Midway: Bukan Pameran Akting Terbaik, Hanya Parade Perang Yang Bikin Bergidik

Di tangan Roland Emmerich, Midway menjelma jadi presentasi perang dari darat-laut-udara, harga diri negara, dan tentu saja drama para pelakunya.

Diterbitkan 13 November 2019, 13:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Lihai Gambarkan Situasi Perang

Berkali-kali mengemas film perang dan musibah, Roland tampak lihai menggambarkan situasi hingga strategi jelang Perang Dunia 2. Yang khas dari Roland, mahir menjual drama di sela perang. Pertentangan batin Dick Best saat kehilangan anak buah satu per satu, keangkuhan di tengah kehancuran, hingga interaksi dengan istri di atas kasur terasa komplit sekaligus menggigit.

Belum lagi drama Dick Best dan anak buah yang putus asa di kapal maupun percikan bromance antara ia dan Wade. Khas Roland, efektif mengikat atensi penonton.

Dua Segmen Perang

Roland dan Wes membelah peperangan di Midway menjadi dua segmen yang disajikan silih berganti. Pertama, strategi diplomasi. Ini dibawakan dengan baik oleh Patrick Wilson, cenayang dari jagat The Conjuring. Sebagai armada kantoran, interaksinya dengan petinggi Jepang plus diskusi alot bareng Chester dan pihak Washington menciptakan spektrum warna menyolok di tengah gempita perang. Ia menjadi menu pendamping, tapi tetap penting.

Suguhan utama Midway tentu saja perang berjilid-jilid. Segmen ini dieksekusi dengan ciamik lewat detail pergerakan tokoh utama serta armada pendamping.

 

Efek Golden Scene

Perang terjadi berkali-kali. Sekali perang terdiri beberapa babak kecil. Roland jeli memilih beberapa segmen untuk digarap lebih detail seperti upaya menggempur lawan yang melibatkan tokoh utama. Ibarat jurnalis, Roland menyuguhkan adegan secara berimbang.

Tak hanya memperihatkan aksi heroik Dick Best dan Wade, Roland memotret kinerja armada Jepang. Termasuk, prinsip hidup mereka dalam mempertahankan harga diri dan martabat negara. Momen paling besar di film ini, saat Dick Best dan tim berupaya menjatuhkan bom ke kapal Jepang.

Pesawatnya yang menukik, diguyur ratusan timah panas yang menyembur bak kembang api. Golden scene ini menciptakan efek mendebarkan berkat sinematogtafi, efek visual, dan tata suara yang mempersilakan penonton masuk ke medan laga.

 

Tentang Mandy Moore

Pemilihan Ed Skrein sebagai pemeran utama sangat pas. Riasan membuat wajah aktor Inggris ini tampak klasik, tegas, menguatkan kesan pongah sekaligus narsistik. Di sisi lain, gestur, pola pikir, dan gaya bicaranya membuat penonton tak punya pilihan lain selain bergantung padanya.

Chemistry Ed Skrein dengan Mandy Moore kurang terekspos. Beruntung raut wajah pelantun "I Wanna Be With You" ini di beberapa adegan, khususnya ketika ditinggal suami dinas, menciptakan efek sendu yang membuat kita berempati padanya dan para istri tentara lain.

Kita juga dipukau pertautan Patrick dan Woody, serta Ed bareng Luke. Tidak intens namun cukup membuat kita paham apa itu bromance dan betapa penting kerja tim dalam kondisi supergenting. Midway bukan parade akting terbaik. Melainkan, rentetan situasi perang yang bikin kita bergidik.

 

Salah Satu Puncak Karier Roland

Catatan lain sebenarnya datang dari konfigurasi pemain. Saat film selesai dan wajah asli para pelaku sejarah muncul, kok terasa kurang mirip dengan pemain.

Harapan kami, Hollywood dengan teknologi mereka yang maju setidaknya mampu membuat garis wajah pemain senada. Atau bisa jadi tim penata rias tak dituntut melakukannya karena para pelaku Midway yang asli tak begitu dikenal luas. Sehingga, penonton lebih bebas membayangkan dan "terima jadi" dengan para pemain yang lolos audisi.

Midway merupakan salah satu puncak karier Roland Emmerich. Dua jam lebih mengikuti peperangan dari darat, laut, dan udara sungguh membuai mata, telinga, maupun pemikiran. Harga perang sangat mahal. Dampaknya membekas hingga puluhan tahun sesudahnya.

Perang adalah hal yang tak diinginkan siapa pun dengan alasan apa pun. Terlepas dari kekurangan dan kelebihannya, Midway layak disebut sebagai film wajib tonton bulan ini. Enggak perlu repot-repot berpikir dan mencerna karena Roland selalu bertutur gamblang.

 

Pemain: Ed Skrein, Patrick Wilson, Luke Evans, Aaron Eckhart, Nick Jonas, Mandy Moore, Etsushi Yamamoto, Woody Harrelson, Luke Kleintank

Produser: Harald Kloser, Roland Emmerich

Sutradara: Roland Emmerich

Penulis: Wes Tooke

Produksi: Lionsgate

Durasi: 2 jam, 18 menit

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Hernowo Anggie, Fadjriah NurdiarsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan