Idris Sardi Jago Biola yang Jadi Mahasiswa di Usia 10 Tahun

Dalam belajar musik, Idris hanya boleh main musik klasik dengan metode klasik pula. Ia dilarang ayahnya untuk mencoba musik lain.

Diterbitkan 28 April 2014, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan


http://cdn1.production.liputan6.static6.com/medias/669428/big/Idris+Sardi2.jpg?t=367450062

Nikolai adalah seorang musikus Rusia. Ia mantan pemain cello pada Orkes Philharmonic Tsar (Rusia). Sebagai pimpinan Sekolah Musik di Yogyakarta, Nikolai terkenal sangat ketat dalam melakukan seleksi kepada anak-anak yang akan diangkat jadi muridnya. Ketika melakukan tes terhadap Idris, ia memastikan bahwa kemampuan Idris bermain biola di atas rata-rata anak seusianya. Ia langsung menerima Idris dengan gembira.

Selanjutnya, perjalanan Idris menimba ilmu musik di Yogyakarta membentang dari tahun 1949 sampai 1953. Pada masa itu ia harus berpisah dengan keluarganya, terutama dengan adik-adiknya. Selama belajar musik, ia juga berkesempatan tampil di RRI Yogyakarta dalam siaran langsung setiap Minggu Pagi dengan repertoar musik klasik.

Pada jam-jam tertentu ia juga memanfaatkan waktu dengan mengisinya secara normal, seperti anak-anak remaja lain. Terkadang ia bermain kelereng, catur, jalan-jalan ke alun-alun, makan martabak, atau sesekali ke bioskop kalau ada film perang, cowboy, atau sejarah.

Namun secara keseluruhan, Idris tak menyia-nyiakan waktu belajar musiknya selama di Yogyakarta. Didikan dan tempaan bermusik itu ternyata tidak sia-sia. Idris semakin piawai menggesek biola. Namanya semakin dikenal. Tak heran bila pada 1951, Idris yang masih bercelana pendek, telah diangkat sebagai solist concertmaster pada Orkes Sekolah Musik di Yogyakarta. Di Orkes tersebut Idris bersanding dengan Suyono. Rata-rata siswa Sekolah Musik yang ada di orkes tersebut berusia di atas 20 tahun.
http://cdn0.production.liputan6.static6.com/medias/669430/big/Idris+2.jpg?t=16944195
Pada 1953, ketika Idris Sardi berusia 15 tahun, sang ayah meninggal dunia. Idris pun harus kembali ke Jakarta. Di Jakarta, ia mengikuti audisi menjadi anggota Orkes Studio Djakarta (OSD) pimpinan Saiful Bachri. Pada masa itu OSD mampu memainkan berbagai repertoar, mulai dari lagu klasik sampai lagu Melayu, kroncong, Minang, Sunda dan Barat. Di kelompok musik ini Idris diterima dan bahkan mendapat posisi tinggi sebagai concertmaster. Padahal masa itu sehari-hari Idris masih mengenakan celana pendek.

"Akhirnya semua memang bisa berjalan. Bermodal jari-jari tangan serta pengetahuan musik, bekal dari Bapak semasa hidup dan juga guru-guru, saya sanggup menghadapi tantangan hidup sejak usia mudia. Itu anugerah besar. Saya sangat bersyukur," kata Idris.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Aditia SaputraTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan