Perempuan Tanah Jahanam: Bukan Horor Generik Yang Mudah Ditebak!

Perempuan Tanah Jahanam horor berbasis budaya. Ia terasa dekat dengan kita.

Diterbitkan 18 Oktober 2019, 11:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Joko Anwar bukan sineas yang senang mengulang kesuksesan dengan cara sama. Itu sebabnya setelah Pengabdi Setan menjadi horor terlaris sepanjang masa bersama 4,2 juta penonton, ia tak serta merta bikin sekuel.

Joko Anwar melahirkan Gundala dan kini Perempuan Tanah Jahanam. Perempuan Tanah Jahanam memang bergenre memedi. Namun naskah, atmosfer, dan spirit yang diusung Perempuan Tanah Jahanam tak seperti Pengabdi Setan. Perempuan Tanah Jahanam horor berbasis budaya. Ia terasa dekat dengan kita. 

Perempuan Tanah Jahanam dibuka dengan adegan jahanam betulan. Maya (Tara) adalah petugas pintu tol. Ndilalah, ia dapat tugas malam. Berkawan lagu dan suara Dini (Marisa) yang mengajaknya bergosip, Maya melayani para pengguna jalan.

 

Apes, belakangan Maya bertemu sopir mobil tua yang selalu menatapnya dengan tajam. Namanya, Bimo (Rifnu). Suatu malam Bimo melintas pintu tol lagi. Ia membayar tiket sambil menatap Maya. Usai membayar, mobil melaju beberapa meter kemudian berhenti. Bimo keluar mobil membawa parang. 

Sadar dalam bahaya, Maya kabur. Saat Maya jatuh tersungkur, polisi datang dan menembak Bimo. Trauma dengan tragedi ini, Maya banting setir jualan baju di pasar. Menjual baju tak semudah yang dibayangkan. Tidak kuat dengan tekanan ekonomi dan berbekal sebuah foto keluarga, Maya mengajak Dini pulang ke Desa Harjosari. Di sanalah dulu Maya lahir. Desa itu aneh, banyak kuburan anak kecil. Maya dan Dini mengaku sebagai mahasiswi yang sedang meriset. Mereka disambut Nyi Misni (Christine) dan dalang bernama Ki Saptadi (Ario).

 

Pohon Cerita

Adegan pembuka film ini benar-benar jahanam. Tara mengeksekusi adegan merumpi lewat ponsel dengan natural. Ia membahas pekerjaan hingga keperawanan. Marisa tak hadir secara fisik. Ajaibnya, mendengar mereka bergunjing kami bisa membayangkan betapa lama mereka berteman. Dari sini, Joko Anwar mengubah hangatnya pertemanan menjadi teror mematikan. Ketakutan dibangun dari suasana malam di pintu tol ditingkahi raut muka Rifnu yang terpapar lampu papan nama di gardu tol.

Dari situ adegan beringsut ke opening yang menampilkan nama-nama pemain. Beberapa detik kemudian kami sadar latar layar bioskop perlahan menyerupai kelir. Bagi yang besar di Jawa Tengah dan Timur tentu paham, kelir adalah tirai kain putih yang sengaja dibentangkan untuk menangkap bayang-bayang wayang dalam pertunjukan wayang kulit. Warna layar yang menguning, pertanda ia telah disinari lampu blencong berbahan bakar minyak. Sampai di sini, kami paham Joko Anwar tengah mengirim isyarat terkait apa yang terjadi di babak berikutnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Dari opening ini saja, tergambar jelas Perempuan Tanah Jahanam bukan horor kebanyakan. Dengan akar budaya dan mitos seputar adat yang berkelebatan di sekitar kita, Joko Anwar menulis naskah dengan konflik serupa dahan pohon yang bercabang-cabang. Kita tak akan bisa menyimpulkan dengan mudah kecuali mengikuti alur demi alur. Dengan begitu, terlihat jelas bentuk pohon cerita yang ditanam Joko Anwar. Ini terkait motivasi, penokohan, dan latar belakang setiap karakter yang muncul di film. Perempuan Tanah Jahanam dimodali penokohan yang masuk akal serta dialog yang menajamkan karakter. Dan karena ini Joko Anwar, apa pun genrenya terasa relevan dengan kondisi masyarakat kita sekarang. Ini tergambar jelas salah satunya di adegan mendoakan makam namun sang tokoh bingung doanya bagaimana. Ya sudah berdoa saja dalam bahasa Indonesia toh Tuhan tidak hanya memahami satu bahasa. Khas Joko, genit sekaligus satir. Tara Basro tampil natural sementara Marisa mengimbanginya dengan gaya celamitan.

Halaman
Show All
Liputan6.com, Hernowo AnggieTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan