Sukses

FIFA Uncovered: Sengkarut FIFA di Tengah Korupsi dan Suap Tuan Rumah Piala Dunia

Liputan6.com, Jakarta FIFA Uncovered merupakan serial dokumenter investigasi terbaru yang dirilis Netflix pada 9 November 2022. Serial ini digarap oleh Daniel Gordon dan diproduksi oleh Miles Coleman dan John Battsek. 

FIFA Uncovered mengungkap berbagai masalah yang muncul dalam tubuh federasi sepak bola dunia tersebut. Mulai dari suap hak siar, skandal korupsi para anggota komite eksekutif FIFA, korupsi yang dilakukan oleh petinggi federasi sepak bola antar benua, hingga strategi politik yang dijalankan oleh para petinggi FIFA untuk merebutkan kekuasaan di FIFA.

Menariknya, serial ini dirilis beberapa hari sebelum gelaran Piala Dunia 2022 yang berlangsung di Qatar. Serial dokumenter investigasi ini juga mengungkap konspirasi terkait bidding atau penentuan tuan rumah Piala Dunia di tahun 2018 dan 2022.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 5 halaman

Sepp Blatter: Godfather of Football

Serial dokumenter investigasi ini sebagian besar berfokus pada Joseph "Sepp" Blatter. FIFA Uncovered membuka tabir gelap bagaimana ia yang sudah berkecimpung di FIFA selama 40 tahun tersebut berhasil menjadi Presiden FIFA di tahun 1998.

Josep "Sepp" Blatter merupakan sosok yang membawa perubahan bagi sepak bola dunia. Ia berhasil menyebarluaskan seoak bola hingga ke benua Afrika. Sepp Blatter juga mampu meraih tampuk kekuasaan FIFA dengan jalan yang mulus. 

Dari kelihaiannya merebut kekuasaan di FIFA dan bisa bertahan di tengah skandal yang mencuat di tubuh organisasi itu, Joseph "Sepp" Blatter dilabeli sebagai Godfather of Football.

Selain itu, diceritakan pula bagaimana sang presiden FIFA jatuh dari tampuk kekuasaannya hingga dilarang berkecimpung di dunia sepak bola hingga 2028.

Serial dokumenter investigasi ini juga menceritakan sejarah FIFA sedari awal, tepatnya di tahun 1904. Di tahun tersebut, FIFA dipimpin oleh Robert Guerin.

Dan selama masa kepemimpinan Guerin dan presiden lainnya hingga tahun 1978, FIFA sama sekali tidak menekankan aspek komersial. Karena diisi oleh orang-orang amatir di bidang bisnis olahraga.

3 dari 5 halaman

FIFA dan Komersialisasi Sepak Bola

Semua itu berubah ketika Joao Hevelange menjadi Presiden FIFA di tahun 1978. Pada masa kepemimpinan Joao Havelange, FIFA mendapatkan uang yang banyak.

Di masa kepemimpinannya, FIFA mulai bekerja sama secara komersial dengan perusahaan swasta, seperti Coca Cola dan Adidas.

Coca Cola bekerja sama dengan FIFA untuk membantu memperluas jangkauan sepak bola kepada anak muda di seluruh dunia, khususnya di Benua Afrika dengan membuat coaching clinic hingga sekolah sepak bola. 

Selanjutnya, FIFA bekerja sama dengan Adidas. Dengan kerja sama itu, Adidas menyokong kebutuhan alat olahraga, seperti sepatu dan bola.

Sampai akhirnya, pemilik Adidas, Adolf Dassler membeli hak siar Piala Dunia dari FIFA lewat perusahaan miliknya yang lain, ISL. Dan dari situlah, berbagai permasalahan muncul.

Mulai dari suap hak siar, monopoli bisnis, hingga sports washing atau pembersihan citra negara melalui sepak bola.

4 dari 5 halaman

Isu Sports Washing

Dalam serial dokumenter investigasi tersebut juga diperlihatkan bagaimana sports washing dilakukan dengan bantuan FIFA. Sports washing merupakan pembersihan citra suatu negara atau pemerintahan melalui olahraga.

Sports washing nampak nyata ketika Hitler menggelar olimpiade 1936. Hitler ingin menampilkan kepada dunia bahwa negaranya tidak seburuk yang dikira dan jauh dari yang namanya otoritarianisme.

42 tahun berselang, tepatnya di tahun 1978, Piala Dunia digelar di Argentina. Pro dan kontra pun bermunculan, karena saat itu, Argentina dipimpin oleh Jorge Rafael Videla.

Pemberangusan demokrasi, penculikan demonstran yang menentang kebijakan sang penguasa, hingga pembunuhan yang dilakukan negara kepada orang-orang yang mengkritik Videla menjadi citra dari Argentina saat itu.

Namun, Joao Havelange seolah-olah menafikkan kondisi politik tersebut. Ia memilih Argentina untuk menggelar Piala Dunia 1978 dan baginya, itu Piala Dunia terbaik yang pernah dihelat.

Dan Videla? Mampu memperlihatkan citra Argentina kepada dunia bahwa negara Tango tersebut tidaklah seburuk apa yang dikira. Sports washing pun berjalan dengan bantuan FIFA.

5 dari 5 halaman

Kontroversi Rusia dan Qatar Jadi Tuan Rumah

FIFA Uncovered juga mengungkap bagaimana kontroversi yang terjadi saat penentuan tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022 yang berlangsung di Rusia dan Qatar. Tentangan dari beberapa pihak terjadi saat kedua negara tersebut dipilih menjadi tuan rumah.

Banyak pihak yang menuding ada suap saat penentuan tuan rumah Piala Dunia. Selain itu, ada pula yang mengkritik kedua negara tersebut yang tak siap untuk menjadi tuan rumah.

Mulai dari kondisi infrastruktur yang masih buruk, akomodasi, cuaca yang buruk, hingga negara yang tidak memiliki tradisi sepak bola bisa menjadi tuan rumah. Bahkan, Qatar dituding melakukan eksploitasi kepada para pekerja hingga ada beberapa yang meninggal.

Setelahnya, isu suap bidding Piala Dunia terus mencuat. Dan mengarah kepada beberapa petinggi komite eksekutif FIFA, seperti Jack Warner dan Chuck Blazer.

Sampai akhirnya, FBI pun turun tangan dan menangkap orang-orang yang terlibat dalam kasus tersebut. Kasus itu membuat citra FIFA semakin buruk dan bisa dibilang menjadi organisasi olahraga terkorup di dunia.

Menariknya, ketika situasi semakin memanas, Sepp Blatter tetap menjadi presiden FIFA, walaupun orang di sekitarnya diciduk oleh FBI. Namun, kondisi tersebut merupakan awal kejatuhan dari kekuasaan Sepp Blatter di FIFA.

Lantas, seperti apa cerita dan peristiwa yang tersaji secara lengkap? Langsung saja kalian tonton FIFA Uncovered yang sudah tayang di Netflix!

 

(*)

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS