Resensi Mulan: Seorang Gadis Selamatkan Dinasti dalam Keindahan Artistik, Kostum, dan Sinematografi

Versi live action Mulan kembali dibicarakan warganet setelah film yang dibintangi Liu Yifei itu bisa diakses secara resmi di jalur reguler.

Diterbitkan 06 Desember 2020, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Kesan pertama menyaksikan Mulan, kami jatuh hati pada sinematografi yang bergerak dalam beragam konsep. Pertama, lanskap yang tak sekadar indah. Beberapa kali sinematografer Mandy Walker membuat perbandingan.

Kekuatan Sinematografi

Misalnya, saat Mulan berhasil memaksimalkan unsur Chi dan mencapai kuil tertinggi bersama dua ember kayu. Ia justru diperlihatkan seperti noktah dalam panorama yang luas. Lewat gambar ini, kita diingatkan bahwa manusia pada hakikatnya kecil jika dibandingkan semesta. 

Kedua, closeup yang memperlihatkan beragam ekspresi. Dalam perang, tak ada kemenangan murni mengingat ada mayat-mayat yang bergelimpangan. Para tokoh dalam Mulan mayoritas mengirim emosi negatif dari amarah, takut, dan kepedihan.

Bangunan emosi para tokoh menciptakan atmosfer kengerian. Di antara keduanya, kita melihat adegan simbolis. Khususnya, tatap muka Mulan dan Xianniang. Mulan melihat sebagian dirinya ada dalam penyihir begitu pun sebaliknya. Yang membedakan hanya jalan hidup.

 

Pedang dan Darma Bakti

Tatap muka terakhir dua tokoh ini mendefinisikan refleksi atau reflection, yang kemudian dikenal sebagai lagu tema Mulan. Niki Caro mengambil esensi atau nyawa animasi Mulan lalu dibuat hidup sehidup-hidupnya.

Tentu tak 100 persen sama. Adegan mengembalikan pedang absen. Tampaknya, Niki Caro dan tim naskah menilai, ada yang lebih penting dari pedang. Yakni, darma bakti.

Keputusan Mulan kembali ke rumah dan bersimpuh minta maaf dijawab sang ayah dengan raut memerah, mata berkaca, dan bahagia yang membuncah. Itu tak bisa dikonversi dengan pedang mana pun.

Bukan Romantisme Tapi Keluarga

Mulan versi live action jelas tak bisa memuaskan semua pihak. Koneksi Bori Khan dan Xianniang di awal terasa nanggung. Ikatan kedua tokoh penting ini baru menguat memasuki tengah film.

Dan… lagu tema film ini kurang kuat jika dibandingkan dengan lagu-lagu dari film Disney lainnya. Kalau soal kualitas vokal, tak perlu ragu pada Christina Aguilera. Satu lagi, unsur romansanya tipis-tipis alias malu-malu.

Yang ditonjolkan Mulan memang bukan romantisme. Ada dua pesan penting yang kami tangkap. Pertama, sejauh apapun kita melangkah, akhirnya akan pulang ke keluarga.

Sebuah Pencapaian Teknis

Keberhasilan dalam sebuah perjalanan dimulai dari satu pertanyaan penting yang dilontar penyihir yakni, siapa kamu? Pertanyaan ini harus dijawab dengan jujur. Di luar plus minusnya, Mulan adalah perjalanan yang sangat menggugah.

Sebagai karya seni ia simbol pencapaian teknis dari aspek sinematografi yang tepat guna sekaligus detail. Detail juga tampak pada tata artistik, rias wajah, dan kostum. Elemen-elemen teknis berikut ekspresi para tokoh mempersilakan kita masuk untuk mengarungi gilanya dunia Mulan. 

 

Pemain: Liu Yifei, Donnie Yen, Gong Li, Yoson An, Jason Scott Lee, Ron Yuan, Jet Li, Tzi Ma

Produser: Chris Bender, Jake Weiner, Jason T. Reed

Sutradara: Niki Caro

Penulis: Rick Jaffa, Amanda Silver, Lauren Hynek, Elizabeth Martin

Produksi: Wal Disney Pictures

Durasi: 1 jam, 55 menit

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan