5 Hit Besar Potret Karya Melly Goeslaw Sebelum Lagu Nana Nana

Kini selain Melly Goeslaw dan Anto Hoed, Potret diperkuat Aksan Sjuman (drum), Nikita Dompas (gitar), dan Merry Kasiman (kibor atau piano).

Diterbitkan 05 November 2019, 10:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Potret salah satu grup musik fenomena di dekade 1990-an. Merilis album bersama label Aquarius Musikindo, Potret kala itu diperkuat Melly Goeslaw (vokal), Anto Hoed (bas), dan Ari Ayunir (drum).

Setelah album Potret II (1997), Ari Ayunir mundur. Kini selain Melly Goeslaw dan Anto Hoed, Potret diperkuat Aksan Sjuman (drum), Nikita Dompas (gitar), dan Merry Kasiman (kibor atau piano).

Bulan ini, Potret merilis album baru dengan single perdana “Nana Nana.” Showbiz Liputan6.com mengajak Anda kilas balik mengingat sejumlah hit besar yang dilahirkan Potret.

 

 

Salah (Potret II, 1997)

Di era 1990-an, mayoritas lagu Indonesia menempatkan perempuan sebagai korban percintaan. Temanya kalau tak patah hati, ya jatuh cinta sampai berbunga-bunga.

“Salah” hadir dengan premis, bagaimana jika perempuan menjadi pelaku perselingkuhan karena diselingkuhi. “Salah” sebenarnya kisah cinta tragis. Cewek dipacari cowok yang doyan selingkuh.

Ia membalas dengan cara serupa. Melly Goeslaw menyanyi tanpa beban, bahkan riang. “Kucinta kamu bukan berarti kutak mendua. Sayang kau nilai aku salah,” ujar Melly mendefinisikan cinta dari sisi gelap dan getir.

 

 

Mak Comblang (Potret II, 1997)

Jauh sebelum istilah teman makan teman meledak, Melly dengan visioner meramal fenomena ini akan terjadi. Belum ada medsos dan ponsel pintar, komunikasi di era itu memakai surat.

Melly diminta sahabat mengirim surat ke pacarnya. Di luar dugaan, pacar sang sahabat sangat menarik. “Kupikir-pikir daripada buat temanku, mendingan aku yang ambil kesempatan ini,” kata Melly dengan centil.

Kurang ajar sekali, bukan? Apa Melly layak disalahkan? Tidak juga. Sahabat yang terlalu percaya teman patut disayangkan. Belum lagi jika pacar sahabat ternyata doyan juga.

 

 

Bunda (Potret II, 1997)

Setelah “Salah” dan “Mak Comblang” memotret sisi gelap perempuan, Melly Goeslaw menulis tembang paling indah dalam sejarah. Minus bas dan gitar, “Bunda” berbalut iringan piano mengajak pendengar merenung soal cinta tak bersyarat dari seorang ibu.

“Bunda” sinonim kata indah, merdu, dan lembut di saat bersamaan. Dinyanyikan dengan khusuk oleh Melly, “Bunda” mengingatkan kita pada pencapaian tertinggi wanita. “Oh Bunda, ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku,” ungkap Melly dengan tulus. Pernah, kami mendengar lagu ini dalam perjalanan mudik. Air mata pun menetes.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Halaman
Show All
Liputan6.com, Hernowo AnggieTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan