Motor di Film-film Kita, dari Moge hingga Motor Bebek

Aksi ugal-ugalan motor gede atau moge juga terekam dalam film nasional sejak era 1970-an. Sepertia apa wujudnya?

Diterbitkan 16 Agustus 2015, 21:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Seorang pengendara sepeda bernama Elanto Wijoyono, mencegat rombongan iring-iringan motor gede (moge) di perempatan Condongcatur, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (15/8/2015) kemarin.

Aksi tersebut segera berdampak viral di dunia maya. Banyak orang yang mendukung aksi berani Elanto lantaran aparat kepolisian dinilai kerap tak adil membiarkan moge melanggar lalu lintas.

Elanto Wijoyono meminta pengendara moge untuk mundur dari zebra cross di perempatan Ringroad Utara Condongcatur, Yogyakarta, Sabtu (15/08/2015). (foto: Suryo Wibowo)

Sesungguhnya, moge bukan fenomena kemarin sore. Aksi ugal-ugalan moge bahkan juga terekam dalam film-film nasional sejak 1970-an. Seperti apa wujudnya?

Sudah nonton film Darah Muda yang dibintangi Rhoma Irama? Di awal film yang rilis 1977 itu ada penggambaran begini.

Jalanan yang damai itu tiba-tiba dibikin ribut oleh deru suara motor. Beberapa motor gede melintas. Pengendaranya ugal-ugalan. Ada yang naik motor sambil berdiri. Kamera lalu menyorot rambu lalu lintas dilarang masuk seolah hendak mengatakan mereka telah melanggar hukum.

Geng motor tersebut berhenti di sebuah bar. Menjemput teman yang minum-minum lalu bayar hanya 100 rupiah. Mau latihan band, kata salah seorang dari mereka. Mereka mengusai jalanan lagi seolah milik nenek moyangnya.

Ada tukang roti melintas mereka ganggu sampai si tukang roti kabur. Ke tukang rokok pinggir jalan, mereka ambil rokok satu dus tanpa membayar. Sepanjang jalan geng motor ini ugal-ugalan tiada henti. Jalan meliuk-liuk, ciuman di tengah jalan, sampai berhenti di lampu merah bikin jalanan macet.

Itulah bagian awal film Darah Muda yang dibintangi Rhoma Irama yang sedang menapaki karier menuju tahta sang raja dangdut. Tentu, bukan Rhoma yang bertingkah ugal-ugalan di jalanan itu. Justru Rhoma yang kemudian berhadapan dengan geng motor kelompok musisi rock Apache, tempatnya dulu bernaung sebagai anggota band sebelum akhirnya memilih dangdut.

Filmnya utamanya berkisah soal konflik musisi rock versus penyanyi dangdut. Namun, menarik juga menengok bagaimana moge dan pengendaranya digambarkan di film itu.

Rocker Bermotor

Pertama-tama, sineasnya (film ini disutradarai Maman Firmansjah dan skenarionya ditulis Sjuman Djaya) melabelkan motor identik dengan musisi rock. Kayaknya nggak keren kalau anak rock tak pakai motor. Tapi pakai motor saja tak cukup. Rocker kalau pakai motor menguasai jalanan selayaknya raja. Di jalan, rocker bertingkah ugal-ugalan seenaknya dengan moge mereka.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Bagi kebanyakan anak muda hingga tahun 1970-an, motor adalah impian. Hanya segelintir anak muda yang punya motor. Kebanyakan mereka ke sekolah naik sepeda atau naik angkutan umum becak, opelet, atau bus. Tak jarang anak muda zaman itu memajang gambar motor di kamar. Motor telah menjadi citra cowok gagah. Mereka terkesan pada geng motor yang bertingkah ugal-ugalan seperti di film-film Hollywood, seperti dicitrakan geng motor Hells Angels. Hells Angels menjadi nama yang tenar karena kebrutalannya. Mereka disebut sebagai outlaw motorcycle club, geng motor liar yang pertama dibentuk di California, AS, pada 1948. Catatan buruk mereka terpatri hingga kini ketika Hells Angels disewa menjaga keamanan konser grup rock Rolling Stones di Altamont, California, pada 1969. Bukannya menjaga keamanan, konser itu malah rusuh hingga jatuh korban tewas. Namun, peristiwa itu malah makin membuat nama Hells Angels makin dikenal. Mereka dianggap sebagai counter culture, simbol anti kemapanan, tak takut hukum. Pengaruh anti kemapanan geng motor motor klop dengan citra rocker. Maka, rocker pun bermotor agar citra yang disampaikannya makin kentara. Namun, di era Orde Lama Soekarno sikap anti kemapanan ini relatif berhasil dibendung. Soekarrno melarang musik Barat yang disebutnya “ngak ngik ngok” hingga memenjara Koes Plus segala. Saat Soekarno jatuh dan Orde Baru yang lebih pro Barat berkuasa di akhir 1960-an, pengaruh budaya Barat, termasuk counter culture-nya pula ikut terimpor tanpa filter ke sini. Namun, karena pada dasarnya kita orang Asia, pasar motor kemudian dikuasai Jepang, bukan Amerika atau Eropa. Produk Jepang yang relatif lebih murah dan ukuran motornya lebih sesuai dengan postur orang Asia, membuatnya jadi pilihan. Produk motor Jepang muncul sejak awal tahun 1960-an. Waktu itu yang punya motor masih sedikit, hanya anak muda dari kalangan menengah atas. Di paruh kedua 1960-an, motor Jepang makin mengusai jalanan menyingkirkan motor-motor Eropa seperti BMW, Harley Davidson, Norton, Ducatti, dan beberapa merek lain. Di akhir 1960-an dan awal 1970-an, saat Orde Baru semakin membuka hubungan baik dengan Jepang, motor-motor Jepang juga semakin banyak di jalanan jadi tunggangan pribadi anak-anak muda.

Halaman
Show All
Ade Irwansyah, Feby FerdianTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan