Sinopsis dan Review Downfall: The Case Against Boeing, Penelusuran Jatuhnya Lion Air yang Bikin Darah Mendidih

Sejak dirilis pada 18 Februari lalu, Downfall: The Case Against Boeing menempati posisi 10 besar top 10 tayangan Netflix di Indonesia. Berikut sinopsis film dokumenter ini.

Diterbitkan 28 Februari 2022, 14:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Film dokumenter Netflix baru, Downfall: The Case Against Boeing, memiliki kaitan dengan luka lama masyarakat Indonesia. Yakni jatuhnya pesawat Boeing 737 MAX milik Lion Air dengan nomor penerbangan JT-610.

Peristiwa yang terjadi pada 2018 tersebut menewaskan seluruh penumpang dan awak pesawat. Memakan korban sebanyak 189 jiwa, ini adalah salah satu insiden paling mematikan dalam industri aviasi Indonesia.

Sejak dirilis pada 18 Februari lalu, Downfall: The Case Against Boeing telah menarik perhatian pengguna platform streaming ini. Salah satunya terlihat dari judul film dokumenter ini yang terus menempati posisi 10 besar top 10 tayangan Netflix di Indonesia.

Seperti apa kisah yang disampaikan dalam film dokumenter ini? Berikut sinopsis Downfall: The Case Against Boeing.

Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Kesaksian Istri Pilot Lion Air

Video dibuka dengan pengakuan Sethi, istri pilot Lion Air  JT-610 Bhavye Suneja. Ia menceritakan rutinitas sang suami pada 29 Oktober 2018, yang ia kira akan sama seperti hari dinasnya sebelumnya. Salah satunya adalah telepon dari sang suami, yang menandakan ia telah mendaratkan pesawat di tempat tujuan dengan selamat. 

Namun pada hari nahas tersebut, telepon yang ia terima bukan dari pria yang ia cintai. Melainkan kabar hilangnya pesawat yang dipiloti sang suami. 

Kecelakaan Kedua

Setelah beberapa lama Sethi kehilangan harapan bisa bertemu kembali dengan suaminya dalam keadaan hidup-hidup. Dan benar-saja, akhirnya pesawat Boeing 737 MAX nahas ini ditemukan di Laut Jawa dalam keadaan sudah menjadi puing. Tak ada yang selamat dalam tragedi ini.

Besarnya skala kecelakaan ini membuat peristiwa tersebut menjadi perhatian masyarakat global. Segala hal dipertanyakan, termasuk kapasitas Bhavye Suneja sebagai pilot, yang sebenarnya memiliki jam terbang cukup tinggi.

Hingga akhirnya sekitar lima bulan kemudian, sebuah kecelakaan pesawat terjadi di belahan dunia lain. Satu faktor yang sama dari dua kecelakaan ini: terjadi pada pesawat Boeing tipe serupa dengan milik Lion Air.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Pesawat Boeing 737 MAX kedua yang jatuh dalam waktu berdekatan adalah Ethiopian Airlines penerbangan 302. Seperti di Indonesia, seluruh penumpang dan awak pesawat tewas.  Penyelidikan yang dilakukan berbagai pihak menemukan adanya sistem dalam pesawat tipe ini, MCAS, yang memiliki kaitan besar dalam dua kejadian kecelakaan ini. Sistem yang krusial dalam sistem penerbangan ini ternyata tak diketahui sama sekali oleh para pilot yang menerbangkan pesawat ini.  Alasan yang diungkap dalam film dokumenter ini bikin darah mendidih, demi menghemat anggaran.

Halaman
Show All
Ratnaning Asih, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan