Wawancara Eksklusif Luhki Herwanayogi, Sineas Peraih Gold Award di Ajang Viddsee Juree Awards Indonesia 2020

Luhki Herwanayogi berhasil meraih Golden Award di ajang Viddsee Juree Awards Indonesia 2020 lewat karyanya berjudul Har.

Diterbitkan 21 Oktober 2020, 14:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Tantangan Terbesar

Mengambil setting di tahun 1998, Luhki mengaku jika ia dan tim harus melakukan riset secara mendalam sebelum mengeksekusi film tersebut. Bagi dia, menghadirkan realita yang sesuai dengan kejadian kala itu adalah tantangan terbesarnya saat menggarap film Har.

“Mulai dari cerita dan latar belakang karakter, konflik-konflik yang relevan, hingga artistik dan pakaian yang dikenakan, semua berdasarkan riset,” ungkapnya.

Untuk penonton yang kurang memahami kondisi politik dan ekonomi di tahun 1998, Luhki menggambarkannya lewat sejumlah adegan. Salah satunya ketika ayah Har sedang berkumpul dengan warga, lalu mereka berbincang tentang kondisi terkini di ibu kota. 

Ending Film

Film Har sebenarnya memiliki premis sederhana, yaitu bocah laki-laki, kesepian, menunggu kepulangan ibunya yang seorang TKW di luar negeri tetapi tak kunjung tiba. Namun, bagi yang sudah menonton film ini, pasti akan timbul rasa penasaran di balik ending ceritanya. 

Ke mana sebenarnya ibu Har? Apa yang terjadi dengannya sehingga tidak jadi pulang? Lantas, sang sutradara mengaku jika dirinya memang sengaja merancang akhir cerita yang memunculkan pertanyaan kepada penonton. 

“Saya memang tidak ingin memberikan jawaban di film ini. Karena ini adalah simbol tentang banyaknya ‘pekerjaan rumah’ yang juga belum terselesaikan tentang isu-isu di negara ini yang saya angkat dalam film,” aku Luhki.

Proyek Baru

Kini, Luhki Herwanayogi tengah menyiapkan proyek baru. Ia memiliki dua naskah film pendek yang siap untuk digarap. Naskah pertama mengangkat konflik hubungan beda agama, sementara yang kedua mengulas tentang isu kesehatan mental.

“Saya pikir keduanya adalah masalah penting yang kadang luput dari perhatian. Dan kebetulan saya sedang cukup menaruh perhatian dengan hal ini,” pungkasnya.

Pemilik rumah produksi Catchlight Pictures Indonesia itu juga mengatakan jika dirinya sedang mengumpulkan dana dan mencari pihak-pihak yang ingin bekerja sama untuk mewujudkan naskah tersebut.

Sebelumnya, Luhki juga pernah membuahkan dua film pendek lain, yaitu On Friday Noon serta Don’t Play Alone

Nah, bagi yang ingin menonton film-film pendek dari sineas lokal maupun Asia, bisa langsung mengunjungi kanal Viddsee Indonesia maupun Parade Film Pendek di platform streaming Vidio.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Asri Muspita Sari, Telni RusmitantriTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan