Melihat Brunei Lewat `Yasmine`

`Yasmine` adalah sebuah tontonan yang asyik. `Yasmine` adalah film penting bagi jiran kita, Brunei.

Diterbitkan 27 Agustus 2014, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Jangan menilai buku dari sampulnya. Ungkapan itu terasa pas untuk buku. Namun, tak terlalu pas untuk film. Ketika datang ke bioskop, yang orang lihat pertama kali adalah poster film.

Lantas, apa yang terlintas di benak Anda saat pertama kali melihat poster film Yasmine? Dan lebih elok mana dengan poster filmnya untuk edar di negeri asalnya, Brunei Darussalam dan internasional?   

Jika masyarakat kita tak memilih menonton `Yasmine`, kesalahan pertama mungkin harus dialamatkan pada posternya yang tak elok dipandang dibanding poster-poster film musim panas Hollywood.

Padahal menonton `Yasmine` di bioskop adalah sebuah keistimewaan. Di luar posternya yang terasa seperti FTV di layar lebar, `Yasmine` adalah sebuah tontonan yang asyik. `Yasmine` adalah film penting bagi jiran kita, Brunei. Dan menjadi saksi sebuah film penting adalah kesempatan langka yang tak sepatutnya dilewatkan.

Sebelum bicarakan filmnya, mari kita berbincang dahulu tentang Brunei. Meski berbagi satu pulau dengan wilayah Kalimantan, Indonesia, kebanyakan dari kita masih kurang akrab dengan negeri Brunei Darussalam.

Keterangan foto: Poster film Yasmine di bioskop Indonesia.

Apa yang kita tahu soal negeri itu masih serba sedikit. Kita hanya tahu Brunei adalah negeri yang kaya minyak; penduduknya kaya raya karena setiap jengkal kebutuhan hidupnya dipenuhi negara; dan penguasanya, keluarga sultan, kerap menggelar pesta super mewah dengan mengundang penyanyi kelas dunia semisal Michael Jackson.

Hubungan kita dengan Brunei tidak seperti dengan jiran yang lain. Dengan Malaysia, misalnya, hubungan kita dipenuhi cerita benci dan cinta. Kita menyukai Siti Nurhaliza dan Upin-Ipin tapi membenci Malaysia setengah mati.

Nah, perasaan semacam itu tak kita rasakan pada Brunei. Negeri yang diperintah Sultan Hasanal Bolkiah ini bagi kita adalah sebuah negeri utopis bak surga, sebuah perwujudan masyarakat adil dan makmur yang kita cita-citakan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Bila Malaysia adalah negeri yang membuat kita iri, Brunei adalah negeri impian. Karenanya sulit bagi kita membenci Brunei. Keterangan foto: Poster film Yasmine di Brunei (kiri) dan internasional (kanan).  *** Yang menjadi pertanyaan, sejauh mana kita sesungguhnya mengenal Brunei? Sebagai jiran, kita tampaknya bukan tetangga yang baik. Kita lebih mengenal Amerika yang jaraknya ribuan kilometer ketimbang Brunei yang berbagi pulau dengan kita. Coba, tahukah kebanyakan dari kita dengan sastrawan Brunei, penyanyi Brunei, atau aktor dan aktris pujaan dari Brunei? Sejak tahun 1950-an, kita mengenal aktor dan penyanyi P. Ramlee dari Malaysia. Beranjak ke Amy Search dengan lagu Isabella di akhir 1980-an, lalu Iklim, lalu Sheila Madjid, hingga Siti Nurhaliza. Namun, tidak ada artis dari Brunei yang kita kenal. Ada dua faktor penyebab hal itu terjadi. Pertama, pada hakikatnya memang tak ada ikon budaya pop dari Brunei yang cukup terkenal hingga ke negeri jirannya. Dan kedua, industri yang melahirkan ikon budaya pop (seperti TV, musik, dan film) tak cukup berkembang hingga tak bisa bergaung ke luar wilayah Brunei. Kita pun patut bertanya-tanya, masyarakat seperti apa yang pada gilirannya tak pernah menghasilkan ikon budaya pop yang terkenal hingga ke negara tetangga? Patut diketahui, film ini, Yasmine yang masih tayang di sejumlah bioskop Tanah Air, adalah film panjang pertama yang diproduksi Brunei. Sungguh mencengangkan bahwa negeri yang kaya raya itu tak memiliki industri film dalam negeri. Bioskop ada. Tapi hanya memutar film Hollywood dan Malaysia. Belum ada anak negeri yang membuat film panjang untuk tayang di bioskop negeri sendiri. Sampai sekarang... Selanjutnya>>

Halaman
Show All
Ade Irwansyah, Meiristica NurulTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan