Ghost in the Shell: Saat Cyborg Terkena Krisis Identitas

Ghost in the Shell terasa gampang dikunyah, meski awalnya penonton dihadapkan pada dunia yang begitu rumit.

Diterbitkan 31 Maret 2017, 20:12 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Scarlett Johansson dalam video teaser Ghost in the Shell

Production design film ini juga terbilang ciamik. Terutama desain robot geisha di awal film yang terlihat cantik, anggun, sekaligus bikin bergidik. Para penggemar anime dan manga yang aslinya ditulis Masamune Shirow ini, juga banyak mengeluarkan pujiannya atas visualiasasi film ini sejak trailernya muncul.

Sementara itu, meski film ini memiliki dunia yang sekilas terlihat pelik, begitu plot berjalan dan menuju pada persoalan utamanya, ternyata penonton dihadapkan pada cerita yang aslinya begitu sederhana—kalau tidak boleh dibilang klise. Yakni, soal menyingkap masa lalu. Inilah yang membuat Ghost in the Shell terasa gampang dikunyah, meski awalnya penonton dihadapkan pada dunia yang rumit.

Scarlett Johansson beradu peran dengan Pilou Asbaek di film

Scarlett Johansson, menampilkan karakter Mira yang secara dingin dan nyaris tanpa ekspresi. Ternyata begini cara dia menampilkan karakter cyborg yang tengah mengalami krisis identitas—apakah ia manusia atau sekadar mesin tak berotak. Hal ini diimbangi dengan penampilan anggota pasukan Major yang penuh warna. Terutama Batou (Pilou Asbæk) pria berbadan besar namun hati lembut yang loyal serta Aramaki (Beat Takeshi) si rubah tua yang masih berbahaya.

Yang menarik, soal tuduhan white washing dalam film ini gara-gara penunjukkan Scarlett Johansson sebagai pemeran utama, sedikit banyak terjawab di akhir film. Tentu saja, ini terlepas dari apakah Anda sebagai penonton menerima jawaban yang disodorkan atau tetap merindukan aktris Jepang sebagai memerankan Major.

p>Scarlett Johansson (Jasin Boland/Paramount Pictures and DreamWorks Pictures via AP)

Kesimpulannya, Ghost in the Shell merupakan film yang berpotensi menghibur beragam kalangan. Penggemar genre cyberpunk misalnya, dihadapkan dengan fantasi soal konsekuensi teknologi informasi yang makin menggurita di masa depan. Fans Ghost in the Shell akhirnya bisa melihat sendiri bagaimana jika manga dan anime ini diwujudkan dalam live action. Sementara berkat plotnya yang simpel, penonton awam pun tak perlu takut ikut menceburkan diri dalam dunia ganjil dalam Ghost in the Shell.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ratnaning Asih, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan