Sukses

Viral Menteri Risma Minta Anak Tuli Bicara, Surya Sahetapy Imbau Masyarakat Hindari Sikap Linguicism

Liputan6.com, Jakarta - Nama Menteri Sosial RI, Tri Rismaharini viral di medsos saat meminta anak penyandang disabilitas yang tuli berbicara tanpa menggunakan bahasa isyarat dalam sebuah acara. Walhasil sang Menteri panen kritik pedas.

Tak terkecuali, putra Ray Saherapy dan Dewi Yull, Surya Sahetapy. Aktor muda ini mengkritik menteri Risma dengan mengunggah tangkapan layar sebuah artikel media daring di akun Instagram terverifikasinya.

Bersama unggahan tertanggal 2 Desember 2021 ini, Surya Sahetapy mengingatkan publik bahwa tak semua anak bisa bicara. Karenanya, masyarakat harus bisa berempati dan memberi dukungan.

 

Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

 

2 dari 5 halaman

Tak Semua Bisa Bicara

Tidak semua anak bisa berbicara. Faktor bicara itu berdasarkan tingkat pendengaran mereka, investasi alat bantu dengar yang nilai puluhan-ratusan juta, terapi wicara yang berkesinambungan yang biayanya tidak murah,” tulis Surya Sahetapy.

Bintang film Sebuah Lagu Untuk Tuhan dan Aisyah Biarkan Kami Bersaudara mengingatkan, problem lain yang dihadapi anak tuli adalah pendidikan luar biasa di Indonesia yang dinilai belum humanis.

 

3 dari 5 halaman

Tanyakan Komunikasi

Surya Sahetapy juga memohon agar anak yang tuli diberi kesempatan menentukan pola komunikasi yang nyaman untuk mereka. Lalu, ia mengingatkan bahaya sikap Linguicism.

Tanyakan komunikasi mereka bukan kita menentukan komunikasi mereka demi kepuasan kita tanpa memahami kenyamanan mereka. Hindari sikap linguicism ya kawan-kawan!” ia mencuit.

 

4 dari 5 halaman

Linguicism, Apa Itu?

Surya Sahetapy menerangkan, Linguicism merupakan pandanga yang menganggap orang pakai bahasa (termasuk Indonesia) secara lisan lebih pintar daripada orang menggunakan bahasa isyarat.

Mewakili mereka yang tuli, Surya Sahetapy memberi tahu, “Bahasa isyarat merupakan bahasa ibuku, bahasa Indonesia merupakan bahasa kedua bukan berarti saya tidak berkompeten sebagai warga negara Indonesia.” 

5 dari 5 halaman

Mari Rombak

Aktor kelahiran Jakarta, 21 Desember 1993, ini memang dikenal sebagai aktivis tuli. Di pengujung status teksnya, Surya Sahetapy berharap agar sistem sosial dan pendidikan di Indonesia dirombak.

Mari ROMBAK sistem sosial dan pendidikan yang kejam di Indonesia! Sebelum 2045, ya Tuhan!” ia mengakhiri. Unggahan Surya Saherapy direspons ratusan warganet yang mengirim empati dan dukungan.