EKSKLUSIF Leigh Whannell Soal Insidious 3 dan Horor Indonesia

Belum lama ini, Liputan6.com berkesempatan berbincang dengan Leigh Whannell, sutradara Insidious: Chapter 3.

Diterbitkan 07 Juni 2015, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com: Kalau begitu, apa kita juga bakal melihatnya (Elise Rainier) tetap hidup di Chapter 4?

Leigh Whannell: Jika Chapter 4 ada saya masih ingin melihatnya hidup. Jadi chapter ke-empat juga mungkin saja bisa berupa sebelum film pertama. Tapi saya masih belum tahu juga. Saya belum menulis ceritanya.

Liputan6.com: Apakah Anda punya pengalaman dengan dunia gaib? Lalu, apa memang ada tempat semacam The Further?

Leigh Whannell: Saya tak penah mengalami bertemu hantu atau semacamnya. Tapi dari yang saya tahu, banyak orang menemui pengalaman itu. Dari situ saya memahami ada bagian kehidupan di luar sana yang tak kasat mata. Bagi saya, The Further adalah tempat dari mana para hantu berasal. Dan saya ingin mengatakan itu tempat yang menyeramkan.

Adegan film Insidious Chapter 3. (dok.Sony)

Liputan6.com: Saat menulis cerita film horor, apakah Anda terinspirasi film-film horor dari Asia?

Leigh Whannell: Tentu saja saya sangat terinspirasi film-film horor Asia. Saya suka nonton film horor dari Jepang, Thailand, juga Indonesia. Bagi saya budaya Asia dengan supernaturalnya sangat kaya. Saya sangat menyukainya.

Liputan6.com: Oh, ya, Anda nonton film horor Indonesia?

Leigh Whannell: Semua orang tahu film The Raid dari Indonesia. Tapi saya juga suka film horor Indonesia. Saya lupa judulnya, tapi ada film horor dari Indonesia yang saya suka.

Liputan6.com: Anda adalah penulis skenario, aktor, dan kini jadi sutradara. Mana peran yang paling Anda suka?

Leigh Whannell: Susah untuk bilang paling suka yang mana. Menjadi aktor membuat kau bisa bemain-main, seperti sedang memakai topeng dan jadi orang lain. Kau seperti sedang main drama saat anak-anak. Sutradara adalah pekerjaan yang melelahkan. Kau harus fokus (saat jadi sutradara). Sedangkan jadi penulis kau merasa kesepian. karena kau melakukan semuanya sendirian.

Tapi kalau disuruh memilih satu peran saja, saat ini saya sedang menikmati jadi sutradara.

Adegan film Insidious Chapter 3. (dok.Sony)

Liputan6.com: Apakah Anda hanya akan menyutradarai film yang Anda tulis naskahnya? Apa yang Anda tulis saat ini?

Leigh Whannell: Setiap penulis pasti ingin menyutradarai film yang ditulisnya. Saya pun begitu. Namun saya ingin mencoba banyak genre film. Saat ini saya tengah menulis beberapa proyek. Masih tak tahu mana yang akan saya kerjakan. Saya sedang menulis cerita fiksi ilmiah yang menggabungkan dengan horor.

Liputan6.com: Siapa penulis skenario favoit Anda?

Leigh Whannell: Saya suka Charlie Kaufman. Saya sangat suka (filmnya) Eternal Sunshine of the Spotless Mind; juga Being John Malkovich. Saya juga suka Paul Thomas Anderson. Pokoknya saya suka yang memiliki sisi originalitas dalam menulis.

Liputan6.com: Apakah Anda akan selalu berkolaborasi dengan James Wan?

Leigh Whannell: Saya sangat senang bekerjasama dengan James (Wan). Kami sudah kenal lama dan cocok. Tapi saat ini belum ada proyek yang saya kerjakan dengan James. Biasanya kami saling sharing ide dan akhirnya memutuskan untuk kerja bareng. Saat ini dia mengerjakan proyek-proyek besar, dan saya bahagia untuknya.

Liputan6.com: Anda asli Australia, tentu Anda pernah ke Bali?

Leigh Whannell: Bagi orang Australia sepertinya ke Bali sudah seperti kewajiban. Tapi jujur saya sendiri belum pernah ke sana.

Liputan6.com: Oh, ya? Tapi Anda familiar dengan Indonesia, tentu? Makanannya, misalnya?

Leigh Whannell: Ya, saya familiar dengan masakan Indonesia dan saya suka budaya indonesia. Saya suka masakan kuah yang seperti kari dan saya juga sate. Saya ingin suatu saat nanti bisa kunjungi Indonesia menyelami lebih dalam budayanya.** (Ade/Put)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ade Irwansyah, Sylvia Puput PandansariTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan