Sukses

Berkat The Night Comes for Us, Timo Tjahjanto Rasakan Ini untuk Pertama Kali

Liputan6.com, Jakarta The Night Comes for Us, adalah sebuah film yang spesial untuk sang sutradara, Timo Tjahjanto. Pasalnya lewat film ini, untuk pertama kalinya ia mendapatkan penghargaan berupa standing ovation dari penonton.

Dalam emailnya kepada Liputan6.com, Jumat (26/10/2018), Timo Tjahjanto menceritakan bahwa standing ovation ini ia terima saat gala premiere The Night Comes for Us di Fantastic Fest, Texas, pada September lalu.

"Gila! 10 tahun saya bikin film, baru pertama kali saya dapet standing ovation di festival sekaliber ini," tutur Timo Tjahjanto.

Ia mengaku tak menyangka sambutan penonton atas The Night Comes for Us, akan semeriah ini.

"Di Fantastic Fest kemarin kebetulan saya duduk berdekatan dengan tim Netflix, jadi saya cuma bisa fokus nunggu reaksi mereka. Setelah film selesai, lampu nyala, dan ada standing ovation, rasanya senang banget sih," tuturnya.

2 dari 3 halaman

Sempat Tertunda

Yang menarik, The Night Comes for Us adalah proyek Timo yang cukup lama tertunda. Alasannya, adalah kendala biaya.

Beruntung, dalam penayangan film Headshot yang ia garap bersama Kimo Stamboel di Toronto International Film Festival (TIFF) pada 2016, ia bertemu dengan pihak Netflix. Dari sini, pembicaraan soal The Night Comes for Us pun dimulai.

"Setelah beberapa kali pertemuan, Netflix pun setuju untuk kolaborasi mengerjakan TNCFU," tuturnya.

3 dari 3 halaman

The Night Comes for Us

The Night Comes for Us berkisah tentang Ito (Joe Taslim), seorang anggota elit triad yang membelot kelompoknya.

Setelah menolong sesosok anak kecil yang bernama Reina, Ito mencoba mengubah nasibnya. Ia memutuskan keluar dari organisasi yang ia ikuti. Konsekuensinya jelas, ia berhadapan dengan pasukan mesin pembunuh yang selama ini menjadi rekan kerjanya.

Salah satunya adalah orang yang dulu adalah sahabatnya, Arian (Iko Uwais).

The Night Comes for Us telah ditayangkan di seluruh dunia lewat platform streaming Netflix secara eksklusif.