Kenapa Seleb Kita Harus Belajar dari Caitlyn Jenner?

Caitlyn Jenner menyetir pemberitaan dirinya jadi wanita bernada positif. Apa yang ia lakukan dan bagaimana seleb kita bisa belajar darinya?

Diterbitkan 11 Juni 2015, 06:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Yang publik lihat, mereka yang terlihat jarang bekerja sesuai profesinya ini, malah lebih sering nongol di infotainment memamerkan kekayaannya.

Publik tentu bertanya-tanya, darimana asal semua uang mereka? Jangan-jangan dari melacurkan diri? Dan begitu daftar inisial artis prostitusi muncul, kecurigaan publik kencang.

Ada fenomena menarik lagi. Di tengah gegap gempita kasus prostitusi artis, ada yang muncul dengan kabar pernikahan yang mendadak. Si artis yang selalu pamer kekayaan lewat tas-tas mahal nan bermerk serta mobil seharga miliaran ini justru menikah dengan prosesi yang terbilang sederhana.

Dari sini tanya publik kian menjadi, “Lho, kemarin ‘kan si anu muncul di daftar inisial artis yang ‘itu’, kok sekarang malah dikabarkan menikah? Jangan-jangan buat menutupi kasus itu?”
Rasa curiga kian menjadi setelah satu-per satu kejanggalan saat proses pernikahan terkuak oleh media.

Itu yang dilakukan artis kita. Kelihatan bagaimana pengelolaan atas gosip dan pemmberitaan yang mereka lakukan justru makin membuat publik curiga. Berapa kali pun dibantah, publik bahkan seolah tak percaya.

Hal i

ni berbanding terbalik dengan Bruce Jenner.

Strategi Humas Caitlyn Jenner

Strategi Humas Caitlyn Jenner

Perubahan Bruce Jenner dari sorang pria tulen, mantan atlet peraih medali Olimpiade menjadi wanita bernama Caitlyn terekspos di publik. Proses transformasi ini dianggap sukses.

Tepat 1 Juni kemarin, sampul majalah Vanity Fair edisi Juli 2015 menampilkan Bruce Jenner memperkenalkan nama barunya: “Call me Caitlyn.” Sampul edisi itu disambut hangat. Jenner langsung jadi bintang di Twitter. Dalam hitungan jam, akun Twitter yang baru dibuat Jenner langsung dapat follower 1 juta lebih—mengalahkan Presiden Barack Obama. Seminggu kemarin, berita tentang Jenner membenamkan berita putrid tirinya sendiri, Kim Kardashian yang mengumumkan kehamilan anak kedua dari Kanye West.

Tapi di atas semua itu, pemberitaan tentang transformasi Bruce Jenner menjadi Caitlyn bernada positif. Nyaris tak ada yang memberi tanggapan negatif. Bahkan Jon Stewart yang biasanya sinis pun memuji Jenner.

Ayah Kim Kardashian, Bruce Jenner berpose dalam sampul majalah Vanity Fair Juli 2015. Mantan atlet Olimpiade itu mengungkapkan identitas barunya sebagai perempuan dengan nama Caitlyn Jenner. (REUTERS/Annie Leibovitz/Vanity Fair)

S

emua pujian positif itu, dikatakan majalah New York belum lama ini, adalah hasil kerja kampanye humas terorganisir yang canggih—bahkan termasuk yang tersukses dalam ingatan banyak orang. Dikatakan pula, alih-alih menyetir berita untuk kepentingan komersil atau menutupi sebuah skandal, upaya kehumasan ini punya tujuan lain: membuat si subjek mengontrol pemberitaan menjadi miliknya sendiri.

Apa yang diraih Bruce/Caitlyn Jenner minggu-minggu ini nyaris tak terbayangkan, bahkan hingga awal tahun ini. Sepanjang 2014 dan awal 2015, mantan juara peraih emas Olimpiade itu tadinya hanya jadi cerita sampingan kisah orang aneh dari sirkus besar keluarga Kardashian. Jenner sepanjang tahun kemarin hingga awal tahun ini menjadi bulan-bulanan media gossip Hollywood. Dia dianggap sosok ayah yang aneh, yang ingin jadi perempuan.

Disebut majalah New York, setelah Jenner berterus terang pada keluarga terdekatnya, ia lalu beretekad mengubah jalan cerita pemberitaan tentang dirinya di media. Untuk itu Jenner menyewa Alan Nierob dari kantor humas besar di Hollywood Rogers & Cowan.

Begitu Jenner menyewa Rogers & Cowan, perusahaan humas itu mulai bekerja merancang strategi detil bagaimana dunia berpisah dengan Bruce Jenner dan memperkenalkan Caitlyn.

dailystar.com

Rencana bagian pertama adalah memfokuskan bagaimana agar kabar soal transformasi ini menjadi milik Jenner lagi dengan ia sendiri yang bicara. Tidak sulit mencari media mana yang ingin menjadi corong Bruce Jenner. Bahkan, koran serius macam New York Times juga mendekati Jenner. Majalah Vanity Fair juga ikut mendekati Jenner sejak akhir tahun lalu.

Pilihan Jenner jatuh pada stasiun TV ABC dan yang boleh mewawancarainya harus Diane Sawyer. Di pertelevisian AS, Sawyer sosok pembaca berita terhormat. Sebetulnya, Jenner bisa saja memilih stasiun TV lain,NBC misalnya. Namun masalahnya, NBC satu group dengan stasiun TV E!. Nah, di stasiun TV E!, Jenner ikut serta membintangi reality show Keeping Up with the Kardashians. Pihak Jenner khawatir, jika memilih wawancara eksklusif dengan NBC, orang bakal mengira tujuannya bicara blak-blakan demi mencari uang—karena NBC dan E! satu group.

Wawancara eksklusif dengan Diane Sawyers di ABC meraih rating tinggi. Tanggapan atas acara itu pun positif. Di akhir acara, Jenner mengatakan itu kali terakhir dunia akan melihatnya sebagai laki-laki.

Seleb Kita Jauh Panggung dari Api

Seleb Kita Jauh Panggung dari Api

Dan kemunculannya sebagai Caitlyn di Vanity Fair adalah pencapaian sukses berikutnya.

Kenapa Vanity Fair dan bukan, misalnya, majalah Time (yang tahun 1997 jadi media piilihan Ellen DeGeneres saat mengatakan ia lesbian)? Pengaruh majalah mingguan dipercaya tak lagi sehebat dulu. Selain itu, Vanity Fair punya fotografer hebat Annie Leibovitz dan penulis Buzz Bissinger. Yang disebut pertama berpengalaman memotret seleb dunia, sedang Bissinger seorang penulis yang punya latar belakang wartawan olahraga, dunia yang dekat dengan Jenner, namun tak kejam seperti wartawan gossip hiburan.

Saat ini langkah humas Jenner berhasil membuatnya punya posisi terhormat, tak lagi dianggap orang aneh. Orang malah menanti-nanti kemunculan perdananya di publik saat menerima penghargaan dari ESPN nanti di ajang ESPY Awards. Pun juga tayangan reality show documenter di stasiun TV E!, I Am Cait.

Bruce 'Caitlyn' Jenner (Vanity Fair)

Semua itu membuat Caitlyn kini mengendalikan pemberitaan atas dirinya. Ia tak lagi berada di pinggiran seperti saat membintangi Keeping Up with the Kardashians.

Pertanyaannya kemudian, kenapa artis Indonesia tak ada yang bisa seperti Caitlyn Jenner?

Hm, jawabnya mudah saja. Sulit mencari ada artis Indonesia yang menggunakan jasa humas professional untuk mengendalikan berita. Selama ini, seleb kita me-manaje gosip lewat arahan manajer.

Nah, kebanyakan manajer utamanya mencari pekerjaan atau job untuk artis. Pikiran mereka menaikan pamor si artis pun sangat sederhana: mencari sensasi. Itu sebabnya, kebanyakan artis kita hanya bisa mencari sensasi untuk diberitakan media. Mereka percaya, pemberitaan se-negatif apapun berguna menaikan pamor.

Padahal kita tahu dunia tak sesederhana itu. Saat muncul berita prostitusi artis, kita melihat bagaimana para seleb kita bereaksi. Beda betul dengan strategi Caitlyn Jenner, bukan? (Ade/Rom)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ade Irwansyah, Rommy RamadhanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan