SHOWBIZ UNCENSORED: Aku Disingkirkan dari Megaproyek Film Box Office (Bagian 3)

Di bagian ke-3 Showbiz Uncensored ini ada Zoel yang juga seperti cenayang yang selalu hampir tahu hal buruk maupun baik yang menimpa Mala, sang aktris.

Diterbitkan 04 Desember 2019, 20:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Muka Dangdut

Zoel memberi tahu, Hari dulu pernah bikin proyek film indi tentang pedangdut yang dilabrak perempuan pengusaha waralaba laundry baju. Pedangdut ini dituduh menggoda suami si pengusaha.

Tak punya cukup dana, proyek tak berjudul ini mangkrak. Dengar-dengar, dari hasil menggerakkan empat warung kopi di Jakarta selama beberapa tahun, Hari bermaksud melanjutkan proyek film ini.

Zoel menduga, Hari akan meminangku menjadi pemain. Ia menduga mukaku bisa didandani menor sehingga tampak dangdut banget. Kurang ajar si Zoel!

"Sekarang banyak keleus pedangdut yang riasannya enggak menor dan baju manggungnya berkelas," ketusku pada Zoel.

Film Ultra-Low-Budget

"Bukan itu poinnya, Nyet. Ini film ultra-low-budget. Kalau pun jadi pemeran utama, jangan harap honor lo lebih besar dari pemeran pendukung di Semalam Di Pelukmu," Zoel mengingatkan. Ya sudahlah. Belum tentu ia mengajakku bertemu untuk menawari peran.

Hari yang ditunggu pun datang. Untunglah janjian jam 4 sore, sebelum para pekerja kantoran se-Ibu Kota pulang. Jalanan lancar dan aku tiba di Tebet tepat waktu. Lebih awal malah.

 

Ramalan yang Tergenapi

Hari mempersilakanku duduk. Di meja, pisang goreng keju dan secangkir kopi Gayo menyapaku. Ramalan Zoel tergenapi. 

Hari menyodorkan segepok naskah sambil berkata, "Turut berduka atas tragedi Adya. Sorry gue enggak bermaksud mengungkit luka baru. Dan mohon naskah ini jangan dibandingkan dengan skrip yang minggu lalu masih lo baca, ya?"

Naskah setebal 197 halaman itu kubawa pulang. Besok siang, Hari ingin melihatku mengintepretasikan 1 atau 2 adegan dari naskah sekalian tes kamera. Pada hari itu, Hari yang berambut gondrong meyakinkanku.

Merangkap Pekerjaan

Keesokan harinya, aku mendatangi kantor Hari yang lebih mirip rumah kontrakan. Tak jauh dari kedai kopinya. Aku diminta memerankan pedangdut bernama Yuli Rejeki. Selain menyanyi, aku diminta bergoyang, dan mengeksekusi adegan menangis tak terima habis dicaci maki istri orang. Hari mengaku sudah tak punya pilihan lain kecuali aku.

Kemudian, ia menawarkan sejumlah angka untuk peran Yuli. Itu pun disertai catatan bahwa aku tak hanya berakting, tapi juga menyanyikan lagu soundtrack. Yap, merangkap pekerjaan. Alasannya, ia pernah melihatku meng-kover beberapa lagu lawas di YouTube.

Dilabrak Istri Tua

"Suara lo enggak jelek. Gue harus akui itu. Lo juga pernah mengkover lagu 'Kopi Dangdut'-nya Fahmi Shahab, kan? Cengkok lo oke," Hari memberi tahu. Aku hanya mengangguk. Sama seperti Hari, aku pun tak punya pilihan lain. Daripada menganggur gara-gara megaproyek sialan itu, lebih baik aku menghidupkan Yuli.

Lagipula, setelah mendengar lagu soundtrack-nya, liriknya bikin ngakak. Siapa tahu lagunya viral, eim? "Oh ya, Mala. Judul filmnya kuganti jadi Dilabrak Istri Tua. Kalau lo mau berubah pikiran karena malu dengan judulnya, inilah saatnya," sambungnya.

Siapa Yang Ngeres?

"Enggak, kok," sahutku.

"Judul soundtrack-nya, 'Goyang Sampai Becek.' Jangan ngeres dulu pikirannya. Ini maksudnya goyang heboh sampai keringatan. Becek keringatan, gitu," jelas Hari panjang lebar.

"Dih, siapa yang ngeres."

Hari kemudian memperkenalkanku ke beberapa tim yang sedang berdiskusi di area belakang kantor. Kami menandatangani kontrak kerja lalu membahas jadwal syuting. Intinya, aku syuting bulan depan selama 14 hari di Jakarta dan Bogor.

 

(Bersambung)

 

(Anjali L.)

 

Disclaimer: 

Kisah dalam cerita ini adalah milik penulis. Jika ada kesamaan jalan cerita, tokoh dan tempat kejadian itu hanya kebetulan. Seluruh karya ini dilindungi oleh hak cipta di bawah publikasi Liputan6.com.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Anjali LTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan