Semarop Agung Beli Saham SMRA Rp 9,5 Miliar, Kepemilikan Naik jadi 36%

PT Semarop Agung membeli saham PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) atau saham SMRA di kisaran Rp 324-Rp 369 per saham.

Diterbitkan 09 April 2026, 12:39 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Semarop Agung selaku pengendali PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) tercatat mengakumulasi sebanyak 27.955.700 saham SMRA melalui 18 kali transaksi yang berlangsung sejak 2 Maret hingga 7 April 2026.

Dari rangkaian pembelian tersebut, total dana yang digelontorkan mencapai sekitar Rp 9,54 miliar dengan kisaran harga pembelian antara Rp 324 hingga Rp 369 per saham.

Mengutip keterbukaan informasi BEI, Kamis (9/4/2026) berdasarkan data transaksi, jumlah saham yang dimiliki PT Semarop Agung meningkat dari 5.914.804.916 unit menjadi 5.942.760.616 unit. Seiring dengan itu, hak suara juga naik dari 35,83% menjadi 36,00%.

Pembelian saham dimulai sejak 2 Maret hingga 7 April 2026. Pada awal periode, tepatnya 2 Maret 2026, pembelian dilakukan sebanyak 1.300.000 saham di harga Rp 369 per saham.

Selanjutnya, pada 3 Maret 2026 dibeli 814.700 saham di harga Rp 367, diikuti 4 Maret sebanyak 3.385.300 saham pada harga Rp 360, serta 5 Maret sebesar 2.000.000 saham di harga Rp 358. Tren akumulasi berlanjut pada 6 Maret dengan 1.000.000 saham di harga Rp 350.

Memasuki pekan berikutnya, pembelian terjadi pada 9 Maret sebanyak 2.000.000 saham di harga Rp 337, kemudian 10 Maret 1.000.000 saham di harga Rp 337, 11 Maret 1.200.000 saham di harga Rp 343, 12 Maret 1.863.700 saham di harga Rp 339, serta 13 Maret sebanyak 1.736.300 saham di harga Rp 332.

Berlanjut Hingga Awal April

Aksi akumulasi terus berlanjut pada 16 Maret 2026 dengan pembelian 2.000.000 saham di harga Rp 328. Setelah jeda beberapa hari, pembelian kembali dilakukan pada 25 Maret sebanyak 1.000.000 saham di harga Rp 337 dan 26 Maret 1.200.000 saham di harga Rp 337.

Pada 27 Maret, PT Semarop Agung membeli 2.500.000 saham di harga Rp 332, disusul 30 Maret sebanyak 1.500.000 saham di harga Rp 326. Memasuki April, pembelian terjadi pada 1 April sebesar 1.500.000 saham di harga Rp 331. Aksi terakhir tercatat pada 6 April 2026 dengan pembelian 618.800 saham di harga Rp 326 dan 7 April sebanyak 1.336.900 saham di harga Rp 324.

 

Kinerja 2025

Sebelumnya, PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) mencatat kinerja keuangan lesu pada 2025. Perseroan mencatat penurunan pendapatan dan laba sepanjang 2025.

Mengutip laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Selasa (17/3/2026), pendapatan Summarecon Agung turun 17,47% menjadi Rp 8,76 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 10,62 triliun. Beban pokok penjualan dan beban langsung susut 15,3% menjadi Rp 4,36 triliun pada 2025 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 5,16 triliun.

Laba kotor perseroan terpangkas 19,4% menjadi Rp 4,39 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 5,46 triliun.

Beban penjualan naik menjadi Rp 570,15 miliar pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 513,65 miliar. Beban umum dan administrasi bertambah menjadi Rp 1,25 triliun pada 2025 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 1,17 triliun. Perseroan juga meraih keuntungan pelepasan investasi sebesar Rp 60,86 miliar pada 2025 dari sebelumnya tidak ada. Selain itu, penghasilan operasi bertambah menajdi Rp 17,44 miliar pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 17,33 miliar dan beban operasi lain naik menjadi Rp 72,16 miliar dari 2024 sebesar Rp 60,50 miliar.

 

Aset Perseroan

Seiring hal itu, laba usaha perseroan terpangkas 30,6% menjadi Rp 2,58 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 3,73 triliun.

Seiring hal tersebut, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk merosot 44,18% menjadi Rp 1,20 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 1,84 triliun.  Perseroan mencatat laba per saham dasar yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk merosot menjadi Rp 46,43 pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 83,19.

Ekuitas perseroan naik 15,7% menjadi Rp 16 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 13,83 triliun. Liabilias bertambah 13,37% dari Rp 6,81 triliun pada 2024 menjadi Rp 7,34 triliun pada 2025. Aset perseroan naik 14,3% menjadi Rp 38,34 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 33,53 triliun. Perseroan kantongi kas dan setara Rp 3,37 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 3,29 triliun.