IHSG Sepekan Anjlok 7,89%, Ini Penyebabnya

Sejumlah sentimen membayangi laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan saham 2-6 Maret 2026.

Diterbitkan 07 Maret 2026, 10:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok pada perdagangan saham 2-6 Maret 2026. IHSG sepekan tersungkur didorong sejumlah sentimen dari internal dan eksternal terutama ketegangan konflik di Timur Tengah.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu (7/3/2026), IHSG sepekan tersungkur 7,89% sehingga ditutup ke level 7.585,68. Koreksi IHSG ini lebih besar dibandingkan pekan lalu. IHSG turun 0,44% menjadi 8.235,48 pada pekan lalu. Kapitalisasi pasar turun 7,85% menjadi Rp 13.627 triliun dari Rp 14.787 triliun pada pekan lalu.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG merosot 7,89% selama sepekan didorong sejumlah faktor. Pertama, eskalasi konflik Timur Tengah dan kecenderungannya meluas. Kedua, ditutupnya Selat Hormuz oleh Iran sehingga mengakibatkan suplasi menipis dan harga minyak mentah menguat.

"Ketiga ada downgrade untuk outlook Indoensai dari lembaga pemeringkat asing,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.

Sementara itu, rata-rata frekuensi harian BEI merosot 7,33% sebesar 2,73 juta kali transaksi dari 2,95 juta kali transaksi pada penutupan pekan lalu. Rata-rata nilai transaksi harian BEI anjlok 16,64% menjadi Rp 24,97 triliun dari Rp 29,95 triliun pada pekan lalu.

Kemudian rata-rata volume transaksi harian BEI pekan ini tersungkur 17% menjadi 42,34 miliar saham dari 51,02 milair saham pada pekan lalu. Namun, investor asing mencatatkan aksi beli saham Rp 2,22 triliun pada pekan ini. Pekan lalu, investor asing beli saham Rp 4,90 triliun.

Pada pekan depan, Herditya menuturkan, IHSG masih rawan koreksi dengan level support 7.481 dan level resistance di 7.727. Selama sepekan ke depan, IHSG akan dipengaruhi sejumlah faktor. Pertama, masih seputar konflik Timur Tengah yang akan mempengaruhi pergerakan harga komoditas terutama minyak mentah dan emas. Kedua, rilsi data inflasi China dan Amerika Serikat (AS) kemudian disusul data Produk Domestik Bruto (PDB) AS dan pekerjaan AS.

“Ketiga, mendekati momentum Lebaran, di mana diperkirakan terjadi aksi profit taking dahulu,” ujar dia.

IHSG Sepekan Merosot 0,44%, Ini Penyebabnya

Sebelumnya, gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah melemah pada perdagangan saham 23-27 Februari 2026. Analis menilai, koreksi IHSG sepekan didorong sentimen global seperti tensi geopolitik di Timur Tengah.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (28/2/2026), IHSG merosot 0,44% menjadi 8.235,48. Pada pekan lalu, IHSG naik 0,7% ke posisi 8.271,76. Sementara itu, kapitalisasi pasar terpangkas 1,03% menjadi Rp 14.787 triliun dari Rp 14.941 triliun.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksano menuturkan, IHSG melemah 0,44% dan disertai dengan munculnya tekanan jual. Pergerakannya pun belum mampu menembus moving average (MA) 20 harian.

Herditya mengatakan, koreksi IHSG dipengaruhi sejumlah faktor. Pertama, meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Kedua, terkait ketidakpastian kebijakan tarif Amerika Serikat (AS). Ketiga, denga nada kedua hal tersebut meningkatkan kekhawatiran investor dan mendorong peningkatan harga emas dunia.

“Keempat, warning dari S&P perihal risiko fiskal Indonesia,” kata dia, saat dihubungi Liputan6.com.

Sementara itu, rata-rata frekuensi transaksi harian terpangkas 3,72% menjadi 2,95 juta kali transaksi dari 3,06 juta kali transaksi pada pekan lalu. Investor asing mencatat aksi beli saham Rp 4,90 triliun selama sepekan. Pada pekan lalu, investor asing beli saham Rp 2,07 triliun.

Di sisi lain, kenaikan tertinggi terjadi pada rata-rata nilai transaksi harian sebesar 25,35% menjadi Rp 29,52 triliun dari Rp 23,89 triliun pada pekan lalu. Kenaikan juga dialami oleh rata-rata volume transaksi harian BEI yakni sebesar 8,55% menjadi 51,02 miliar saham dari 47 miliar saham pada pekan lalu.

 

IHSG Pekan Lalu

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan kenaikan pada perdagangan saham 16-20 Februari 2026. IHSG sepekan dinilai dipengaruhi sentimen global dan domestik. Salah satunya reformasi pasar modal.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (21/2/2026), IHSG sepekan menguat 0,72% ke posisi 8.271,76. IHSG pekan ini melanjutkan meski tak sebesar pekan lalu. Pada pekan lalu, IHSG melompat  3,49% ke level 8.212,27.

Sementara itu, kapitalisasi pasar naik 0,35% menjadi Rp 14.941 triliun dari pekan lalu Rp 14.889 triliun. Pengamat pasar modal Reydi Octa menuturkan, pergerakan IHSG masih dibayangi sentimen global dan domestik. Dari global, menurut Reydi arah suku bunga The Federal Reserve (the Fed), tensi geopolitik, serta pergerakan harga komoditas masih jadi faktor utama.

"Dari domestik, isu reformasi pasar, free float, aliran dana asing mempengaruhi psikologi investor. Pasar saat ini masih dalam fase wait and see. Asing belum agresif masuk, tapi tekanan jual juga mulai mereda. Artinya volatilitas masih tinggi, namun fase panic selling sudah lewat,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.