White Snake: Legenda Siluman Ular Putih, Tak Seperti Yang Kita Lihat di Televisi

Legenda siluman ular putih pernah jadi serial paling hit di SCTV era 1990-an. Kini diangkat ke layar lebar dalam format animasi. Ada sejumlah perbedaan.

Diterbitkan 02 Mei 2020, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Setengah jam pertama menyaksikan White Snake terasa sekali bedanya dengan seri televisi. Pertama, nama karakter beda. Hubungan antartokoh pun tak sama. Ular putih dalam White Snake berstatus adik si ular hijau. Tokoh Han Wen yang penuh pengorbanan mewujud dalam diri Ah Xuan. Entah di mana Fa Hai sang biksu.

Perbedaan dengan Serial Televisi

Sejumlah tempat ikonis seperti toko obat dan pagoda juga tak ada. Yang sama antara animasi dan serial televisi yakni, esensi film tentang cinta tak memandang perbedaan dan kebaikan bisa datang dari mana saja. Kesamaan lain, intro lagu penutup serial White Snake Legend muncul di tengah film.

Ini semacam tribut. Dinyanyikan oleh nelayan yang mengantar Ah Xuan dan Blanca menuju bengkel Yong Zhou. Belum sempat melafalkan lirik, Ah Xuan menyela dengan lagu baru. Unsur nostaligia seketika terputus. Yang dinyanyikan Ah Xuan bukan sembarang lagu.

Nyanyian dan Tema Universal

Penggalan liriknya berbunyi, “Matahari di atas, terbenam di balik perbukitan. Terbit semaunya tak ada keemasan saat itu bersinar. Kehidupan ini berjalan, berlalu… itu merupakan impian.” Lagu ini akan jadi kunci di adegan klimaks yang membuat air mata menetes dan napas tertahan.

White Snake film animasi dengan tema universal. Selain pengorbanan, ia berbicara tentang yang terlemah pun bisa berkontrobusi di masa krisis bahkan memimpin sebuah pergerakan. Wujud atau rupa tidaklah penting.

Yang bentuknya manusia seutuhnya bisa kesetanan akibat gagal menguasai diri. Yang berwujud iblis justru bisa memperlihatkan sisi kemanusiaan yang sejati. Inilah nyawa Legenda Ular Putih dari era 1990-an di SCTV hingga kini.

Menarik dan Terkonsep

Ada beberapa adegan yang bikin deg-degan untuk ukuran animasi. Misalnya, adegan ciuman dan (maaf) bercinta. Untungnya ciuman ditampilkan dengan sangat elegan, jauh dari kesan vulgar. Begitu pula adegan memadu kasih tersamar oleh interior lalu dipersonifikasikan dalam wujud bara api.

Penceritaan film ini rapi. Pewarnaannya menarik dan terkonsep. Dari warna baju, pepohonan, suasana alam, dan hiruk pikuk desa berikut warganya yang melarat. Kemiskinan dan ratusan siluman mengerikan yang muncul di film ini tak lantas membuat kisah Ular Putih menjadi berat sekaligus muram. Dialognya tak receh dan urakan. Tetap kaya akan filosofi sementara kelucuan dibangun dari situasi dan interaksi antarkarakter.

 

Ciptakan Dunia Sendiri

White Snake versi animasi tampaknya ingin berdiri sendiri, membangun dunia kecilnya secara mandiri, lepas dari bayang-bayang para pendahulunya yang menyapa khalayak dengan format beragam. Ndilalah, usaha membangun dunia sendiri ini terbilang berhasil. Hasil akhirnya apik.

White Snake memenangkan sejumlah penghargaan di antaranya di China Critics Association Awards dan Chinese American Film Festival. Di Indonesia, film ini bisa Anda saksikan lewat aplikasi KlikFilm. Aplikasi KlikFilm bisa Anda unduh via IOS, Google Play Store, atau mengunjungi situs resminya.

 

 

Pengisi suara: Stephanie Sheh, Vivian Lu, James Sie, Matthew Mov, Kaiji Tang, Karen Huie, Paul Yen

Produser: Di Cui, Michael Sinterniklaas, Stephanie Sheh

Sutradara: Amp Wong, Ji Zhao

Penulis: Damao

Produksi: Light Chaser Animation Studios, Warner Bros.

Durasi: 1 jam, 39 menit

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Hernowo AnggieTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan