Sukses

Dena Rachman Pindah Agama, Nangis Saat Terpuruk dan Diingatkan Masih Ada Harapan

Liputan6.com, Jakarta Dena Rachman mengungkap perjalanan spiritualnya. Sejak kecil, Dena Rachman penasaran dan ingin belajar kehidupan sejumlah nabi. Beranjak dewasa, ia pun bergumul dan terus mencari.

Sempat menjadi ateis atau tak percaya Tuhan, Dena Rachman memasuki episode baru kehidupan dengan mencari Sang Khalik. Ia berpendapat, manusia kehilangan kendali jika tak punya pegangan.

“Pada akhirnya gue menyadari harus begini-begitu, harus sukses menurut definisi gue dan dunia. Ujung-ujungnya gue capai, enggak nyampai, enggak dikasih,” Dena Rachman mengenang.

2 dari 5 halaman

Kegagalan Adalah Nama Tengahku

“Gue bisa bilang, ada masa di mana gue merasa bahwa kegagalan adalah nama tengah gue. Gue merasa gagal dalam segala hal dari hubungan pribadi sampai bisnis,” beri tahu Dena Rachman.

Tahun 2015 sampai 2017, ia mengalami masa kelam. Nyaris semua rencana dalam karier hingga hubungan pribadi kandas. Bahkan, Dena Rachman tak berani berharap saking sering gagal.

3 dari 5 halaman

Liburan ke Amerika

Ini terungkap dalam video bertajuk “Sempat Ateis, Akhirnya Dena Rachman Percaya Pada Tuhan” yang mengudara di kanal YouTube Daniel Mananta Network, Selasa (17/11/2020).

“Waktu itu gue liburan ke Amerika, ke Los Angeles ceritanya. Gue stay sama teman. Jadi sebelumnya ada bokap teman meninggal, ada misa dan gue ikutan. Gue merasa damai segala macam,” ia mengingat.

4 dari 5 halaman

Waktu Itu Natal...

“Pas gue di sana, gue nanya kalau di sini tuh ke mana lo pergi. Waktu itu Natal dan iseng jalan-jalan. Tiba-tiba gue buka brosur, isinya kami terbuka untuk semua orang termasuk warna kulit dan gender,” bintang film Flight 555 membeberkan.

Saat itulah, Dena Rachman merasakan kehadiran Sang Khalik. Ia pun memberanikan diri datang ke gereja. Di sana, tak ada stigma dan penghakiman. Dena Rachman merasa diterima dan menangis. 

5 dari 5 halaman

Pertama Kali Datang ke Gereja

“Pertama kali datang ke gereja gue nangis waktu itu,” kata Dena Rachman. Kemudian ia mendapati kalimat berbahasa Inggris yang artinya, “Ketidakberdayaan adalah sebuah situasi, tidak ada harapan adalah sebuah keputusan.”

Dalam kondisi tak punya harapan, Dena Rachman menemukan semangat. “Saat itu, tiba-tiba gue punya harapan lagi. tiba-tiba gue mau hidup lagi, tiba-tiba mau usaha lagi, dan mau ikut Tuhan Yesus dengan apa pun yang telah Ia kerjakan,” pungkasnya.