The Grudge: Misteri Tewasnya Satu Keluarga di Rumah 44 Reyburn Drive

Dibutuhkan kejelian untuk mengikuti alur maju mundur The Grudge agar Anda tak tersesat di tengah jalan.

Diterbitkan 04 Januari 2020, 20:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Relatif Mudah Ditebak

Bagian lain yang membuat film ini kacau, unsur kejut yang nyaris tak ada. Begini, efek kaget mutlak dibutuhkan dalam genre memedi. Berkaca dari The Ring alias Ringu (1998) misalnya, separuh film ini berisi drama dan penyidikan. Tak ada hantu yang muncul tiap lima menit sekali. Namun babak akhir membuat jantung penonton rasanya mau copot.

Pemunculan Sadako bagai tabuhan gong dengan efek gema menembus ruang dan waktu. Sekali muncul bikin orang trauma. Tak heran Sadako melegenda. The Grudge meneror penonton bahkan pada lima menit pertama. Cara menerornya pun klise. Tak perlu menonton film impor untuk mendapat teror semacam ini mengingat karya Nayato Fio Nuala alias Koya Pagayo bisa melakukannya.

Walhasil, The Grudge minim kejutan. Tangan menarik kaki korban, wajah mengendap dari bath tub berisi air, dan beberapa teknik penampakan lain yang mudah ditebak penonton dengan benar. Sensasi ngeri film ini dibangun berdasarkan pola The Grudge sebelumnya.

Temu Kangen

Bagi yang sudah khatam dengan Ju On berikut Mbak Kayako, versi Nicolas ini hanyalah ajang temu kangen. Apakah The Grudge tak bikin kaget sama sekali? Tidak juga. Ada satu momen yang melibatkan mobil, ini patut diantisipasi. Kami shock sampai menjerit di bioskop. Setelah itu, The Grudge bagai perairan pantai yang tenang hingga menit akhir.

Belum lagi, akhir film ini menurut kami menjengkelkan. Dikemas penuh gaya sehingga penonton masih menanti jangan-jangan ada sesuatu setelah credit title merayap. Bagi yang belum menonton Ju On, The Grudge berpotensi mengagetkan dan mengasyikkan. 

Gagal Menekan Kejiwaan Penonton

Daya tarik lain The Grudge terletak pada hubungan Muldoon dan putranya Burke (John). Dengan latar belakang muram, Muldoon dan Burke yang berusaha move on dari masa lalu menjadi kisah tersendiri yang menarik untuk diikuti.

Sayang, tak digali lebih dalam terkait beban psikologis mereka mengingat bukan itu menu utama film ini. Nicolas juga mengemas film ini seringkas mungkin. Tak lebih dari 100 menit. Atmosfer horor yang tidak berhasil menekan kejiwaan penonton plus minim efek kejut merupakan kelemahan The Grudge.

Tak Termaafkan Dan...

Kalau sudah begini, tak kaget jika versi Sarah Michelle Gellar tampak lebih baik. Dan tentu saja, versi asli karya Takashi Shimizu makin tak tertandingi. Menyaksikan versi ini membuat kami teringat tagline The Grudge 2004 yakni, it never forgives, it never forgets (tak termaafkan, tak terlupakan).

Film ini tampaknya tak termaafkan tapi mudah untuk dilupakan. Mengingatkan kami pada The Ring: Rebirth alias Rings rilisan tiga tahun silam yang berakhir mengecewakan. Jika ada waktu senggang, cobalah buktikan sendiri. 

 

 

Pemain: Andrea Riseborough, Demian Bichir, John Cho, Betty Gilpin, Frankie Faison, Lin Shaye, Tara Westwood, David Lawrence, Zoe Fish, John J. Hansen, Jacki Weaver

Produser: Sam Raimi, Rob Tapert, Taka Ichise

Sutradara: Nicolas Pesce

Penulis: Nicolas Pesce

Produksi: Screen Gems, Stage 6, Ghost House Pictures

Durasi: 1 jam, 34 menit

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Meiristica NurulTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan