HUT Ke-74 RI, Ini 6 Lagu Pop Pembangkit Rasa Cinta Tanah Air

Menyambut HUT ke-74 RI , kita bisa kobarkan kembali rasa cinta Tanah Air, menghargai keragaman, dan mengembangkan toleransi.

Diterbitkan 16 Agustus 2019, 14:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Yang dibutuhkan negara sekaya Indonesia adalah cinta, hati yang teguh, dan jiwa yang bersatu. Sudah punyakah kita?

4. Kebyar-kebyar (Lemon Tree's Anno '69, 1979)

Bukan kebetulan jika bendera Indonesia berwarna merah putih. Gombloh bersama grup musiknya di era generasi bunga meracik nomor yang tak dinyana jadi legenda.

Warna merah mewakili darah, putih merujuk pada tulang. Begitulah semestinya kecintaan terhadap Sang Saka meresap hingga ke pembuluh dan belulang.

Yang menarik, durasi lagu ini hampir tujuh menit. Dibutuhkan kreativitas tingkat tinggi untuk membuat orang tertegun selama itu, merenungkan Indonesia. Di-cover berkali-kali mewakili zaman berbeda, versi asli lagu ini tetap yang paling mengena di sukma.

 

Pemuda (Chaseiro, 1979)

Soekarno pernah berujar, “Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Di pundak generasi muda, masa depan negara diletakkan.

Namun masa depan negara tak kan gemilang jika pemuda kehilangan arah. Chaseiro secara spesifik menggugat para pemuda yang ragu. “Pemuda, kemana langkahmu menuju? Apa yang membuat engkau ragu?” Klimaks lagu ini ada di lirik ikonis, “Bersatulah semua, seperti dahulu. Lihatlah ke muka, keinginan luhur kan terjangkau semua”.

Artinya, masa depan cerah negara hanya ada di pundak pemuda yang optimistis. Setuju?

 

Cerita Damai (Yovie & Nuno featuring Nina Tamam, 2001)

Ini bukan lagu hit. Bahkan tak ada video klipnya. Tapi, izinkan kami rekomendasikan lagu ini di bulan kemerdekaan. Jauh sebelum hoaks dan kasus intoleransi menjadi menu kita sehari-hari, Yovie Widianto resah karena rakyat Indonesia belakangan mudah diadu dan saling menyakiti.

Uniknya “Cerita Damai” tak mengingatkan kita ke momen Soekarno-Hatta membacakan teks proklamasi melainkan 17 tahun sebelumnya. Tepatnya, saat leluhur kita mengikrarkan sumpah pemuda.

Di lagu ini Yovie bertanya, “Di manakah semangat yang dulu? Kita pernah janji dengan satu cinta di tanahku...” Dinyanyikan dengan sederhana oleh Nina berbalut piano dan semburat akrodion, “Cerita Damai” sindiran menohok untuk mereka yang gemar menyebar hoaks, mengafirkan saudara sebangsa, dan sifat nirfaedah lain.

Di ujung lagu ini, Yovie mengajak, “Akhirilah, bukankah kita insan yang penuh cinta?”

(Wayan Diananto)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Liputan6.com, Meiristica NurulTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan