10 Film Monster Paling Asyik (Bagian 2: 5-1)

Film-film monster pilihan kami berdasar mutu filmnya dari berbagai ulasan kritikus film. Bagoian kedua hari ini kami hadirkan urutan 5-1.

Diterbitkan 20 Mei 2014, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

 

King Kong

3. King Kong (sutr. Merian C. Cooper dan Ernest B. Schoedsack, 1933)

Pada 1991, film "King Kong" pertama yang rilis tahun 1933 didaftarkan untuk dilestarikan sebagai cagar budaya Amerika Serikat dengan alasan filmnya "secara kultural, sejarah, dan sebagai pencapaian karya seni sangat penting." Ya, "King Kong" dianggap sebagai nenek moyang dari film-film monster. Efek khususnya tentu saja sudah ketinggalan zaman bila dilihat sekarang, tapi film ini menjadi peletak bagi film-film yang mengandalkan sajian visual macam begitu. Kisahnya meminjam tema "Beauty and the Beast". Gorila raksasa Kong yang kesepian jatuh hati pada wanita cantik. Namun dunia tak bisa menerima kehadiarannya. Ia tewas, jatuh ditembak dari puncak sebuah gedung. Dari situ kita lantas mendengar ucapan yang terus dikenang dari filmnya: "Oh, no, it wasn't the airplanes. It was Beauty killed the Beast."

Godzilla

2. Godzilla (sutr. Ishirō Honda, 1954)

Dalam bahasa Jepang, monster ini disebut "Gojira" yang diambil dari gabungan kata "gorilla" dan "ikan paus" dalam bahasa Jepang. Meski monster itu akhirnya tak mirip gabungan gorilla dan ikan paus, sineasnya memutuskan tetap memakai "Gojira" karena menyukai nama itu. Hingga kini Godzilla pertama dianggap yang terbaik dari semua film Godzilla yang pernah dibuat. Efek khususnya tentu kalah dari yang versi baru. Namun, ditonton sekarang pun filmnya tetap asyik. Apalagi bila Anda sadar Godzilla dibuat tak sampai sepuluh tahun setelah Jepang menjadi korban bom atom. Sang monster adalah metafora bom atom yang meluluhlantakkan kota dan membinasakan penduduknya. Film ini juga jadi kritik pada bahaya senjata nuklir bagi kemanusiaan.

 

Monsters, Inc.

1. Monsters, Inc. (sutr. Pete Docter, David Silverman, dan Lee Unkrich, 2001)

Ya, film monster paling asyik ditonton menurut kami bukanlah tentang monster mengamuk, melainkan monster yang bikin tertawa riang. Film ini membayangkan sebuah dunia lain di luar dunia kita di mana teriakan anak-anak ketakutan bisa menjadi sumber energi dan menjadi tugas para monster untuk datang ke kamar anak-anak membuat mereka ketakutan. Di sini kita bertemu Sulley (suaranya diisi John Goodman), monster biru berbulu lebat yang terlihat nyata sampai-sanpai kita ingin membelainya. Konon, Pixar memproses 2.320.413 helai bulu untuk mewujudkan sang monster. Namun, seperti film Pixar lainnya, kecanggihan visual bukan jadi jualan utama. Kita pertama-tama memang jatuh cinta pada karakternya. Sulley menemukan anak kecil bisa jadi menyenangkan dan bukannya untuk ditakut-takuti. Total Film menyebutnya, "from scaring to caring." Lewat film ini pula pesan untuk mencari energi alternatif disampaikan dengan amat baik: Kaum monster berhasil memecahkan masalah energi dengan cara beradab, bukan dengan menakuti anak-anak, tapi membuat mereka tertawa bahagia.

(Ade)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ade Irwansyah, Rommy RamadhanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan