Sukses

Sinopsis dan Review Cyber Hell: Exposing an Internet Horror, Menguliti Skandal Besar Nth Room di Korea yang Bikin Naik Darah

Liputan6.com, Jakarta Ada banyak contoh yang membuktikan bahwa dunia nyata lebih ngeri dari cerita fiksi, dan salah satunya ditampilkan dalam Cyber Hell: Exposing an Internet Horror. Film dokumenter Netflix ini mengungkap skandal besar mengenai jaringan penyebaran konten asusila, yang mengguncang Korea Selatan pada 2020.

Ini bukan sekadar jaringan penyebaran konten pornografi biasa. Dua pelaku utamanya, Cho Ju Bin alias Baksa dan Moon Hyung Wook alias Godgod, telah memanipulasi, memaksa, dan mengancam para perempuan muda untuk memberikan foto dan video dalam keadaan tak pantas. Para korbannya, banyak yang masih di bawah umur.

Gilanya lagi, rekaman ini kemudian disebar dalam chatroom yang mereka buat di Instagram. Anggotanya mencapai puluhan ribu. Skandal yang menimbulkan gelombang kemarahan besar rakyat Korsel ini, akhirnya dikenal dengan istilah kasus "Nth Room."

Bila rangkuman singkat ini sudah membuat Anda naik darah, tunggu sampai Anda menyaksikan dokumenter berdurasi 1 jam 45 menit ini. Berikut sinopsis Cyber Hell: Exposing an Internet Horror.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Dari Mata Jurnalis

Di awal film, kengerian kasus Nth Room diceritakan lewat mata orang-orang yang pertama kali menyibak kasus horor ini: para jurnalis. Yang pertama kali menginvestigasi kasus ini adalah jurnalis Kim Wan dari Hankyoreh. Awalnya, ia mengira ini adalah kasus penyebaran video pornografi yang lebih umum, dan artikelnya bisa rampung dalam waktu singkat. 

Namun semua itu berubah setelah ia mengetahui modus Baksa, pemilik chatroom tempat video dan foto tak pantas ini disebarkan. Baksa menipu perempuan yang hendak mencari kerja paruh waktu, dengan memintanya mengirim sejumlah foto, termasuk dalam keadaan minim busana. Ia juga minta dikirimi data diri, alasannya untuk data di tempat kerja. 

Namun yang terjadi pelaku kemudian memanfaatkan data-data tersebut untuk mengancam para korban, yang ia namakan "Budak Baksa." Ia minta korban melakukan apa pun yang ia perintahkan. Bila menolak, rekaman para korban akan disebar. Mulai dari tanpa busana, menjilat lantai kamar mandi, hingga menyakiti diri sendiri. 

Rupanya, Baksa bukan pemain tunggal. Ada lagi pemilik chatroom serupa yang memiliki nama samaran Godgod.  

3 dari 4 halaman

Baksa cs Melawan Balik

Salah satu hal mengerikan dari Baksa, adalah ia berani melawan balik para jurnalis ini. Ia menyiarkan informasi dan data diri Kim Wan, bahkan foto sang jurnalis. 

Saat artikelnya terbit, berita ini ternyata tenggelam dari informasi lain yang beredar di Korea. Baksa makin besar kepala. Ia menertawakan Kim Wan dan tim. Dua bulan mengendap, berita ini ternyata "dijemput" oleh media lain. Kali ini dari program investigasi dua stasiun TV ternama Korea, SBS dan JTBC. 

Baksa tetap melawan balik. Ia mengancam bila siaran mengenai dirinya disiarkan, ia bakal menyuruh salah satu korban untuk bunuh diri. "Dia sepertinya menyombongkan diri bahwa dia memiliki kekuatan untuk membuat orang bunuh diri," kata salah satu jurnalis. 

4 dari 4 halaman

Review Cyber Hell: Exposing an Internet Horror.

Dengan kejadian nyata yang melatarbelakanginya, Cyber Hell: Exposing an Internet Horror adalah sebuah tontonan yang dengan mudah membuat naik darah. Di sisi lain, dokumenter ini memberikan storytelling yang begitu enak untuk dinikmati. 

Bagian wawancara dari orang-orang yang terlibat dalam kasus ini, dilakukan dalam setting dan sinematografi yang makin memperkuat aspek drama dalam dokumenternya. Apalagi di bagian akhir, ketika penyingkapan kasus ini dilakukan oleh petugas berwajib. Klimaksnya adalah ketika kedok Baksa dan Godgod disibak ke hadapan pemirsa. Anda yang tak mengikuti peristiwa aslinya, dipastikan bakal terperangah menyaksikan fakta mengenai pelaku. 

 

Secara keseluruhan, Cyber Hell: Exposing an Internet Horror memang terasa lebih diniatkan untuk menggambarkan pengungkapan kasus ini. Sisi pergulatan emosional korban, tak disorot terlalu banyak, tapi tetap masih terasa. Terutama, lewat penyelipan sejumlah animasi untuk memperkuat reka ulang kengerian yang dialami para korban. 

Di luar semua kebejatan yang ditampilkan Baksa dan Godgod, Cyber Hell: Exposing an Internet Horror juga memberikan secercah harapan. Bahwa di tengah dunia yang mengerikan ini masih ada sekelompok mahasiswa, jurnalis, hingga peretas, yang tak takut mengambil jalan yang benar.