Film One Way Trip, Pahitnya Menjadi Orang Dewasa

One Way Trip, bukan film yang mengharuskan penonton untuk berpikir saat menyaksikannya.

Diterbitkan 16 Juni 2016, 05:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Tentu saja bersenang-senang seharian menjadi pilihan mereka. Nongkrong di pantai, makan bareng, dan tak ketinggalan minum-minum sampai mabuk. Lalu, mereka menemukan ‘mobil goyang’. Mengira bisa mengintip pasangan yang tengah berhubungan seks, keempatnya lantas mendekati mobil tersebut. Di luar dugaan, mereka malah menyaksikan seorang wanita yang tengah dipukuli suaminya.

Tak perlu pikir panjang, keempatnya langsung terjun menolong wanita tersebut. Yang tak mereka sadari ketika itu, tindakan ini akan mengubah nasib mereka selamanya.

One Way Trip (Youtube)

>Menonton One Way Trip, bisa diibaratkan dengan menaiki wahana rollercoaster. Ada kalanya perasaan penonton melambung tinggi, terutama melihat tingkah polah keempat karakter yang mencerminkan dunia anak muda yang ceria, bandel, dan penuh kejahilan.

Namun tak lama kemudian penonton dihempaskan dalam kenyataan yang pahit, saat keempat anak muda ini terjerat kasus hukum. Alur maju-mundur yang diterapkan sutradara Choi Jeong Yeol, makin memperlihatkan kontras antara dua kejadian di waktu berbeda ini. Lewat pengaturan yang apik, hal ini makin membuat emosi penonton makin tertarik-tarik.

Karakterisasi tokoh-tokoh yang ada dalam film ini, sebenarnya cukup klise untuk ukuran film coming of age—subgenre yang menampilkan transisi dari remaja menuju dewasa. Terutama, penggambaran karakter orang-orang dewasa yang berkedudukan tinggi dalam masyarakat. Karakter yang memiliki jabatan atau berharta, digambarkan secara tak terhormat dalam film ini.

Lihat saja kapten polisi yang terlihat tak acuh dengan nasib anak-anak muda dan lebih memikirkan babi panggang dan mie yang telah dipesannya. Atau para orangtua yang tanpa malu mengorbankan orang lain demi keuntungan sendiri. Yang digambarkan secara positif, justru orang dewasa yang dipandang sebelah mata dalam masyarakat.

Sementara anak-anak muda dalam film ini, diposisikan sebagai korban di tengah orang-orang dewasa egois di sekeliling mereka. Bahkan, mereka ikut terseret dalam pemikiran para orang dewasa. Dalam waktu singkat mereka terpaksa untuk menjadi dewasa.

One Way Trip (Youtube)

 

Karena itulah, penonton remaja seharusnya tak cuma menjadikan One Way Trip sebagai ‘obat cuci mata’ hanya karena menampilkan bintang-bintang muda berwajah menarik dan Suho EXO sang idola remaja. Film ini membawa sebuah peringatan dini bahwa menjadi orang dewasa, bisa jadi membawa sisi kelamnya tersendiri. Sementara penonton dewasa, mungkin akan berkaca atau malah tertampar oleh film yang diputar dalam Busan International Film Festival ini.

One Way Trip sedikit banyak mengingatkan penonton pada dunia nyata, bahwa hidup yang tak selalu adil, atau berjalan dengan semestinya. Namun, film juga membawakan kembali indahnya memori masa muda yang mungkin terkubur dalam ingatan. 

Tak heran, film ini meninggalkan jejak pahit sekaligus manis di benak penonton. One Way Trip, bukan film yang mengharuskan penonton untuk berpikir saat menyaksikannya. Namun bisa jadi, Anda malah berpikir keras tentang perjalanan hidup Anda sendiri setelah menonton One Way Trip. 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ratnaning Asih, Aditia SaputraTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan