The Great Wall: Fantasi Tembok Besar Rasa Barat dan Timur

The Great Wall mempertemukan bintang populer Mandarin dan Hollywood.

Diterbitkan 05 Januari 2017, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Cuplikan film The Great Wall

Ada pun filmnya, mengingat film soal pertempuran yang dihadapi pasukan non-kulit putih ini mendudukkan Matt Damon sebagai bintang, rasanya mudah saja muncul syak wasangka. Yakni, bahwa film ini makin mempertegas kecenderungan di sejumlah film Hollywood sebelumnya, bahwa bangsa kulit putih selalu menjadi tokoh penyelamat.

Di beberapa bagian awal, harus diakui, kecenderungan ini memang terasa cukup kuat. Bagaimana William beberapa kali menyelamatkan pasukan Tiongkok di sela keadaan genting, terasa cukup klise.

Namun, untungnya, sutradara Zhang Yi Mou tak jatuh terlalu dalam ke lubang ini. Semakin lama film berjalan, porsi tokoh Asia dan Hollywood dalam film semakin seimbang. Terutama lewat karakter pengatur strategi Wang yang dimainkan oleh Andy Lau dan prajurit muda yang diperankan oleh mantan personel EXO, Luhan.

Cuplikan film The Great Wall

Hal lain yang membuat film ini cukup asyik untuk dinikmati adalah dua sekawan William dan Pero. Terutama karena Pedro Pascal—yang selama ini lebih dikenal sebagai Oberyn Martell dalam serial populer Game of Thrones—sukses memerankan karakter sinis bermulut nyinyir. Dinamika keduanya, memberikan nafas segar dalam cerita film yang sebetulnya sangat sederhana ini. 

S

ecara garis besar, film yang kini tengah tayang di Indonesia ini mungkin bukanlah film dahsyat yang bakal membuat penonton terkenang-kenang saat sudah berada di luar bioskop. Namun selama dua jam lebih durasinya, The Great Wall mampu memberikan tontonan yang menghibur penontonnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ratnaning Asih, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan