Memaknai Kisah Perjalanan dalam `Haji Backpacker`

Apakah sebagai road movie dan dokumentasi perjalanan Haji Backpacker layak tonton?

Diterbitkan 06 Oktober 2014, 15:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta "We travel, initially, to lose ourselves; and we travel, next, to find ourselves." ---Pico Iyer, Why We Travel--

 

Film ini, Haji Backpacker, rasanya sih salah satu film kita yang paling ambisius. Tengok saja posternya. Di bawah judulnya ada tagline, "9 Negara, Satu Tujuan." Kemudian dideretkan apa saja negara-negara yang ada di film ini: Indonesia, Thailand, Vietnam, China, India, Tibet, Nepal, Iran, dan Saudi Arabia.

Promosi mencantumkan nama negara di poster bukan hal baru. Anda mungkin ingat, saat novel Habiburrahman Al Shirazy Ketika Cinta Bertasbih difilmkan (bagian satu rilis 2010), di posternya ada gambar piramida dan tulisan "Asli Mesir".

Sebelum membahas filmnya, menarik untuk menelisik bagaimana sebuah film macam Haji Backpacker lahir.

Yang pertama terlihat terang benderang adalah kebangkitan genre travel writing di ranah buku kita beberapa tahun terakhir. Jika Anda cermati, beberapa tahun terakhir ini, buku panduan wisata hadir bak cendawan di musim hujan. Buku semacam Lonely Planet tak sendirian lagi. Banyak penulis lahir dengan menulis buku panduan wisata dan belanja ke berbagai kota dan negara. Ada yang menulis panduan wisata ke Bandung, Yogyakarta, Malang, hingga Bali; ada pula yang membuat buku panduan bagaimana berwisata ke Singapura, Malaysia, Vietnam, atau Korea dan Jepang, bahkan berhaji, dengan murah meriah.

Jika ditelisik gairah buku jalan-jalan ini dimulai oleh maskapai penerbangan yang menyediakan tiket pesawat murah. Dari sini keinginan orang jalan-jalan jadi lebih mudah terwujud. Lalu, muncul buku-buku panduan wisata.

Namun demikiaan, travel writing pada akhirnya bukan lagi sebatas buku panduan wisata, ia juga menjadi kisah perjalanan penulisnya saat singgah di berbagai tempat. Dari sub-genre yang ini kemudian lahirlah buku-buku kisah perjalanan fenomenal macam seri The Naked Traveler-nya Trinity, wisata belanja ala Miss Jinjing, hingga kisah-kisah perjalanan Agustinus Wibowo ke negeri-negeri eksotik di Asia Tengah (Garis Batas).

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Asal-usul Kisah Perjalanan Kalau hendak dicari pangkal muasalnya, kisah perjalanan bahkan sudah lahir jauh sebelum Marco Polo menuliskan catatan perjalanannya menelusuri Jalur Sutra dari Italia ke Tiongkok pada abad ke-13 maupun Ibnu Batutah menjelajahi dunia Islam hingga ke Samudera Pasai di abad ke-14. Kisah perjalanan adalah cerita tertua tentang manusia. Bahkan sejak nenek moyang manusia lahir di Bumi, perjalanan menjadi bagian tak terpisahkan. Yang sedikit belajar tentang evolusi manusia, tentu mafhum nenek moyang kita muncul di Afrika dan kemudian menyebar ke penjuru Bumi dengan ya itu tadi, melakukan perjalanan. Kisah-kisah masyhur dari peradaban manusia paling awal pun sejatinya adalah cerita perjalanan. Kisah Gilgamesh, juga kisah Odyssey dari Homer, hakikatnya adalah narasi perjalanan: seorang tokoh harus menempuh sebuah perjalanan panjang dan penuh rintangan, untuk menemukan bahagia. Kisah Hercules menunaikan dua belas tugas besarnya, juga adalah sebuah narasi perjalanan. Si tokoh harus berjalan dari satu tempat, dan berakhir di tempat yang dituju. Pun epos Mahabharata dari India, adalah juga berisi antara lain berbagai kisah perjalanan di dalamnya (misalnya, saat Pandawa diasingkan ke hutan). `Road Movie` Rasa Indonesia Terkait film, cerita perjalanan adalah sub-genre tersendiri dengan nama road movie. Dalam sinema kontemporer kita pasca 2000, sudah lahir beberapa road movie semisal Banyu Biru (2005), Tiga Hari untuk Selamanya (2008), hingga Rayya, Cahaya di Atas Cahaya (2012). Hanya saja, `Haji Backpacker` ini tampaknya lahir dari kegandrungan kita saat ini, membaca buku-buku catatan perjalanan. Boleh dikata, lewat film ini, apa yang sudah ditulis Agustinus Wibowo dan kawan-kawan, untuk pertama kalinya diterjemahkan ke dalam bahasa visual bernama film panjang. Di sini kemudian antara buku dan film menemukan perbedaannya yang esensial. Sebuah buku catatan perjalanan bisa meliuk-liuk menceritakan panjang lebar tentang sebuah kota atau negara beserta penduduknya. Film nyaris tak punya keistimewaan seperti itu. Film panjang yang merentang selama waktu pertunjukan dua hingga tiga jam harus punya benang merah cerita, plot atau alur kisah, konflik, maupun tokoh-tokohnya.  

Halaman
Show All
Ade Irwansyah, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan