai yang tinggal di Labuan Bajo.

Konflik Antar Keluarga yang Cukup Relate dengan Kehidupan Saat Ini

Dalam film ini, hubungan Sikka dengan ayahnya terbilang cukup relate dengan kehidupan saat ini, di mana beberapa orang tua masih mencampuri dan mengatur kehidupan anaknya sampai dewasa.

Sikka menyuarakan isi hatinya bahwa ia merasa ayahnya terlalu banyak mengambil kontrol dalam hidupnya. Ia juga merasa dikekang sampai tidak dapat memilih pilihannya sendiri. Oleh karena itu, dalam film ini, penonton akan melihat bagaimana proses pembangunan karakter dan hubungan di antara Sikka dan ayahnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Selain kain tenun dengan corak beragam yang digunakan dalam film Nona Manis Sayange, film ini juga akan mengenalkan para penonton dengan salah satu budaya Suku Manggarai di mana sang pria harus membayar belis sesuai dengan nominal yang telah ditentukan. Belis sendiri merupakan mas kawin yang diberikan pihak laki-laki (anak wina) kepada pihak perempuan (anak rona) sebagai simbol penghargaan terhadap harkat dan martabat perempuan. Besaran belis yang dibawa pun bervariatif, tergantung dari kekuatan negosiasi antar kedua belah pihak.

Halaman
Show All
Nadia Nurhaliza, Telni RusmitantriTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan