SHOWBIZ UNCENSORED: Kekasihku Check-In Dengan Bintang Sinetron Stripping Papan Atas (bagian 5)

Di bagian ke-5 Showbiz Uncensored atau kisah tamat, kemungkinan terkuat saat ini, Mister X adalah Rakyan. Sekali lagi, ini hanya kemungkinan terkuat. Katakanlah, 99 persen.

Diterbitkan 16 Maret 2020, 20:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Sorry Kara, gue enggak bermaksud menyamakan Wardhana dengan binatang. Ini, kan cuma ilustrasi. Kalau Doggy saja dibentuk karakternya. Apalagi Wardhana yang punya hati nurani. Ya, enggak?” ujar Rakyan. Aku mengangguk. Hari mulai gelap. Aku pamit pada Rakyan dan Mamanya. Ya Tuhan, Mama Rakyan membekaliku dua loyang brownies kukus. Oke, diet bisa kapan-kapan.

Harga Diri Ketinggian

Sesampainya di rumah, Mama mengabariku bahwa Bude Santi bakal ngunduh mantu bulan depan. Aku enggak mungkin enggak datang karena Bude Santi kakaknya Papa. Itu alasan kedua. Alasan pertama, saat aku SD, Bude Santi pernah menyelamatkanku dan Mama dari maling yang menyusup ke rumah.

Kejadian itu membuatku trauma bertahun-tahun. Papa memutuskan pindah rumah. Sekuat itu hubunganku dengan Bude Santi. Mumpung masih sebulan lagi, aku mengajukan cuti ke produser dan disetujui. Maklum, sejak kali pertama Perjodohan mengudara, aku belum pernah sakit (amit-amit!) atau mengajukan libur. Aku cuti Kamis, Jumat, dan Sabtu. Minggu memang libur.

Dua minggu sebelum cuti aku syuting adegan tambahan tiap Senin sampai Jumat untuk stok selama aku cuti nanti. Tokoh Renata tak boleh absen dari layar kaca satu episode pun. Renata dan Baskara magnet utama Perjodohan.

Rakyan ngotot mau mentransfer uang karena titip wingko babat, lumpia Mataram, bandeng presto, dan moci wijen. Aku bilang padanya enggak usah transfer, pasti kubelikan. Rakyan menolak. Ini cowok ya ampun, harga dirinya ketinggian. 

Sebulan Kemudian...

Aku, papa, dan mama mengambil penerbangan kedua dari Cengkareng. Kami menginap di hotel bintang 5 di kawasan Simpang Lima. Setelah check in, tidur siang, dan mandi, kami menuju ke kediaman Bude Santi.

Acara ngunduh mantu petang itu berjalan mulus. Keesokan harinya, akad nikah dan resepsi diselenggarakan secara maraton dengan adat Jawa. Besoknya lagi, tepatnya dini hari, papa dan mama mengajakku melihat matahari terbit di kompleks Candi Gedong Songo, di Ungaran, kabupaten Semarang.

Awalnya, aku malas. Booo, berasa enggak libur karena pagi-pagi mesti bangun! Karena yang meminta ndoro putri Kinasih alias mama, apa boleh buat? Kami berangkat pukul 3 dini hari dari hotel. Dalam perjalanan menuju candi, aku tidur di mobil. Kami sengaja merapat ke kompleks candi jelang subuh.

Pertengkaran Mama dan Papa

Ternyata benar, matahari terbit di Candi Gedong Songo sangat keren. Aku, kok pengin menangis saking bagusnya.

“Dulu Papa dan Mama pernah bertengkar hebat. Papamu pamit meeting dengan klien dari Korea Selatan. Berangkat pagi, balik dini hari dalam kondisi mabuk berat dan ada kondom di saku celananya. Mama tidak terima lalu pulang ke Semarang. Papa menyusul dan minta maaf sama Oma dan Opa,” kata Mama sambil memotret candi dengan lanskap pepopohan tersapu sinar mentari.

Jujur, aku enggak siap mendengar cerita ini. Mata yang semula riyep-riyep tiba-tiba melek 100 persen. Papa idolaku. Dia cinta pertamaku. Aku mau Wardhana sempurna kayak Papa. Pagi itu aku benar-benar syok.

“Apa pandanganmu terhadap Papa sekarang jadi berubah, Kara? Apa kamu jadi jijik sama Papa?” tanya Mama sambil memotret Candi Gedong IV.

Aku menoleh ke arah Papa yang sibuk hunting lutung alias monyet. Papa senang memotret makhluk hidup, sementara Mama hobi memotret alam.

Opaku Galaknya Setengah Mati

“Apa yang membuat Mama memaafkan Papa?” tanyaku.

“Mama enggak tahu. Selama di Semarang, Mama kepikiran Papamu terus. Mama kepikiran wajah Papa dengan matanya yang memerah karena menangis, kecewa pada diri sendiri, menyesal, dan merasa gagal mencegah kepergian Mama saat itu,” jawab Mama.

“Saat mendapati Papa menyusul ke rumah Oma dan Opa, entah kenapa Mama senang. Omamu sampai bilang begini: Akhirnya setelah seminggu, kamu tersenyum. Saat itu Mama sadar, dalam kondisi kritis pun Papa masih bisa bikin Mama senyum. Papa minta maaf di depan Oma dan Opa. Opa kamu yang gualaknya setengah mati bilang: Berani-beraninya kamu ke sini minta maaf. Kamu ndak malu?” Mama bercerita.

Melupakan Peristiwa Buruk

Aku lantas bertanya apa jawaban Papa kala itu. “Papamu bilang: Minta maaf perbuatan baik, jadi untuk apa saya malu? Saya ingin mendapat kesempatan kedua dari Kinasih,” Mama melanjutkan. Akhirnya Mama memaafkan Papa. Pengkhianatan itu terjadi persis tiga tahun setelah Papa dan Mama menikah.

Mama mengakui butuh waktu untuk melupakan peristiwa buruk itu. “Keesokan harinya, jelang subuh, Papa mengajak Mama ke Candi Gedong Songo. Malamnya kami menginap di hotel. Besoknya terbang ke Jakarta. Beberapa minggu kemudian Mama hamil. Kebayang enggak, kalau Mama memilih cerai. Kamu enggak akan lahir,” beri tahu Mama. Dua tahun kemudian, adikku laki-laki, Andika Puspito lahir. Andika kini kuliah di California, AS. 

Ternyata Papaku Enggak Sempurna...

Di Candi Gedong Songo, mama dan papa memperbarui janji. Mama memberi tahu, Papalah yang beride mengajakku ke candi bersejarah ini. Papa pula yang minta Mama untuk menceritakan sepenggal kisah pahit mereka. Begitulah, Papa lebih banyak diam. Tapi dalam diamnya beliau selalu berpikir dan bergerak.

Kata Mama, sejak tahu Wardhana selingkuh, Papa tak bisa tidur, memikirkan putrinya. Pagi itu aku enggak bisa menahan hati. Aku mendekati Papa dan memeluknya. Ternyata Papaku enggak sempurna. Justru karena itulah, ia tampak sempurna di mataku. Hari itu aku pulang ke Jakarta dengan sudut pandang yang baru tentang menjalin hubungan. 

Keesokan harinya, Wardhana menemuiku di lokasi syuting. Ia minta maaf dan aku menerima maafnya dengan satu syarat. Yakni, Wardhana tak boleh lagi syuting film, sinetron, FTV, atau apapun itu dengan Putri. Wardhana menyanggupi. Aku lega. Ia kemudian mengantarku pulang. Berganti hari, Wardhana menjemput dan mengantarku ke lokasi syuting. Tiba di lokasi, Rakyan senyum-senyum.

Putri Follow Aku Di Instagram

“Wah, level happy di muka lo udah 100 persen, nih! Berarti semalam ada yang rujuk,” Rakyan meledek. Rasanya orang ini pengin gue sambit pakai hair dryer. Baru mau aku timpuk, Rakyan menyodorkan kotak makan berisi brownies pandan kukus.

“Lo yakin mau nimpuk gue?” ujar Rakyan dengan muka songong. “Kalau butuh jasa pagar bagus buat ngawal Wardhana pas resepsi, nomor gue masih sama,” lanjutnya. Kami tertawa. Lalu mempelajari naskah terbaru. Saat sedang asyik menghafal, ponselku menyala. Sebuah notifikasi dari Instagram masuk. “Putri Gantari mulai mengikuti Anda,” beri tahu Instagram.

Follow back atau autoblock, nih?” tanyaku sambil menunjukkan notifikasi itu kepada Rakyan. Dia bilang, “Enggak usah di-follow back atau blok. Enggak penting.” Aku tak sudi mem-follow balik. Beberapa menit kemudian, Rakyan teringat sesuatu lalu membuka topik baru.

“Kar, lo masih ingat enggak, gue pernah cerita naksir Trisha?” tanya Rakyan dengan nada serius. Aku meletakkan naskah di meja dan memandanginya.

“Si gadis FTV yang syutingnya di Bali dan Yogya melulu itu? Jelas-jelas dia seminggu sekali nyamperin lo ke sini? Ya kali, gue enggak ingat,” kataku.

Gebetan Rakyan Menjajakan Diri

“Ada yang bilang Trisha jual diri secara online. Semalam dia melayani tamu di salah satu hotel di Kemang. Makanya semalam gue pulang duluan buat ngecek benar atau enggak,” beri tahu Rakyan. Kali ini mukanya kecut.

“Hasilnya?” tanyaku.

“Pulang syuting jam 11 gue ke hotel itu dan melihat dia di lobi. Lalu ada cowok paruh baya berkemeja batik nyamperin. Mereka lalu masuk lift.”

“Rakyan sayang, ketemu cowok di lobi hotel belum tentu melacur. Lagian lo tahu dari orang lain, kan? Sebentar deh, yang bilang ke lo tuh, siapa?”

“Gue juga enggak kenal orang ini, sih.”

“Idih, enggak kenal kok dipercaya. Aneh lo, Yan.”

“Orang ini seminggu terakhir kirim SMS ke gue, kasih tahu Trisha lagi di hotel mana,” ujar Rakyan sambil memperlihatkan beberapa SMS yang diterimanya. Menilik nomornya aku familier.

D*mn! Habis ngasih tahu gue soal perselingkuhan Wardhana sekarang dia SMS Rakyan,” ucapku dalam hati. (Selesai)

 

(Anjali L.)

 

Disclaimer:

Kisah dalam cerita ini adalah milik penulis. Jika ada kesamaan jalan cerita, tokoh dan tempat kejadian itu hanya kebetulan. Seluruh karya ini dilindungi oleh hak cipta di bawah publikasi Liputan6.com.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Anjali LTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan