Sukses

Resensi Film My Sassy Girl: Pertemuan Tiara Andini dan Jefri Nichol dalam Palet Warna Berhawa Romantis

Liputan6.com, Jakarta My Sassy Girl yang dibintangi Tiara Andini dan Jefri Nichol adalah adaptasi resmi dari film berjudul sama rilisan Korea Selatan pada 2001. Film My Sassy Girl versi Negeri Ginseng dibesut sineas Kwak Jae Yong yang juga membidani naskahnya.

Di negara asalnya, film ini tonggak sejarah. Dirilis ketika industri sinema Korea Selatan belum semaju sekarang, My Sassy Girl yang menempatkan Jun Ji Hyun dan Cha Tae Hyun di garis depan menoreh sejumlah pencapaian penting.

Diakui sebagai “titik balik” penyebaran Korean wave di dunia, My Sassy Girl menjual lebih dari 4,8 juta tiket. Ia panen pendapatan kotor 26 juta dolar AS di negeri sendiri. Ini komedi romantis dengan gross terbesar sepanjang sejarah sinema Korea Selatan.

Tak heran jika My Sassy Girl dibuat dalam banyak format dan versi oleh sejumlah negara. Di Indonesia, lisensi resminya dipegang Falcon Pictures. Berikut resensi film My Sassy Girl yang tayang di bioskop mulai 23 Juni 2022.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 7 halaman

Dunia Gian dan Sissy

Gian (Jefri Nichol) diutus ibu (Indy Barends) dan bapaknya (Surya Saputra) untuk menemui Tante Ruth (Vonny Cornellya), yang hendak menjodohkannya dengan seseorang. Berangkat dengan kereta api, Gian bergegas ke stasiun.

Di sana, ia melihat cewek sempoyongan hendak jatuh ke perlintasan kereta api. Gian menyelamatkannya. Apes, cewek yang diketahui bernama Sissy (Tiara Andini) itu muntah ke arahnya lalu semaput. Gian membawa Sissy ke hotel lalu meninggalkannya.

Setelah itu, Sissy menghubungi Gian untuk berbagai alasan dari makan bareng, merayakan 100 hari jadian, hingga bertemu ayah (Ferry Salim) dan ibunya (Aida Nurmala). Di balik sikap garangnya, Sissy menyimpan kesedihan dari masa lalu.

Suatu malam, setelah dugem bareng, Gian mengantar Sissy yang tak sadarkan diri ke rumah. Malam itu, ibunda Sissy meminta Gian berhenti kencan dengan putrinya. Sejak itu, hubungan keduanya merenggang.

 

3 dari 7 halaman

Agak Sulit Membayangkan

Agak sulit membayangkan Tiara dengan citra lembut dan feminin jadi cewek garang. Adegan memaksa penumpang kereta api memberikan kursinya untuk ibu hamil hingga memukuli Gian dieksekusi pelantun “Merasa Indah” dengan meyakinkan.

Di sisi lain, Jefri Nichol yang lakik banget dan playboy, bisa meresapi karakter Gian yang siksa-able. Latar belakang Gian juga lebih terang berkat performa duo Surya-Indy yang mengocok perut. Dominasi Indy di rumah dan ketidakberdayaan Surya meladeni istri terasa fresh.

 

4 dari 7 halaman

Peran Karakter Pendukung

Selain itu, ada Jaja Miharja yang tampil singkat tapi berkesan. Caranya memperkenalkan fasilitas hotel hingga kecurigaan terhadap tamu membuat 30 menit pertama My Sassy Girl terkesan meriah. Kekuatan lain, terletak pada palet warna yang digunakan Fajar Bustomi.

Hijau, biru, kuning dan turunannya terasa dominan lewat set lokasi serta kostum tokoh. Selain seragam batik SMA, kostum para tokoh cenderung tanpa motif. Kalau pun ada, biasanya bertekstur dengan warna senada dengan warna dasar. Penuh warna tapi tidak kehebohan. Hangat juga romantis.

 

5 dari 7 halaman

Sejalan dengan Alur Cerita

Ini sejalan dengan cerita My Sassy Girl dan efektif membangun dunia kecil Sissy-Gian yang bergejolak. Karakternya penuh warna, konflik beragam, “tidak aneh-aneh” karena fokus ke dua kutub bernama Gian dan Sissy.

Bukan tipe film yang bergerak cepat karena mencoba segaris dengan versi aslinya. Sejumlah penyesuaian dilakukan. Salah satunya, garis waktu. Fajar Bustomi tidak melemparkan kita ke awal 2000-an. 

Mengingat, pada tahun itu kondisi kereta api kita harus diakui belum keren. Penyesuaian budaya juga dilakukan di sejumlah adegan termasuk tempat kesukaan Sissy, yang adalah salah satu ikon wisata Jakarta.

 

6 dari 7 halaman

The Power of Tiara Jefri

Secara keseluruhan, My Sassy Girl berhasil menampilkan chemistry dan kombinasi unik Tiara-Jefri. Sejumlah adegan emosional dieksekusi keduanya dengan jitu. Tiara tak lantas kebanting saat diadu dengan Jefri, yang jam terbangnya lebih tinggi. Ragam emosinya sampai ke penonton.

Kentara sekali, Tiara belajar. Ia tahu mengolah rasa, mengekspresikan kesedihan dengan air mata maupun menangis tanpa air mata. Jefri Nichol pun berhasil melepas aura playboy. Pasangan Tiara-Jefri akan jadi idola baru generasi muda di masa mendatang.

 

7 dari 7 halaman

Perihal Soundtrack

Memasuki pertengahan, tensi film mengendur dan melambat. Frekuensi kelucuan para tokoh pendukung mengering. Aroma drama kian pekat. Untungnya, Fajar Bustomi memberi visual akhir yang simpel sekaligus manis.

Catatan lain, My Sassy Girl versi Korea Selatan melahirkan lagu tema ikonis “I Believe” yang dilantun Shin Seung Hun. Tembang ini “berformalin.” Didengar setelah 20 tahun pun tetap bikin hati ngelangut. Ini yang (maaf) tidak dipunya My Sassy Girl versi Indonesia: soundtrack yang nampol. Perkara langgeng atau tidak, biar waktu yang menguji. Film ini menghibur dan layak diapresiasi.

 

 

 

Pemain                : Tiara Andini, Jefri Nichol, Ferry Salim, Aida Nurmala, Surya Saputra, Indy Barends, Vonny Cornellya

Produser              : Frederica

Sutradara            : Fajar Bustomi

Penulis                : Titien Watimenna

Produksi              : Falcon Pictures

Durasi                 : 117 menit