Melonjak Tajam, TINS Kantongi Laba Rp 1,5 Triliun di Awal 2026

Laba PT Timah Tbk (TINS) melonjak menjadi Rp 1,5 triliun pada kuartal I 2026, melampaui target berkat kenaikan harga.

Diterbitkan 03 Mei 2026, 08:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Timah Tbk (TINS) mencatat lonjakan kinerja keuangan yang signifikan pada kuartal I 2026. Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp1,5 triliun, melampaui target yang ditetapkan sebesar Rp252 miliar atau setara 595%.

Kinerja laba tersebut ditopang oleh kenaikan harga timah global serta peningkatan volume produksi dan penjualan. Sepanjang periode Januari–Maret 2026, TINS mencatat pendapatan sebesar Rp5,47 triliun, melonjak 160,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,10 triliun.

Selain itu, laba usaha juga meningkat tajam menjadi Rp1,88 triliun dari sebelumnya Rp0,15 triliun. EBITDA tercatat sebesar Rp2,1 triliun, atau naik lebih dari 450% secara tahunan.

Direktur Utama TINS, Restu Widiyantoro, menegaskan capaian ini mencerminkan keberhasilan strategi efisiensi dan optimalisasi bisnis.

“Pada kuartal I 2026, Perseroan membukukan kinerja keuangan yang solid… Sehingga Perseroan berhasil melampaui target laba yang telah ditetapkan,” ujarnya dikutip dari laman perusahaan, Minggu (3/5/2026).

Kinerja positif TINS juga didukung oleh tren kenaikan harga timah global. Rata-rata harga timah di London Metal Exchange (LME) mencapai USD48.679 per metrik ton, naik 34,7% dibandingkan tahun sebelumnya.

Permintaan timah juga menunjukkan perbaikan, terutama dari sektor solder yang menopang sekitar 50% konsumsi global. Segmen ini terkait erat dengan industri semikonduktor dan elektronik yang terus berkembang.

Tren jangka panjang seperti perkembangan kecerdasan buatan (AI), ekspansi pusat data, hingga investasi infrastruktur listrik turut menjadi pendorong permintaan timah.

Meski demikian, pasar masih diwarnai volatilitas akibat peningkatan stok global dan ketidakpastian geopolitik yang memengaruhi rantai pasok serta biaya produksi.

 

Produksi dan Penjualan Melonjak, Ekspor Dominasi Pasar

Dari sisi operasional, produksi bijih timah TINS mencapai 6.312 ton Sn atau naik 96% dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi logam timah juga meningkat 82% menjadi 5.630 metrik ton.

Sementara itu, volume penjualan logam timah melonjak 113% menjadi 6.009 metrik ton. Harga jual rata-rata juga naik 51% menjadi USD49.221 per metrik ton.

Penjualan TINS masih didominasi pasar ekspor sebesar 97%, dengan tujuan utama antara lain China, India, Korea Selatan, Italia, Singapura, dan Belanda.

Kinerja ini turut memperkuat posisi keuangan perusahaan. Total aset meningkat menjadi Rp15,23 triliun, sementara ekuitas naik 18,4% menjadi Rp9,96 triliun.

Dengan kinerja laba yang kuat serta peningkatan produksi dan ekspor, TINS optimistis dapat menjaga momentum pertumbuhan di tengah dinamika industri tambang global.