KALEIDOSKOP 2015: 10 Film Indonesia Terbaik

Kami memilih 10 film Indonesia terbaik tahun 2015. Apa saja?

Diterbitkan 30 Desember 2015, 20:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Mengacu ke laman filmindonesia.or.id, di tahun 2015 ini terdapat 117 judul film yang diproduksi, naik sedikit dari tahun sebelumnya yang berjumlah 113 judul film. Angka itu bukan jumlah produksi terbanyak sepanjang sejarah. Di tahun 1970-an, dalam setahun pernah diproduksi 130-an film.

Meski begitu, jumlah film tak mencerminkan jumlah penonton, apalagi kualitasnya. Tahun ini kita menyaksikan ada dua film yang melewati angka 1 juta penonton (Surga yang Tak Dirindukan dan Comic 8: Casino Kings part 1).

Persoalan perfilman kita masih sama, saat bioskop makin banyak, penonton film nasional justru menurun. Persebaran penonton film nasional masih tak merata. Angka 1 juta penonton lebih pada dua film tak mencerminkan jumlah penonton film nasional secara keseluruhan.

Baca Juga

  • KALEIDOSKOP 2015: 10 Film Hollywood Terbaik
  • KALEIDOSKOP 2015: 6 Film Korea Terpopuler
  • KALEIDOSKOP 2015: 5 Serial Televisi Hollywood Terbaik

Fakta yang membuat miris, film pemenang Piala Citra Film Terbaik Festival Film Indonesia (FFI) dan Apresiasi Film Indonesia (AFI) tahun ini justru tak pernah beredar di bioskop secara komersil. Ya, film itu berjudul Siti, sebuah film hitam-putih yang lebih banyak diputar di festival-festival film di luar negeri ketimbang di bioskop negeri sendiri.

Kendati demikian, bukan berarti tak banyak film bagus tayang di bioskop komersil yang terdapat di mal-mal. Sesekali muncul film bagus buatan anak negeri yang bisa bersanding dengan terhormat bersama film-film Hollywood.

Hanya saja, penonton kita kebanyakan melewatkannya. Film-film bagus itu biasanya tenggelam oleh ingar-bingar film-film nasioanl yang disuka kaum alay dan film blockbuster Hollywood. Yang biasa terjadi, ketika filmnya jadi pembicaraan di media sosial, sudah terlambat untuk dapat penonton lebih banyak lantaran sudah telanjur turun dari layar bioskop.

Nah, di ujung tahun ini, saatnya kami mengingat lagi film-film nasional apa saja yang bikin kami terpesona saat menontonnya di bioskop. Ini 10 film terbaik pilihan kami tahun 2015 ini.

10 & 9

10. Jenderal Soedirman

Sungguh menyenangkan sineas kita masih diberi kesempatan membuat film dengan production value yang megah. Membuat film perjuangan macam Jenderal Soedirman tak murah. Film ini didukung penuh oleh jajaran purnawirawan TNI AD. Sejak lama, militer memang kerap terlibat pembuatan film. Jadi, sebetulnya ini hanya melanjutkan praktik yang sudah dilakukan bertahun-tahun.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Lantas, kenapa dipilih memfilmkan Jenderal Soedirman? Selama Orde Baru, sang jenderal digambarkan ditaruh di pinggir dalam narasi besar heroisme Soeharto dalam aksi Serangan Umum 1 Maret. Soedirman digambarkan sebagai sosok lemah yang sakit-sakitan. Lewat film karya Viva Westy ini, untuk pertama kalinya, sang jenderal seolah diberi tempat untuk 'membela diri'. Perang gerilya yang dilakukannya menghindari aksi polisionil Belanda yang ingin menguasai kembali Republik tergambar jelas. Soedirman (di film diperankan Adipati Dolken) bukan lagi jenderal lemah yang sakit-sakitan.   9. Filosofi Kopi The Movie Filosofi Kopi The Movie berangkat dari cerpen panjang Dewi Lestari alias Dee. Sebagaimana layaknya sebuah cerpen, banyak elemen yang perlu ditambahkan bila ingin difilmkan. Maka, ada elemen-elemen tambahan di film yang tak terdapat di cerpennya. Bagusnya, jika Madre--yang juga diangkat dari cerpen panjang Dee--hal tersebut merusak film, pada Filosofi Kopi hal demikian tak terjadi. Film ini jadi enak ditonton tentu saja berkat hasil kerja Angga Dwimas Sasongko berikut aktor dan aktrisnya. Membaca cerpennya, kita akan melihat Dee sebenarnya sedang bergenit ria mencari-cari makna filosofis dari kopi. Sedang di filmnya, Angga memberi asupan emosi dan jiwa yang lebih dari sekadar paparan mencari kopi terenak. Alhasil, menonton Filosofi Kopi versi film seperti menyeruput kopi ditemani pisang goreng atau penganan lain. Rasanya lebih lengkap dan nikmat.

Halaman
Show All
Ade Irwansyah, Feby FerdianTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan