Setara Influencer, Kuntjoro Pinardi Sukses Menerangi Seribu Rumah Gelap di Desa Terpencil Papua

Sebelum melakukan aksi nyata setara bahkan melebihi influencer, Kuntjoro adalah seorang diaspora yang bermukim di luar negeri selama hampir 20 tahun.

Diperbarui 12 Agustus 2023, 23:59 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Menjalani kehidupan setelah merdeka, nasionalisme bisa dilakukan dengan memberikan sumbangsih bagi negara, termasuk lewat pembangunan. Hal itulah yang dilakukan oleh Dr. Ir. Kuntjoro Pinardi, M.Sc., alias Kuntjoro Pinardi, dengan aksi setara bahkan melebihi para influencer.

Sebagai cendekiawan, Kuntjoro Pinardi rela meninggalkan kehidupan impiannya demi membantu masyarakat pedalaman Papua. Kuntjoro Pinardi turun gunung dengan mengorbankan kariernya di Eropa untuk membantu memberikan penerangan kepada ribuan rumah gelap di pedalaman terpencil, ujung timur Indonesia.

Menariknya, bukan hanya membangun sebuah proyek. Kuntjoro juga melibatkan masyarakat untuk bergerak bersama. Artinya, ia juga meningkatkan kesejahteraan warga sekitar serta mengajak ratusan ibu-ibu untuk bekerja sama memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Sebelum melakukan aksi nyatanya membangun negeri, Kuntjoro adalah seorang diaspora yang bermukim di luar negeri selama hampir 20 tahun. Tak hanya berkarier di sana, Kuntjoro merupakan lulusan Delft University of Technology di Belanda dan juga seorang guru besar madya dari salah satu perguruan tinggi di Swedia.

Merelakan Karier Cemerlang di Luar Negeri Demi Menerangi Pelosok Indonesia yang Belum Terjangkau Listrik

Namun, hati dan pikiran Kuntjoro ada di Indonesia. Di tengah kesuksesan dan jaminan masa depan cerah, pada tahun 2004 ia justru memilih untuk pulang ke Tanah Air dan bekerja menjadi dosen serta profesional di bidang telekomunikasi dan IT. Ia juga turut andil dalam berbagai proyek teknologi dengan hasil yang baik.

Kisah penuh inspirasi dari seorang Kuntjoro Pinardi ini diawali pada tahun 2011. Beberapa putra bangsa kala itu mengabdikan diri bersama masyarakat Papua dalam Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), tepatnya di Desa Wehali, Sorong Selatan, Papua Barat.

Saat itu, Kuntjoro memikirkan tentang belum tersentuhnya pelosok-pelosok terdalam Indonesia oleh listrik meskipun sudah puluhan tahun merasakan kemerdekaan.

Kuntjoro mengakui ketertarikannya untuk mengambil dan melaksanakan pembangunan pembangkit listrik tenaga mikrohidro ini bukan semata karena faktor materi, tetapi juga ada faktor sosial di dalamnya.

 

Memperbaiki Image Branding Masyarakat

Secara tegas ia menekankan bahwa ketertarikannya untuk membangun Papua bukan karena proyek Mikrohidro, tetapi juga memperbaiki image branding masyarakat yang saat itu selalu memiliki stigma kurang baik bagi masyarakat Indonesia di daerah lain.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

“Nilai project saya waktu itu tidak besar, membangun Mikrohidro setara dengan 120 kilowatt. Jadi produksi bisa menangani daya 120.000, kira-kira bisa (mengaliri) 1.000 rumah,” kenang alumnus Universitas Gadjah Mada ini. Berbagai tantangan ia alami dalam Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro. Ia menceritakan bahwa desain untuk PLTMH di Desa Wehali tersebut ternyata memiliki kesalahan karena mustahil untuk membangun di tanah masyarakat yang bisa memicu konflik dan potensi gangguan dalam pembangunan proyek tersebut.  

Halaman
Show All
Ruly Riantrisnanto, Aditia SaputraTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan