Perlu Dua Tahun Melatih Penari Matah Ati

Sutradara Matah Ati mengatakan perlu waktu dua tahun untuk melatih para penari agar memiliki sifat seperti pejuang melawan penjajah di masa lalu. Sementara Jay Subiyakto menjamin alur cerita Matah Ati memang ngejlimet tapi bisa dimengerti.

Diterbitkan 09 Mei 2011, 10:11 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Jakarta: Pertunjukan pentas tari Matah Ati tinggal menghitung hari. Atilah Soeryadjaya sebagai penulis naskah dan sutradara Matah Ati mengatakan, perlu waktu dua tahun untuk melatih para penari agar memiliki sifat seperti Rubiyah dan Raden Mas Said yang berjuang melawan penjajah di masa lampau.

"Pada umumnya penari-penari Solo kan lembut, apalagi penari keratonnya. Jadi yang agak susah itu merombak sifat mereka selama dua tahun pelatihan menjadi seperti tema cerita Matah Ati, sebuah perjuangan," kata Atila kepada Liputan6.com baru-baru ini.

Matah Ati bakal digelar pada 13-16 Mei mendatang di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Menurut rencana, pentas ini bakal digelar selama 1,5 jam. Penonton yang hadir bakal disuguhkan dengan Langendriyan--seni drama tari Jawa--yang lahir dari Istana Mangkunegaran pada masa Mangkunegoro IV.

Jangan takut tidak mengerti isi dari Matah Ati. Jay Subiyakto sang Penata Artistik berani menjamin alur cerita pertunjukan ini memang ngejlimet, tapi masih bisa dimengerti. Bagi Jay, Matah Ati adalah sebuah epik yang modern namun tetap menjunjung nilai budaya Tanah Air.

Pergelaran ini melibatkan 140 artis dan Jay yang bertanggung jawab terhadap apa yang terlihat dalam sebuah pertunjukan, mood, panggung, warna, set, make-up, cahaya, efek serta kostum. Selain itu, tim produksi Matah Ati juga menyiapkan tata artistik panggung yang mengemas pentas tari ini ke dalam sebuah pertunjukan masa kini yang modern [baca: Matah Ati, Bukan Sekadar Pentas Tari].(ASW/MEL)


Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Pemenang Blue Dragon Series Awards 2026, Intip Daftar Lengkapnya

Tim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan