Gebrak Konser Jakarta Fair Kemayoran, Godbless Masih Garang

Kelompok band legendaris Godbless sukses memuaskan penggemarnya yang membanjiri panggung utama konser musik Jakarta Fair Kemayoran 2019.

Diterbitkan 20 Juni 2019, 20:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Lampu-lampu panggung utama konser musik Jakarta Fair Kemayoran seketika padam usai pembawa acara menyebut nama grup rock legendaris, Godbless, Rabu (19/6) malam. Sesaat kemudian, di layar raksasa di atas panggung besar itu tampillah gambar-gambar personel grup yang didirikan pada 5 Mei 1973 ini.

Dimulai dari Ahmad Albar sang vokalis, kemudian Ian Antono (gitaris), Donny Fattah (bass), Abadi Soesman (kibor), hingga Fajar Satritama (drum).

Sejurus kemudian meluncurlah intro dari lagu "Suara Kita", disambut vokal khas Iyek, panggilan akrab Ahmad Albar.

"Kau semua, kau yang di sana.... angkat tinjumu....."

Sebuah opening yang langka. Bukan apa-apa, lagu yang di ambil dari album Semut Hitam, yang dirilis tahun 1988 itu memang nyaris tidak pernah dimainkan Goddless. Sungguh istimewa....

Bahkan, tidak hanya satu, malam itu, di Jakarta Fair Kemayoran, Godbless cukup banyak memainkan lagu yang sebelumnya jarang atau tidak pernah mereka mainkan saat konser. Sebut saja "Orang dalam Kaca" dan "Damai yang Hilang", yang juga diambil dari album Semut Hitam, serta "Maret 1989" dari album Raksasa, tahun 1989.

Tak heran, penonton, yang meluber hingga pagar pembatas pun semakin antusias. Termasuk Godbless Community Indonesia (GBCI), kelompok penggemar militan Godbless, yang tak berhenti bernyanyi sepanjang konser musik Jakarta Fair Kemayoran yang juga disponsori oleh dompet digital DANA itu.

Kondisi ini masih ditambah dengan penampilan Godbless yang begitu cetar. Dari total 14 lagu yang mereka mainkan, 11 di antaranya bertempo cepat, bahkan super cepat, seperti "Maret 1989" dan "Trauma".

Ternyata, di usianya yang telah memasuki 46 tahun, Godbless masih begitu garang. Padahal, usia personel mereka, rata-rata di atas 60 tahun. Ahmad Albar, bahkan sudah memasuki usia 73 tahun.

Tapi, ya itu tadi, malam itu, mereka benar-benar tampil prima. Vokal Ahmad Albar pun masih sangat powerful, berkarakter, meski untuk nada-nada tinggi di lagu tertentu masih butuh bantuan back up vokal dari Donny maupun Ian Antono.

Megah

Musik Godbless juga terdengar sangat megah, penuh, dan hidup. Gebukan Fajar di belakang set drum terasa betul membuat lagu-lagu Godbless jadi semakin gagah. Mungkin ini pula yang menstimulasi power vokal Ahmad Albar tetap terjaga sepanjang konser.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

"Badut Badut Jakarta" yang dipilih sebagai lagu kedua juga dibawakan Ahmad Albar dengan ciamik. Kemudian disusul dengan "Menjilat Matahari" serta "Damai yang Hilang". Seperti juga "Suara Kita", "Badut Badut Jakarta" dan "Damai yang Hilang" diambil dari album Semut Hitam. Sedangkan "Menjilat Matahari" diambil dari album Raksasa. Lagu-lagu dari album Semut Hitam memang sangat mendominasi. Dari total 10 lagu di album produksi Logiss Records itu, delapan di antaranya keluar dari kerongkongan Ahmad Albar di panggung musik PRJ. Sebelum memainkan lagu kelima, Ahmad Albar sempat berujar, "Sekarang, sebuah karya dari Donny Fattah...." Donny pun langsung beraksi dengan bassnya memainkan intro lagu "Musisi" yang begitu energik. Bukan hanya cabikan bassnya yang dahsyat, aksi panggung Donny juga sangat atraktif, seperti biasa. Mengenakan kemeja tangan panjang gombrong warna merah dan ikat kepala panjang hitam, Donny kerap memancing perhatian. Apalagi saat memainkan isian-isian bass di beberapa part lagu. Lagu ini sendiri pertama kali dirilis dalam album Cermin pada 1980. Namun, kembali dikeluarkan dengan aransemen baru di album Cermin 7, tahun 2016. Di era tahun 1990-an, lagu ini juga sering dijadikan lagu wajib oleh panitia festival-festival atau ajang kompetisi band. Maklum, lagu yang awalnya berdurasi 4 menit, 26 detik ini memang memiliki tingkat kesulitan tinggi.  

Halaman
Show All
Edu Krisnadefa, Telni RusmitantriTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan