SHOWBIZ UNCENSORED: Aku Dilabrak Istri Sah Seorang Produser

Kisah terbaru Showbiz Uncensored kali ini tentang artis bernama Kavita Barata.

Diterbitkan 03 Februari 2020, 20:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Sarapan Buat Pak Janu

Saat jadi pemeran pendukung film Wajah Kuntilanak (2018), aku dikenalkan oleh manajer casting pada Pak Janu. Sepertinya, tanpa bermaksud ge-er, Pak Janu tertarik padaku.

Pagi hari, aku bangun lebih awal lalu membuatkannya sarapan nasi goreng, dengan potongan bakso, sosis, dan telur dadar yang kugulung layaknya di hotel bintang 4 atau 5. Aku juga menggoreng paha ayam. Plus teh tawar hangat. Pak Janu tampak senang.

“Di kulkas adanya ini, Mas. Maaf, ya?” sapaku sembari menghidangkannya di meja.

“Enggak perlu minta maaf, dong. Itu kulkas aku yang mengisi. Makanya, lain kali kamulah yang isi. Kan, uangnya tinggal minta ke Mas,” ujarnya.

Tunjangan Tiga Digit

Momen ini membuatku makin kepikiran. Sahabatku, Trika, bilang kalau aku sedang bermain api. Ujung-ujungnya, klasik, sih. Cepat atau lambat aku akan terbakar. Anehnya, setelah berminggu-minggu menjalani hubungan di belakang Ibu Parvati, kenapa aku tak kunjung hangus? Malah makin menikmati momen.

Akhirnya, aku menjawab ujaran Pak Janu tadi dengan berkata lirih, “Terserah Mas, saja.” Ia mendengar jawabanku, lalu mengangguk. Dan sejak itu, bukannya terbakar, aku malah kehujanan uang. Akibatnya, banjir bandang.

Perbulan aku mendapat tunjangan tiga digit. Itu belum termasuk kalau aku kerja betulan syuting film atau FTV, dibayar profesional. Pak Janu menginginkan permainan ini bergulir dengan cantik.

Ia tak pernah ikut campur kalau aku dimarahi sutradara karena berakting kurang dalam. Atau jika emosi yang kulepaskan kepada lawan main di depan kamera kurang gereget.

 

Telat Tiga Jam

Pernah, hari pertama syuting Perempuan Di Permakaman, aku dimarahi sutradara, Mas Priya, gara-gara hanya terlambat datang ke lokasi syuting tiga jam. Suasana hatiku jadi amburadul.

Malam harinya, pulang syuting, aku menuju kediaman Jakarta Selatan. Pak Janu lebih dulu sampai. Aku pun mengadu.

“Memangnya Si Priya itu enggak bisa diganti, apa? Aku tadi diomeli di lokasi syuting,” keluhku.

“Karena?” tanya balik Pak Janu.

“Telat tiga jam, aku mampir ke salon dulu,” aku menyahut.

“Terus Mas mesti memecat Priya dengan alasan memarahi pemain pendukung yang datang telat, sementara dua pemeran utama datang 30 menit lebih awal begitu?”

Aku hanya diam. Tidak berani melanjutkan komplain.

Habis Rumah, Terbitlah Mobil

Dua minggu setelah Lebaran 2019, aku diajak Pak Janu mengurus berkas-berkas kepemilikan rumah di Jakarta Selatan. Kediaman yang semula milik Janu Haridra kini atas nama Kavita Barata.

Habis rumah, terbitlah Toyota Alphard dua minggu kemudian. Sudah enggak paham lagi, sih definisi kalau bermain api kelak akan terbakar. Kuncinya, aku harus tetap profesional selama bekerja di lokasi syuting.

Pak Janu tak pernah membiarkan aku diperlakukan istimewa. Ya sudah, pintar-pintar aku membawa diri ke depan.

ART, Supir, dan Sekuriti Pribadi

Juli 2019, suatu pagi pintu kediamanku diketuk.

“Selamat pagi Ibu Kavita, saya Nani yang akan menjadi asisten rumah tangga ibu. Kalau ini, Seto supir pribadi ibu. Di sebelahnya Seto, Seno sekuriti untuk rumah ibu,” beri tahu Nani.

“Oh, kalian yang dijanjikan Bapak untuk menemani saya, ya? Masuk,” kataku.

Kepada tiga orang ini, aku memberi tahu apa yang mesti mereka kerjakan dan hak yang akan diterima setelah tugas ditunaikan. Baru selesai memberi arahan, pintu kediamanku kembali diketuk. Penasaran, aku membukanya.

Jadi Begini Tri...

“Kav, lo ke mana aja, sih? Setengah tahun lo ngilang gitu aja? Terus ujug-ujug semalam lo ngasih share location dan minta gue ke sini. Astaga Kav, kenapa mesti kayak gini, sih?” cerocos Trika, sahabat di rumah kontrakanku dulu.

“Sssssh! Sorry, sorry, gue minta maaf, Tri. Hayuk masuk ke kamar gue, yuk. Gue bisa jelasin semua ke lo,” ujarku sambil menarik Tri ke lantai dua kediamanku. Dengan raut muka bengong, Tri mau saja kugelandang ke lantai dua. Setelah pintu kututup dan kukunci, barulah aku bicara. 

"Jadi begini Tri...," aku memulai obrolan.

 

(Bersambung)

 

(Anjali L.)

 

Disclaimer:

Kisah dalam cerita ini adalah milik penulis. Jika ada kesamaan jalan cerita, tokoh dan tempat kejadian itu hanya kebetulan. Seluruh karya ini dilindungi oleh hak cipta di bawah publikasi Liputan6.com.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Anjali LTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan