Film Sin: Romantis Berkat Sinematografi dan Pewarnaan Yang Puitis

Gambar puitis adalah kekuatan utama film Sin.

Diterbitkan 10 Oktober 2019, 07:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Kali pertama menonton Sin, kami jatuh hati pada sinematografinya yang puitis. Pewarnaan cenderung remang berkawan suasana malam dan deras hujan. Namun film Sin tak sepenuhnya kelam. Ada titik cerah yang muncul khususnya di adegan apartemen, sekolah, dan rumah tokoh utama.

Mengedepankan warna-warna kontras, menjiwai komposisi desain posternya yang artistik, film Sin menjelma menjadi kisah sedih bernuansa estetis. Sineas Herwin Novianto yang kita kena lewat komedi Gila Lu Ndro dan Asiyah Biarkan Kami Bersaudara tampil beda.

Film Sin menampilkan Metta (Mawar De Jongh), cewek kesepian dan kurang kasih sayang. Hidup tanpa ibu, hubungannya dengan sang ayah nyaris tak pernah akur. Untuk mengobrol dengan Metta, sang ayah mengirim pesan lewat Leo (Marthino Lio). Akibatnya, Metta yang tinggal di apartemen dengan uang saku Rp 25 juta per bulan hidup tak terkendali.

Kecantikannya digunakan untuk mempermainkan lawan jenis. Hidupnya penuh hura-hura bersama Lala (Carmela Van Der Kurk) dan Stephani (Dannia Salsabila). Suatu malam, di tengah pesta, Metta mengenal Raga (Bryan Domani).

Raga menolong Metta dalam sebuah insiden lalu meninggalkan jaket hitamnya. Raga seorang petinju bebas di bawah pengarahan seorang coach (Yama Carlos). Ibu Raga (Sari Nila) terbelenggu kursi roda sementara Raga sendiri tak pernah akur dengan ayahnya (Hans De Kraker). Rupanya Raga satu sekolah dengan Metta. Kali pertama melihat Raga yang dingin, Metta penasaran. Benih-benih cinta kemudian muncul hingga suatu hari, Raga diminta ayahnya untuk menjauhi Metta. Ditinggal Raga, Metta seketika kehilangan arah. 

 

Akting yang Mengasyikkan

Gambar puitis adalah kekuatan utama film Sin. Hujan di film ini tak pernah kehilangan makna. Airnya membasahi kaca jendela apartemen menciptakan efek sendu yang menekan tokoh utama maupun hati penonton. Deras air yang jatuh dari langit membuat adegan pengejaran Metta terhadap Raga terasa dramatis sekaligus memilukan.

Pun ketika dua laki-laki baku hantam dalam gerak lambat sementara langit masih saja berlinang. Adegan ini merupakan pucuk-pucuk cerita yang menjadi titik balik bagi para tokoh utama.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Film Sin dibuka dengan Metta yang jatuh ke air, pergerakannya lambat seolah digelayuti beban berat. Bagi yang terbiasa menonton film, tentu paham adegan pembuka ini adalah pelambang yang nanti ada kaitannya dengan konflik utama. Karena naskahnya mudah dinikmati, sinematografi puitis ini bagaikan gaun yang membuat Sin tampil fashionable. Sejumlah detail seperti buku yang diambil di perpustakaan atau ingar bingar kehidupan malam membuat Sin seperti punya dunia sendiri. Relatif kuat dengan romantika yang khas. Sayang, naskah jadi samar akibat garis waktu yang kurang jelas. Plus akhir cerita yang mengkhianati tagline. Pertautan Raga dan Metta memburam saat masa lalu mereka dikorek. Padahal, akting Mawar dan Bryan sudah asyik. Mawar mampu mempresentasikan kondisi kejiwaan yang labil, hati berbunga, jatuh cinta betulan, manja, serta kadang konyol dalam takaran yang pas. Kalau lagi jatuh cinta, ya seperti itulah kira-kira bentuknya. Mewakili selera awam.

Halaman
Show All
Liputan6.com, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan