SHOWBIZ UNCENSORED: Pacarku Ternyata Tidak Menyukai Wanita (Bagian 3)

Di bagian ke-3 Showbiz Uncensored makin seru kisah dramanya.

Diterbitkan 13 Januari 2020, 20:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

“Lin, Mas mau ngajak ngopi sekalian ngobrol sama Lina, boleh?” ajak Gema. Ajakan yang terdengar hati-hati. Tiga tahun syuting bareng Mas Gema, bertemu Senin sampai Sabtu. Aku tahu betul kebiasaannya. Kalau mendekat dengan bahasa yang hati-hati begini, biasanya ada hal superpenting dan tidak semua orang boleh tahu.

“Wah, kalau Mas Gema sudah ngomong kayak gini, Lina enggak punya pilihan lain. Minggu boleh Mas, aku cuma tapping talk show. Dari jam 9 sampai 12 siang. Habis itu bebas, sih,” jawabku sembari mengajukan jadwal.

Gondrong Gajebo

Gema langsung meng-ACC. Ia mengajakku ke rumah makan di kawasan Kebon Sirih Jakarta. Di rumah makan ini, ada beberapa ruang bersekat bagi mereka yang ingin suasana privat.

Gema memberi tahu nama ruang dan lantai berapa untuk lokasi pertemuan via WhatsApp. Ini makin menguatkan firasatku ada topik penting. Tiba di rumah makan, aku menuju ke lantai 2, dan bergegas ke ruang yang dimaksud.

Baru juga membuka pintu, Gema dengan kemeja lengan panjang kotak-kota biru dan celana jin hitam belel menyambut. Rambutnya masih saja gondrong gajebo alias gak jelas bo. Dia menjabat tanganku, memeluk, dan menepuk pundak kananku.

Kelakuan Artis Sinetron Zaman Now

“Katanya ngopi, ujung-ujungnya makan siang. Makin curiga gue kalau ada breaking news dari Mas Gema,” selorohku sembari duduk dan membuka menu.

“Jadi meski nomor sudah dihapus, kebiasaan gue masih lo ingat, ya?” sahutnya lalu memanggil pramusaji.

Ia memesan nasi lemak dan es lemon tea. Sementara aku yang belum sarapan memilih lontong cap go meh dan jus kedondong. Tak sampai sepuluh menit hidangan tersaji.

Kami menikmati makan siang sambil bercerita soal kelakuan blangsak para artis sinetron muda zaman now. Dari yang ogah syuting hujan-hujanan dengan dalih habis pewaratan rambut sampai mengaku sakit padahal syuting iklan produk buat akun Instagram mereka di rumah. Begitulah.

Drama Yang Tak Kalah Gokil

Usai makan siang, kami memesan buah potong, es krim, jus jeruk, dan jus stroberi. Nah, topik utama pun dimulai. Raut muka Mas Gema mulai serius soalnya.

“Sudah dengar kabar kalau SKS dibungkus, Lin?” Gema membuka obrolan.

“Sinetron Mas Gema dibungkus? Kenapa, deh?” aku malah bertanya balik.

“Apalagi kalau bukan karena rating dan share sialan. Kita bekerja, kan menghamba pada rating dan share, Lin. Lo, kan pernah mengalami ini selama tiga tahun. Tapi bukan itu poin penting yang mau gue omongin. Sepuluh hari menjelang SKS dibungkus, ada drama yang enggak kalah gokil,” Gema membeberkan sembari menyeruput jus stroberi.

 

 

Entah Apa Yang Merasuki Bu Nur

Suasana hening sejenak. Firasatku mengatakan ini tentang Riga. Ini sebatas dugaan. Akan tetap menjadi dugaan kecuali Gema membenarkan. Dan sialnya, dugaanku benar.

“Sepuluh hari jelang syuting episode terakhir, produser eksekutif kami, Ibu Nurani Purboko, sidak ke lokasi syuting. Yang pertama dituju jelas ruang pemeran utama. Lo tahu, kan produser eksekutif itu bahasa awamnya yang punya duit. Tanpa permisi ia punya kuasa buat ngapain aja. Dia menuju ruang Riga. Apesnya, jendela sedikit mengaga. Entah apa yang merasuki Bu Nur, dia tergerak buat menutup jendela. Katanya pembantu umum yang stand by di ruang Riga, sebelum menutup, Bu Nur sempat mengintip ke dalam,” cerita Gema, panjang.

Ekspresi Muka Sedatar TV Plasma

Oh Tuhan, keledai saja tidak mau jatuh ke lubang yang sama dua kali. Riga mungkin lebih buruk dari keledai itu sendiri. Aku sudah tahu kisah ini berujung ke mana. Tapi tak mau mendahului alur cerita.

Aku mendengarkan dengan seksama sambil memastikan ekspresi mukaku sedatar TV plasma. Sebelum melanjutkan cerita, Gema menatap langit-langit ruang kami makan. Ia menarik napas panjang, menenggak jus, dan menatapku tajam.

Aku jadi enggak enak hati. “Mas, are you okay?” kataku pelan-pelan sambil mengusap lengannya.

Perbaiki Kelakuan Riga?

“Riga lagi have sex dengan cowok. Bu Nur marah besar. Tapi semarah-marahnya Bu Nur, dia enggak pernah histeris. Adegan selanjutnya bisa ditebak, sih. Karakter yang diperankan Riga diceritakan mengalami kecelakaan, koma di rumah sakit, lalu meninggal. Lingga Atmaja yang semula pemeran pendukung naik tahta. Dalam kondisi seperti ini, Riga merasa tidak bersalah dan baik-baik saja. Itu yang bikin gue gondok bukan kepalang,” sambung Gema.

Belum sempat kujawab, dia bilang, “Gue berharap lo bisa bantu memperbaiki attitude-nya Riga, Lin.”

(Bersambung)

 

(Anjali L.)

 

Disclaimer: 

Kisah dalam cerita ini adalah milik penulis. Jika ada kesamaan jalan cerita, tokoh dan tempat kejadian itu hanya kebetulan. Seluruh karya ini dilindungi oleh hak cipta di bawah publikasi Liputan6.com.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Anjali LTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan